KICK ANDY

Tangguh Mengubah Hidup

Sabtu, 8 April 2017 01:45 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari

MI/SUMARYANTO BRONTO

BEKERJA keras dan tidak mudah menyerah ialah prinsip yang dipegang Khoirul Muhibin dan Abdul Bar, dua perajin logo asal Desa Kaliabu, Kecamatan Salaman, Magelang.

Penampilan sederhana dengan bumbu banyolan apa adanya menjadikan diskusi berbagi kisah inspiratif semakin menarik.

Keduanya memiliki penghasilan yang tidak seberapa sebelum menemukan kegemaran mendesain logo yang kemudian diikutsertakan pada lomba-lomba bertaraf nasional dan internasional.

Khoirul Muhibin, atau biasa disapa Ibin, awalnya bekerja sebagai buruh serabutan, mulai buruh bangunan, buruh tani, hingga tukang kayu.

Pria lulusan SMP ini mulai tergerak saat mengetahui pemuda di desanya bisa mendapatkan penghasilan besar.

Pada 2013, Ibin mulai diperkenalkan dengan komputer oleh teman-temannya, cara mengoperasikannya, hingga membuat desain logo dan diikutsertakan pada kompetisi tingkat nasional dan internasional.

Ibin pun kerap menyisihkan uang hasil bekerja sebagai buruh demi membeli komputer.

Pertama kali mengikuti lomba, Ibin menjadi pemenang dan berhak membawa pulang hadiah senilai US$200.

Sementara itu, seminggu yang lalu, ia pun baru saja memenangi perlombaan dengan hadian US$350.

Total, ujar Ibin, sudah ada 30 perlombaan bertaraf internasional yang ia ikuti.

Terus belajar dijadikan sebagai landasan Abdul Bar atau biasa disapa Wodul untuk terus maju dan menularkan keahliannya dalam mendesain logo.

Wodul yang merupakan bapak dua anak ini sebelumnya berprofesi sebagai sopir bus malam.

Saat libur, Wodul biasanya akan menghampiri warnet temannya untuk bermain Facebook.

Ia diingatkan sang teman, Akip, agar menggunakan waktu belajar software menggambar.

Kepercayaannya pada saran sang teman baru muncul ketika sang istri mengatakan anaknya yang sedang belajar di SMK belum membayar uang sekolah selama tiga bulan.

Mulai saat itu, Wodul mempelajari software menggambar dan belajar autodidak membuat desain logo.

Tak ada kata terlambat untuk belajar.

Wodul pun berhasil memenangi lomba mendesain logo untuk produk otomotif.

Dengan santai, ia mengungkapkan hadiah yang didapat untuk membayar utang dan tunggakan uang sekolah.

Kini, Wodul bersama teman-temannya membentuk Komunitas Rewo-Rewo di media daring.

Pembelajaran tak sekadar cara mengoperasikan piranti lunak menggambar, tetapi juga bagaimana cara membaca filosofi warna, filosofi logo, juga mengaplikasikan makna pada desain.

Cerita unik lainnya dari kedua pria ini ialah saat menggunakan bahasa Inggris untuk komunikasi dengan penyelenggara lomba.

"Pakai Google translate ha ha ha, malah pernah saya diminta Skype tetapi karena saya enggak bisa bahas Inggris jadi dalam balasan e-mail saya katakan internet di daerah saya baru saja mengalami gangguan karena alam," tukas Wodul dilanjut tawa penonton.

Kini citra positif dipertontonkan pemuda desa tersebut.

Wodul sempat berkelakar bukti nyata dari perbaikan ekonomi terlihat dari tidak adanya debt collector yang masuk ke desa tersebut. (M-4)

Komentar