MI Muda

Sanggar Ciliwung, Sungai Sahabat Warga

Ahad, 2 April 2017 17:30 WIB Penulis: Ni Putu Trisnanda, Jurusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran

RUMAH di kawasan padat Kebun Pala, Jakarta Timur, itu istimewa bukan karena tampilannya, melainkan karena berbagai kegiatan dan harapan dari anak-anak muda yang hilir mudik beraktivitas di sana. Ada latihan musik setiap Rabu, menggunakan rebana, jimbe, gitar yang memainkan aransemen dan lirik buatan sendiri. Selain anak-anak yang bersenang-senang latihan sekaligus menghibur diri, ada relawan, anak-anak muda Komunitas Ciliwung Merdeka, yang mendampingi mereka.

Bukan cuma kegiatan bermusik yang menghidupkan rumah bernama Sanggar Ciliwung itu. Ada pula sosialisasi dan pelatihan bersama warga untuk pembuatan kampung yang manusiawi, mediasi masyarakat, hingga persiapan untuk pentas teater di Taman Ismail Marzuki.

Kendati belum seramai markas yang lama, berbagai aktivitas yang jadi wahana buat warga bertahan hidup di tengah riuhnya Jakarta itu menjadi penanda Sanggar Ciliwung tetap eksis. Sebelumnya, Sanggar Ciliwung menempati rumah bertingkat dengan batu bata merah di kawasan bantaran Sungai Ciliwung, di Jalan Bukit Duri Tanjakan, Kampung Duri, Tebet, Jakarta Selatan.

Dari rumah berukuran 8 x 7 meter dan langsung menghadap ke arah sungai Ciliwung itu, berdiri balai warga yang digunakan anak-anak kampung belajar dan bermain. Sanggar itu semula merupakan rumah singgah yang didirikan I Sandyawan Sumardi, 56, atau yang kerap dipanggil Romo Sandy.

Pada awal 2000-an ia menyewa rumah itu untuk memberdayakan anak-anak di kawasan itu dengan berbagai aktivitas. Kegiatan sukarelanya tersebut ternyata disambut baik oleh masyarakat terutama para pemuda.

Agar lebih optimal, ikhtiar memberdayakan anak-anak itu pun berujung pada pembelian tanah, juga di sana, bangunan didirikan dan dihias bersama warga. Kegiatan pun kian beraneka, rumah terbuka itu disibukkan aktivitas pendidikan, pengobatan, serta edukasi lingkungan hidup.

"Sanggar itu paket lengkap, dari latihan balet sampai diskusi juga bisa. Padahal dulunya, pada 90-an, kondisi di Bukit Duri itu mengerikan, isinya preman. Bahkan, taksi saja tidak mau masuk. Tapi untung ada pemuda yang masih peduli dan mau menggerakan Ciliwung Merdeka," ucap Sandy kepada Muda, Kamis (16/3)

Digusur normalisasi

Sayangnya, terhitung 28 September 2016, sanggar di bantaran Sungai Ciliwung tersebut harus menyatu dengan tanah. Lokasinya yang di bibir Sungai Ciliwung membuat Sanggar Ciliwung serta ratusan rumah dan ribuan kepala keluarga di sekitarnya terkena program normalisasi sungai. Alhasil, sebagian besar kegiatan belajar dan berkreasi masyarakat Bukit Duri itu dipindahkan ke daerah Kebun Pala, Jakarta.

Sebagian warga berpindah ke Rusunawa Rawa Bebek, tetapi ada pula yang bertahan dan tinggal di rumah bersama karena sumber penghidupan tak memungkinkan mereka berpindah ke permukiman baru yang terletak di belahan Jakarta Utara itu. Karena itu, sanggar di Kebun Pala pun tetap punya komunitasnya.

Rumah bersama itu dihuni 10 hingga 15 kepala keluarga, per kamar ukurannya beda-beda sesuai dengan jumlah keluarganya, menempati penampungan TKI.

Kisah tentang Sanggar Ciliwung dikelola Komunitas Ciliwung Merdeka yang mewadahi aneka kegiatan swadaya masyarakat bantaran sungai Ciliwung di Kampung Pulo dan Bukit Duri, Jakarta, pun terus berlanjut. Forum-forum yang melibatkan segala lapisan masyarakat, seperti aparat daerah, pemerintah, bahkan masyarakat kampung lain tetap diupayakan bertahan. Kini, komunitas dengan 200 anggota itu tak hanya fokus pada bidang-bidang lingkungan dan kesehatan, tetapi juga advokasi, seni budaya, ekonomi kreatif, dan tata ruang.

Peran relawan

Anggota komunitas ini beragam. Meski sebagian besar diisi pemuda dari wilayah Bukit Duri dan Kampung Pulo, banyak ahli dan praktisi yang juga ikut mengembangkan daerah ini. Selain dari Jakarta, mereka pun berasal dari Bandung, Surabaya, bahkan dari luar negeri.
Di komunitas ini, pemuda tak hanya jadi pelaksana, tetapi juga sebagai pengambil keputusan dan ikut merencanakan setiap aktivitas.

"Intinya sih kami ingin mencoba memberikan solusi tepat guna, jadi ilmu yang kami miliki kami gabungkan dengan mimpi masyarakat," ujar Theresia Ajeng Ahimsa, 24, relawan Komunitas Ciliwung Merdeka saat ditemui di Sekretariat Ciliwung Merdeka.
Ajeng yang resmi bergabung di Ciliwung Merdeka sejak 2017 mengaku banyak belajar dari kebiasaan juga pola hidup masyarakat sekitar. Ajeng yang memiliki latar belakang tata ruang juga merasa bahwa desain permukiman warga kota harus menyertakan analisis dan pemahaman pada karakter masyarakat agar didapat jalan tengah.
Hal serupa pun disampaikan relawan lainnya, Devil Rinaldo, 23. Ia berharap pembenahan Kota Jakarta melibatkan komunikasi dua arah.
"Masyarakat tidak menentang normalisasi, tetapi mengharapkan warga tidak dipindahkan," ujar Devil.

Kampung susun

Wilayah Kampung Duri, kata Devil, merupakan daerah terendah di Jakarta, sehingga akan dibuat seperti apa pun aliran sungainya, tetap terendam jika sedang hujan besar atau arus sungai sedang tinggi. Karena itu, masyarakat Bukit Duri memiliki mimpi untuk membangun kawasan yang mereka sebut kampung susun. Memanfaatkan lahan tersisa, mereka ingin membuat kampung dengan rumah-rumah panggung seperti di Minahasa.

Keuntungannya, selain drainase membaik, kebersihan terjaga, masyarakat pun bisa melanjutkan penghidupannya dalam suasana kampung yang masih terjaga. "Misalnya dari bidang seni budaya, kami sudah beberapa kali tampil di Taman Ismail Marzuki dengan segala kekurangan yang kami miliki. Kalau dipindah kan susah latihannya," ujar Sandy sedikit kesal, Kamis (16/3).

Di tengah kegelisahan-kegelisahan itu, kolaborasi antara relawan dan warga tetap berjalan. Di bidang pendidikan, Sanggar Ciliwung mengaplikasikan metode mengajar berundak. Sistem ini memudahkan masyarakat saling mengajar dan belajar. Para relawan Komunitas Ciliwung Merdeka, yang mayoritas mahasiswa, akan mengajar adik-adiknya, anak-anak SMA. Selanjutnya siswa SMA itu bergantian membimbing adik-adiknya yang masih SMP, begitu seterusnya.
"Kami sebagai anak muda ingin membantu mereka tetap bisa bertahan dan berdaya, tetapi tetap sesuai peraturan pemerintah," ujar Ajeng. (M-1)

Komentar