MI Anak

Jadi Anak yang Waspada Yuk!

Ahad, 2 April 2017 17:00 WIB Penulis:

Youtube, Facebook, dan Google, pasti Sobat Medi telah kenal atau mungkin sangat akrab dengan media sosial itu. Walau ada batasan umur dalam penggunaan media sosial dan anjuran agar kita jangan terlalu lekat, nyatanya sulit berjauhan dengan produk-produk teknologi informasi itu.

Padahal, kini gawai dan isinya itu telah memakan korban, teman-teman kita yang jadi korban penyerangan pelaku kejahatan. Menurut data Komisi Nasional Perlindungan Anak, data kekerasan pada anak yang dilaporkan pada 2016 mencapai 3.826 kasus. Begitupun pada 2017, yakni pada rentang Januari hingga Maret, sudah terjadi 127 kasus.

Medi berjumpa dengan Pak Arist Merdeka Sirait, Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak pada Rabu (29/3). Beliau menjelaskan, kejahatan pada anak-anak itu dipicu hal-hal yang buruk pula, seperti penyalahgunaan minuman keras, narkoba, tontonan yang tak pantas, serta gangguan pada keluarga. Selain itu, ada juga pengaruh dari berkurangnya pemahaman nilai-nilai agama, sosial, etika, solidaritas, serta keterbatasan ekonomi.

Pelaku bisa siapa saja

"Anak-anak perlu hati-hati ya karena pelaku penyerangan bisa siapa saja lo, termasuk yang dekat dengan kalian, baik itu di lingkungan sekolah, lingkungan sosial, hingga lingkungan rumah. Jangan ragu untuk teriak tidak dan meminta tolong jika ada seseorang yang melakukan perilaku tak pantas pada diri kalian," kata Kak Pak Seto Mulyadi, Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Indonesia yang ditemui Medi, Kamis (23/3).

Harus berani

Kak Seto yang juga geram dengan kasus ini mengungkapkan, semua anak harus berani melawan pelaku penyerangan. "Caranya, berceritalah jika kamu merasakan kegiatan tak pantas atau saat merasa tak nyaman. Lebih baik juga menceritakan kegiatan kaliah seharian itu pada orang tua."

Penegakan hukum

Jangan juga takut jika ada ancaman yang dilancarkan seseorang, dengan berbicara pada lingkungan terdekat, kamu akan segera ditolong. Apalagi, kita juga bisa meminta perlindungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) yang siap mendampingi dan membantu menyelesaikan kejahatan ini. Bahkan, terdapat beberapa fasilitas layanan bagi korban.

"Fasilitas layanan LPSK berupa fisik, rehabilitasi psikologi, dan medis, atau meningkatkan kualitas hidup," kata Abdul Haris Semendawai, Ketua LPSK.

Anak-anak Indonesia harus berani melindungi diri ya! Suryani Wandari/M-1

Komentar