Khazanah

Jejak Panjang Tionghoa Benteng

Ahad, 2 April 2017 09:30 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

Ilustrasi--MI/Tiyok

JALANAN pasar itu tidak terlalu sulit ditaklukkan, apalagi bagi kaki-kaki yang sudah akrab dengan medan pasar tradisional. Ruang selebar 1 meter persegi pun tidak menjadi soal. Terus bergerak menyusuri jalanan dengan bau khas pasar. Kala itu kawasan Pasar Lama di Tangerang masih bergeliat. Maklumlah matahari belum sampai di atas kepala.

Bau khas pasar menyeruak, campuran aroma sayur, buah, berpadu dengan keringat pedagang dan pembeli. Di depan pasar, tukang becak yang kebanyakan bermata sipit dengan kulit cokelat masih setia menunggu penumpang.

Seperti lazimnya kota, Tangerang juga kegagahan bangunan industri, mal, dan hilir mudik bus sebagai penunjang kota satelit. Namun, itu hanya dari permukaan. Bila menyelami lebih dalam, kota ini memiliki kisah sejarah masa lalu yang luar biasa. Dari daerah rebutan hingga akulturasi antara masyarakat Tionghoa dan pribumi yang kita kenal sekarang dengan sebutan China Benteng (Cibet) ataupun Hitam Tapi China (Hitaci).

Masyarakat China Benteng juga tak luput dari stigma masyarakat Tiongkok yang miskin. Menyusuri Pasar Lama, kerap kali kita akan menemukan mereka menggeluti pekerjaan sebagai tukang becak dan pedagang kelontong. Pekerjaan lain yang ditekuni ialah buruh tani, buruh pabrik, petani dan nelayan. Rata-rata mereka kelompok masyarakat Tionghoa bersuku Hokkian. Mereka diperkirakan kali pertama menjejakkan kaki di kawasan Tangerang ini pada awal abad ke-15. Mereka lalu menikah dengan gadis-gadis setempat di kawasan Tangerang hingga terbentuklah komunitas ini. Setelah sekitar beberapa meter berjalan melewati pasar, terlihat pagar cokelat dan bangunan antik berselimutkan warna merah. Kelenteng Boen Tek Bio ialah refleksi masa lalu yang megah dan terimpit di tengah keriuhan toko-toko dan lapak pedagang Pasar Lama-Tangerang.

Namun, jika ingin bertemu kelenteng dari arah berlawanan, bisa dari arah belakang pasar, tepatnya dari pinggir Sungai Cisadane. Pemandangan berbeda akan menyapa. Bangunan permukiman penduduk mungkin terlihat berbeda jika dibandingkan dengan rumah kampung ataupun kompleks. Sebab rumah-rumah kuno itu punya bentuk memanjang seperti persegi panjang. Bahkan panjangnya bisa seukuran panjang gang. Umumnya rumah-rumah itu punya bentuk atap yang mirip, yang atap genting yang berbentuk kerucut jika dilihat dari samping. Namun kedua sisinya memanjang seperti perosotan air. Lebih panjang jika dibandingkan dengan sisi atap pada rumah biasa.

Kelenteng Boen Tek Bio

Kelenteng Boen Tek Bio diperkirakan dibangun pada 1684 dan menjadi kelenteng tertua di Tangerang. Kelenteng Boen Tek Bio secara harafiah berarti tempat ibadah sastra kebajikan dan merupakan kelenteng besar bersama dengan Kelenteng Boen Hay Bio (1694) di Serpong Tangerang dan Kelenteng Boen San Bio (1689) di Pasar Baru Tangerang. Boen Tek Bio memiliki arti berkumpulnya orang-orang intelektual untuk melakukan kebajikan.

Selain Kelenteng Boen Tek Bio, masih ada yang menjadi saksi bisu sejarah dan akulturasi kebudayaan masyarakat Cina Benteng yakni Museum Benteng Heritage. Museum ini tidak jauh dari kelenteng dan sama-sama terletak di tengah pecinan Pasar Lama. Bangunan Museum Benteng Heritage dengan arsitektur Tionghoa ialah hasil restorasi bangunan rumah kuno yang diperkirakan berdiri pada abad ke-17.

Museum ini berdiri tidak lepas dari sosok Udaya Halim. Ia salah satu tokoh China Benteng yang peduli pada sejarah leluhurnya. Pada tahun 2009, Udaya Halim menyulap rumah kuno menjadi sebuah museum. Butuh proses dua tahun hingga menjadi museum ini siap.

Sebutan China Benteng bagi masyarakat peranakan Tionghoa tidak lepas dari sejarah keberadaan Benteng Makassar dan asal nama Tangerang. Asal kata nama Tangerang menurut tradisi lisan, berasal dari nama bahasa Sunda yaitu tengger dan perang. Tengger artinya tanda segala sesuatu yang didirikan dengan kukuh, yaitu tugu yang didirikan sebagai simbol batas wilayah kekuasaan kesultanan Banten dan VOC perusahaan dagang asal Belanda, sedangkan pengertian perang yang dimaksud bila kawasan ini menjadi medan perang antara kesultanan Banten dan tentara VOC. Jadi Tangerang bermakna batas perang.

Benteng VOC berdiri pada 1683 dikenal dengan nama Benteng Makassar. VOC lalu membuka hak milik bagi orang-orang yang akan membuka lahan di kawasan yang masih hutan belukar, kesempatan ini digunakan peranakan Tionghoa yang pandai bertani untuk mendiami lahan di sekitar Benteng. Dengan demikian, sebutan china Benteng melekat pada peranakan Tionghoa di Tangerang hingga saat ini. "China Benteng artinya orang tionghoa yang di sekitar benteng," terang staf harian Museum Benteng Heritage Robi Maulana.

Terdapat dua lantai di museum yang mengisahkan kehidupan masa lalu China Benteng, seperti Prasasti Tangga Djamban yang bertuliskan aksara Mandarin dan berangka 1873. Isinya menceritakan 81 orang Tionghoa yang mengumpulkan uang sebanyak 18.156 toen ringgit Belanda untuk pembangunan 30 jalan. Dari prasasti ini kita bisa melihat, di masa lalu, peranakan Tionghoa juga berkontribusi dalam pembangunan kota Tangerang. Di lantai dua, terdapat sejarah kecap Benteng dan patung dewa-dewa, sepatu perempuan berukuran kecil. Ada juga ukiran dan video pernikahan China Benteng.

Selain, museum dan Kelenteng, masih ada jejak peninggalan lain, seperti rumah burung yang menjadi saksi bagaimana burung walet sempat menjadi primadona ekonomi masyarakat Tionghoa, Masjid Jami Kalipasir dengan menara masjid berbentuk pagoda Tiongkok, serta Tangga Jamban yang menjadi landing port pertama ketika leluhur Tionghoa datang ke wilayah itu.

Masyarakat China Benteng menjadi saksi bagaimana perjalanan panjang budaya. Sebuah adaptasi dan akulturasi budaya menjadi sesuatu yang mampu melebur indah ditengah tantangan konflik dan diskriminasi. (M-2)

Komentar