Pesona

Keindahan dari Kerumitan

Ahad, 2 April 2017 05:44 WIB Penulis: Suryani Wandari

MI/RAMDANI

MOTIF abstrak dengan bentuk-bentuk geometris dan alam tampil penuh dalam busana-busana koleksi terbaru Mel Ahyar. Tampil di Plaza Indonesia Fashion Week (PIFW) 2017, Sabtu (26/3) di Jakarta, motif-motif itu hadir dalam warna-warni cerah di atas terusan-terusan selutut maupun padanan kasual seperti kulot, kemeja semi tunik, ataupun blus berkantong safari.

Pada beberapa busana, motif geometris warna-warni berpadu dengan motif garis dengan latar belakang hitam. Motif garis ini membentuk sirkuit-sirkuit rumit. Perpaduan yang diterapkan dalam bentuk blocking motif menghasilkan tampilan yang eksentrik dan juga futuristis dalam arti playful. Tampilannya makin genap dengan presentasi para model yang menggunakan baju dalam yang membungkus hingga kepala, layaknya pakaian selam.

Tajuk koleksi Fractal Gradina yang dipilih Mel Ahyar, menyuratkan pemodelan motif yang digunakan. Fractal merupakan pemodelan struktur, yaitu motif-motif yang serupa muncul dalam beragam skala yang akhirnya membentuk pola simetris. Pengulangan itu menggunakan algoritma matematika.

Fractal pun telah diakui dalam dunia matematika dan seni digital sebagai sesuatu yang rumit tapi indah dan fungsional.

"Saya menggunakan motif-motif percampuran geometris dan bentuk fractal dari alam seperti ngengat, capung, dedaunan, dan bunga," jelas Mel. Sementara itu, untuk warna, ia tak melupakan prinsip captivating through art dengan memilih warna-warna terang dan kontras.

Hadir dengan mengedepankan kualitas dan detail, kali ini bahan-bahan yang dipilih ialah bahan sutera organdi, sifon, dan duchess dengan detail bordir, manik-manik, dan batu mulia.

Kritik karya seni

Selain koleksi Mel Ahyar, panggung PIFW hari itu menampilkan koleksi label KRATon milik Auguste Soesastro dan koleksi Jeffry Tan. Auguste mengambil inspirasi dari hubungan antara model seni dan benda sehari-hari. Ia mengambil pola-pola dari interior industri seperti batu balok, pipa, dan kabel. Pola-pola itu dihadirkan dalam potongan yang clean dan elegan khas Auguste.

Desainer yang meluncurkan lini pertamanya di New York pada 2008 ini juga memiliki presentasi yang unik. Bagian mulut dan payudara para model ditutup dengan kain hitam.

Auguste mengungkapkan kain itu perlambang kritiknya terhadap sensor pakaian. Ia terinspirasi oleh fotografer internasional Ren Hang yang kontroversial karena potret tanpa busananya, ia mencoba menyuguhkan sebuah solusi.

"Kesadaran ini segera menjadi tantangan tim desain untuk mencari metode untuk menyensor pakaian dari penonton budaya dan siap potensi guncangan," kata Auguste seusai pergelaran fesyennya.

Sementara itu, Jeffry menampilkan koleksi yang bertajuk White Stories. Bekerja sama dengan Sulwhasoo, luxury skincare brand asal Korea, Jeffry mengaku menunjukkan pergelaran dalam bentuk narasi bukan koleksi, dengan perempuan berekspresi paling romantis dan terjaga dengan sekelilingnya.

Jeffry memperlihatkan kehidupan wanita dari siang ke malam dengan gaun-gaun drapery dan pola yang dekonstruktif. Ada pula busana semigaun yang dipadankan dengan celana panjang. Keseluruhan busana menampilkan kesan romantis sekaligus seksi dan elegan. (M-3)

Komentar