MI Muda

Eksis di Kampus, Bisnis, dan Organisasi

Ahad, 2 April 2017 02:12 WIB Penulis: Gregorius Gelino

Metta Ratana---Dok.Pribadi

Kuliah, wirausaha, dan aneka kegiatan, semuanya menuntut komitmen, energi, waktu, dan fokus. Metta Ratana mengerjakan semuanya dengan maksimal.

Bisnis desain ilustrasi yang dijalani Metta Ratana telah mendatangkan pendapatan rutin, bahkan perusahaan-perusahaan besar menjadi kliennya. Berbagai organisasi keagamaan di lingkup universitas maupun luar kampus, digelutinya sebagai sarana berbagi, ia beberapa kali menjabat sebagai ketua. Tak kalah istimewanya, IPK-nya pun sempurna, 4.00.

Bagaimana sih Metta bisa optimal di semua bidang? Yuk simak wawancara Muda dengan Metta.

Apa saja kegiatan kamu di luar kuliah?

Selain kuliah, aku aktif di organisasi, terus sibuk mengurusi MettaMini Design.

Merintis sejak SMA, bagaimana kamu menjaga MettaMini Design tetap eksis?

Dulu order desain senilai Rp50 ribu aku terima karena memang hobi. Aku merasa asyik mengerjakan yang disukai, apalagi dibayar. Sampai akhirnya, di kelas 3 SMA, bukan aku yang mencari klien tapi mereka yang mendatangi. Waktu itu, lingkupnya cuma Sukabumi. Sekarang selain di Jakarta, ada juga yang pesan dari Bogor, Cianjur, Surabaya, Tanjung Pinang, dan Kalimantan.

Bagaimana mekanisme kerjanya?

Bisa lewat Line atau telepon saja, biasanya mereka lihat desainku di Instagram @mettaminigallery, @mettamini dan #mettaminisite.

Langkah-langkahnya nyari konsep sama klien, sketching, brainstorming ide, digitalisasi sketch, dan akhirnya finishing dengan coloring, shadow dan gradasi.

Apa sih spesialisasi desain kamu?

Ada dua jenis, digital dan manual. Kalau yang manual itu lebih seperti ilustrasi, sementara digital lebih seperti branding dan promosi, misalnya untuk logo dan marketing tools seperti spanduk, poster, dan kartu nama. Aku juga melayani digital promotion di Instagram, untuk postingan. Khusus untuk kover buku, karyaku ada di sembilan buku yang sudah diterbitkan.

Metta Mini adalah induk perusahaannya, untuk ilustrasi, dianungi Metta Mini Gallery, sedangkan desain ditangani Metta Mini Branding and Gesign.

Dalam sebulan berapa order yang kamu dapat?

Sekitar 10, baik yang digital maupun manual. Untuk logo tarifnya Rp500 ribu sampai Rp1 juta. Sementara, untuk kover buku atau company profile, di atas Rp1 juta, sedangkan manual Rp150 ribu sampai Rp200 ribu.

Dari mana kamu belajar desain?

Autodidak, liat tutorial desain di Youtube. Kreativitas itu bukan sesuatu yang kita dapat dari lahir, mungkin kita punya talenta, tapi kreativitas bisa diasah. Caranya, melatih diri untuk peka dengan lingkungan sekitar kita. Ada satu langkah yang aku suka, bahwa kita butuh belajar untuk jadi kreatif. Banyak illustrator terkenal bilang enggak ada salahnya melihat hasil kreasi orang lain, tapi kita jangan tiru karyanya, kita bisa modifikasi karyanya jadi lebih bagus.

Kamu kan kuliah di komunikasi bukan desain, bagaimana caranya bisa eksis di bisnis ini?

Jika disepelekan orang, menurut aku, mending buktikan lewat karya dan kesuksesan, kalo cuma diomongin enggak bakal buktiin apa-apa.

Gaya ilustrasi kamu?

Bentuk gambarnya, chiby karikatur dan pasti ada pipi merahnya, itu yang dikenal orang-orang.

Nah, sekarang soal organisasi, katanya kamu eksis di berbagai kegiatan ya?

Kalau organisasi di kampus biasanya yang berbasis religi dan sosial. Di kampusku, Binus, ada Keluarga Mahasiswa Buddhist Dhammavaddhana (KMBD). Aku sempat jadi humas periode 2014-2015, tapi sekarang jadi anggota biasa. Alasannya, aku kan sudah semester tua, hehehe. Sedangkan di luar, aku aktif di Ehipassiko, penerbit buku-buku humanis, sosial, pengembangan jiwa. Di sini, jadi volunter, kalau ada aksi sosial, jadi ketua proyeknya. Selain itu, ada juga kegiatan di Sekretariat Bersama Sekretariat Bersama Muda Mudi Buddhayana Indonesia (PMVBI), waktu masih sekolah dan tinggal di Sukabumi, aku ikut di lingkup Jawa Barat, sekarang karena tinggal di Jakarta, aku bantu yang pusat.

Aku jadi koordinator biro media komunikasi, bikin program untuk semua media komunikasi se-Indonesia, seperti media sosial, mading, dan buletin. Tujuannya, kami yang di pusat bikin sesuatu dan memacu teman-teman di daerah, tapi tetap tidak melupakan nilai-nilai keagamaan ya!

Ada juga nih bidang lain, aku ikut program Beasiswa Djarum setahun dari 2015-2016. Kami ikut pelatihan nation building, character building, leadership development dan community empowerment.

Kenapa kamu juga sangat total berorganisasi?

Waktu itu aku pernah baca artikel, kalo orang itu enggak cuma harus pinter intelektual, tapi juga emosional dan spritual. Aku mengasah intelektualitas dari kuliah, emosional dari kerja, dengan melatih emosi pas ketemu klien, menghadapi deadline. Nah, kalo organisasi, kebanyakan aku ikut organisasi keagamaan, jadi bisa ngelatih spritual dan emosional. Aku juga bisa melatih soft skill aku dengan ikut itu semua.

Punya banyak kesibukan, pernah stres juga dong, bagaimana kamu mengatasinya?

Intinya, jangan menunda. Kalau kita tunda, tiba-tiba semuanya terkumpul di satu waktu, itu yang jadi masalah. Kalau kita bisa mengerjakan hari itu juga, langsung kerjakan saja. Kita juga harus ada prioritas, kerjakan yang deadline-nya cepat. Hasil dari mengimplementasikan metode itu, IPK aku 4.00. Pokoknya mumpung masih muda, belum loyo, mending lakukan. Kalau sudah tua nanti, lu bakal bersyukur punya pengalaman di masa muda. Kalau misalnya enggak ngapa-ngapain, nanti nyesel. Nah penyesalan selalu datang di akhir, kalau di awal itu namanya pendaftaran. Do something today that your future self will thank you for.

Bagi-bagi dong kiat kamu membagi waktu antara bisnis, kuliah, dan organisasi?

Apa yang diprioritaskan hari ini menentukan kita di masa depan. Menurutku ketiganya penting dan merupakan prioritasku. Kalau pagi sampai siang aku prioritaskan kuliah, siang sampai sore aku mengurus organisasi, dan malamnya baru aku urus pekerjaanku.

Pasti selalu ada waktu kalau kita mau meluangkan waktu, kalau kita memang enggak mau meluangkan waktu, kita pasti selalu bisa mencari alasan. Yang terpenting fokus, kalau lagi kuliah fokus dengan kuliah, jangan fokus dengan kerjaan atau organisasi. Gitu sih.

Anak muda kan banyak distorsinya, gaul, dan berbagai kegiatan lain yang dianggap penting agar bisa selalu kekinian?

Distorsi itu kan asalnya ada dua, dari dalam diri dan luar. Kalau dari dalam itu, capek, males, atau enggak ada ide. Kalo dari dalam, aku mengatasinnya dengan nanyain ke diri sendiri, kenapa sih harus ngelakuin ini, apa manfaatnya. Ngeboost semangat lah.

Kalo distorsi dari luar, misalnya temen ngajak main, memang ada saatnya kita main.

Apa tanggapan sekelilingmu terhadap kesibukan dan pencapaian kamu?

Mereka memberikan apresiasi dan dorongan, tapi kalau aku ngeliat diriku sendiri, aku masih belum merasa jadi apa-apa. Inget pepatah, di atas langit masih ada langit. Aku merasa masih ada di bumi malah, belum sampe langit.

Apa agenda kamu di masa depan?

Sekarang sih mikirnya masih mau desain. Do what you love and love what you do. Ada waktu 20-65 tahun untuk kita berkarya, kalau kita mengerjakan sesuatu yang enggak kita sukai, kita membuang setengah dari waktu hidup kita untuk menderita. (M-1)

Gregorius Gelino, Universitas Bina Nusantara

Komentar