BIDASAN BAHASA

Lengser

Ahad, 2 April 2017 08:00 WIB Penulis: Henry Bachtiar

Presiden Korea Selatan Park Geun-hye---AP/Ahn Young-joon

DALAM beberapa artikel penulis menemukan kata lengser sehubungan dengan posisi kepala negara yang tidak lagi menjabat. Namun, ada yang terasa mengganjal ketika diksi lengser terasa pas ketika dipakai pada satu kalimat, tetapi agak ganjil dalam kalimat yang lain. Dalam kaitan tersebut, penulis menyertakan dua contoh kalimat yang memuat kata lengser sebagai perbandingan.

Pertama, Barack Obama akan segera lengser dari jabatannya sebagai presiden Amerika Serikat. Kedua, Presiden Park Geun-hye lengser, rakyat Korea Selatan gembira.

Diksi lengser yang dipakai dalam dua kalimat itu menyentil penulis untuk kembali mencari-cari makna lengser dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Ada tiga pengertian mengenai kata lengser dalam KBBI. Ketiganya masuk kelas kata verba. Pertama, lengser berati 'turun dari jabatan'. Contoh dalam kalimat, Presiden lengser setelah mendapat tekanan dari berbagai pihak.

Kata lengser yang kedua berarti 'menggelincir ke bawah atau ke sisi'. Contoh, Matahari telah lengser. Kata lengser yang ketiga berarti 'mengoles (dengan); menyapukan sesuatu pada'. Contoh, Lengser daun pisang dengan minyak supaya kue bugis yang dibungkus tidak lekat pada daun.

Kata lengser terkait dengan kepala negara tadi memiliki arti 'turun dari jabatan'. Namun, menurut penulis, diksi lengser lebih tepat pada contoh kalimat kedua. Park lengser karena dimakzulkan. Kata lengser itu memang tepat karena yang bersangkutan seharusnya masih menjabat presiden Korsel. Namun, lantaran alasan tertentu, ia lengser.

Untuk contoh kalimat pertama, ketimbang kata lengser, istilah tidak lagi menjabat terasa lebih pas. Obama sudah menyelesaikan tugasnya sebagai presiden AS. Ia tidak lengser karena sebab tertentu.

Menurut penulis, kata lengser mengalami peyorasi, yakni penurunan makna bahwa seseorang lengser karena dimakzulkan atau tekanan dari berbagai pihak.

Dalam KBBI juga ada ungkapan Jawa: lengser keprabon 'meninggalkan kursi kekuasaan; turun dari jabatan'. Contoh kalimat, Setelah lama berkuasa, pemimpin negara tersebut memutuskan untuk lengser keprabon. Ungkapan dalam kalimat itu bermakna baik atau positif.

Seorang pemimpin lengser keprabon karena telah selesai dengan segala tugas dan tanggung jawabnya. Ia sudah purnabakti. Ia tidak lagi menjadi pemimpin atas keputusannya sendiri, bukan karena pemakzulan atau tekanan massa. Keprabon atau kaprabon, menurut Bausastra Jawa, Poerwadarminta 1939, berarti 'jubah atau pakaian raja, jabatan atau takhta raja'. Seorang raja atau pemimpin lengser keprabon atas keinginan sendiri karena merasa sudah saatnya.

Dengan konteks saat ini, ungkapan lengser dan lengser keprabon sangat berbeda. Penulis berpendapat pemimpin yang lengser lebih mengacu kepada seseorang yang dimakzulkan, dipecat, atau diturunkan dari jabatannya sebelum purnatugas lantaran sebab-sebab tertentu.

Sementara itu, ungkapan lengser keprabon mengacu kepada seseorang yang merasa sudah purnatugas sehingga ia bisa disebut negarawan: disayang dan dikenang rakyatnya.

Soal jabatan Presiden Barack Obama, penulis pun merasa ungkapan 'tidak lagi menjabat presiden' atau 'turun dari jabatan presiden' terasa lebih pas ketimbang 'lengser dari jabatan presiden'.

Komentar