Travelista

Berkah Berganda Air Terjun

Ahad, 2 April 2017 05:00 WIB Penulis: (M-1)

MI/LILIEK DHARMAWAN

KONTRIBUSI komodifi kasi alam pada kehidupan warga ternyata berdampak positif pada lingkungan. Pembukaan objek wisata alam Curug Jenggala menjadikan masyarakat Dusun Kalipagu semakin sadar untuk menjaga lingkungan. “Wisata alam itu kan syaratnya harus menjaga alam dan lingkungan. Bayangkan saja, kalau lingkungan rusak, tidak mungkin air terjun mengalir. Pepohonan yang masih tegak dan rimbun serta lingkungan yang baik menjadikan Curug Jenggala terus mengalirkan air yang jernih, air khas pegunungan,” kata Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Gempita Purnomo. Tidak ada pilihan lain kecuali menjaga lingkungan di lereng Gunung Slamet khususnya bagian selatan yang menjadi hulu. “Yang dilakukan warga Kalipagu khususnya anggota LMDH Gempita selaku pengelola Curug Jenggala ialah menjaga hutan agar tetap lestari. Karena hanya dengan cara itu, Curug Jenggala masih akan tetap ada. Tanpa menjaga lingkungan tetap lestari, maka dapat dipastikan air terjun tersebut akan mati dengan sendirinya,” tandas Purnomo.

Bagi Purnomo dan LMDH Gempita, mengelola objek wisata Curug Jenggala terbukti menyejahterakan rakyat Dusun Kalipagu. Bahkan, tidak hanya pengelola yang memperoleh pendapatan, tetapi juga warga sekitar. “Warga ada yang menyediakan halaman rumahnya untuk tempat parkir kendaraan, baik roda dua maupun empat, sedangkan penduduk lainnya ada yang menjadi tukang ojek,” jelas Purnomo. Salah seorang warga yang kini menjadi tukang ojek, Kusno, 29, mengungkapkan sebelum wisata Curug Jenggala digarap, dirinya kerja serabutan, sebagai buruh bangunan dan kerja di sawah. “Tetapi setelah ada Curug Jenggala, maka saya lebih memilih untuk menjadi tukang ojek.

Karena penghasilannya lebih pasti jika dibandingkan dengan buruh serabutan,” ujar Kusno. Ia mengungkapkan kalau tukang ojek yang mengantarkan para wisawatan kini berjumlah 14 orang. Semuanya ialah warga Dusun Kalipagu. “Tentu saja dengan menjadi tukang ojek, maka ada pendapatan yang diperoleh. Kalau akhir pekan atau hari libur, kami dapat memperoleh hingga Rp100 ribu bahkan lebih, sedangkan harihari biasanya kisaran Rp30 ribu hingga Rp40 ribu. Lumayanlah untuk pendapatan warga desa,” katanya.

Sumber penghidupan baru
Penduduk lainnya juga ada yang membuka warung di sepanjang jalan dari tempat parkir menuju Curug Jenggala yang jaraknya 2 km tersebut. Mereka menjajakan berbagai makanan kecil dan minuman. “Rata-rata mereka menjual makanan kecil berupa gorengan dan kue lainnya serta minuman seperti kopi, teh, dan air mineral. Kalau hari libur atau akhir pekan, penghasilannya bisa mencapai Rp150 ribu. Jika hari biasanya paling Rp50 ribu. Bagi kami, para ibu yang sebelumnya hanya sebagai ibu rumah tangga, saat sekarang mampu menambah uang belanja sehari-hari,” kata Tinah, 39, salah seorang pedagang di sekitar Curug Jenggala.

Agaknya, LMDH Gempita sebagai pengelola Curug Jenggala tak hanya akan terus bergantung pada wisata alam tersebut. Memang, saat sekarang Curug Jenggala menjadi magnet wisatawan, tetapi ke depan masih ada beberapa destinasi yang bakal dikembangkan, di antaranya perbukitan untuk melihat matahari terbit dan tenggelam. Tidak terlalu lama lagi. (M-1)

Komentar