Travelista

Ada Cinta di Curug Jenggala

Ahad, 2 April 2017 04:29 WIB Penulis: LILIEK DHARMAWAN liliek@mediaindonesia.com

MI/LILIEK DHARMAWAN

KERINGAT mengucur deras ketika saya sampai di lokasi air terjun Jenggala atau biasa disebut Curug Jenggala di Dusun Kalipagu, Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah. Peluh yang bercucur karena saya mesti berjalan sepanjang 2 kilometer (km) melewati jalan setapak itu mulai berkurang dan tergantikan cipratan titik-titik air, begitu sampai di air terjun. Hawa sejuk di Curug Jenggala yang memiliki ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl) semakin terasa setelah 10 menit duduk menikmati panorama. Untuk sampai ke Curug Jenggala, pengunjung bisa memiliki dua alternatif pilihan, yakni naik ojek atau jalan kaki. Jika ojek yang menjadi pilihan, harus mengeluarkan ongkos Rp10 ribu. Namun, kalau pilihannya jalan kaki, harus siap-siap berkeringat melewati rute menanjak dan menurun.

Jangan lupa siapkan kamera dalam perjalanan yang membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit karena pemandangan lumayan menakjubkan. Ada petani yang tengah menggarap sawahnya, air melimpah mengalir deras, pepohonan yang tegak hijau, dan sesekali kicauan burung menghampiri pendengaran. Lelah menguap ketika kaki sampai ke Curug Jenggala. Apalagi, ketinggian air terjun di Curug Jenggala yang 15 meter menciptakan cipratan air seperti gerimis. Di sekitar curug, pengelola telah menyiapkan semacam dek atau tempat untuk berswafoto.

Swafoto dengan lambang cinta
Ada tatanan kayu berbentuk hati yang merupakan lambang cinta. Ikon cinta itu sengaja dibuat untuk para pengunjung yang ingin bergaya. Bisa duduk, berdiri, atau melompat. Namun ingat, pengelola mensyaratkan untuk mencopot alas kaki. Untuk mengabadikan dengan kamera, pengelola telah membuat anjungan untuk memotret ke arah simbol cinta. Jepret...jepret...sebuah komposisi tercipta. Pengunjung berdiri di atas kayu bersimbol cinta, sedangkan latar belakangnya ialah air terjun yang merupakan pertemuan Sungai Banjaran dengan Mertelu. Kalau berkunjung ke Curug Jenggala, jangan hanya puas berswafoto di dek sebab ada jalan setapak kecil yang menuju ke dasar Curug Jenggala. Jalanan agak turun dan melewati jembatan kayu yang sengaja dibuat pengelola.

Jembatan kayu tersebut dibangun agar pengunjung tidak perlu menyeberangi Sungai Banjaran yang mengalirkan air ke Jenggala. Setelah melewati jembatan, saya duduk di bebatuan di pinggir sungai setempat. Benar-benar berasa di dunia lain, sejuk, sepoi-sepoi angin, dan ‘gerimis’ abadi dari cipratan air terjun. Itulah mengapa para pengunjung yang datang ke Curug Jenggala, dipastikan akan menggunakan waktu lebih dari 30 menit, bahkan rata-rata lebih dari 1 jam. “Kalau sudah sampai di sini rasa-rasanya tidak mau pulang. Jauh dari keramaian. Yang terdengar hanya deru air terjun, desahan angin, dan kicauan burung. Apalagi, kondisi lingkungan di sini begitu adem ditambah kesejukan dari rimbunnya pepohonan hutan,” ungkap Shandy Yanuar, 28, salah seorang warga Purwokerto Utara, Banyumas.

Ia mengungkapkan kalau Curug Jenggala masih benar-benar alami. Hanya jalan yang diperbaiki pengelola, sedangkan lainnya dibiarkan alamiah. “Menurut saya, Curug Jenggala harus dipertahankan keaslian dan keasriannya sebab orang datang ke Curug Jenggala ingin merasakan kesejukan air terjun. Sudah tepat juga ada tempat untuk swafoto karena dengan semakin banyak yang berfoto dan mengunggahnya di media sosial, maka bakal semakin nge-hits,” ujarnya.

Destinasi baru
Sesungguhnya, wisata alam Curug Jenggala baru dibuka pada September 2016 meski curug tersebut sudah cukup lama diketahui. Dengan inisiatif dari Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Gempita, akses ke air terjun tersebut dibenahi. Ketika akses dipermudah, Curug Jenggala menjadi objek wisata alam yang dikunjungi. “Waktu membuka akses jalan menuju Curug Jenggala, kami hanya memiliki modal Rp750 ribu. Itu pun yang mengerjakan hanya segelintir orang saja,” kata Ketua LMDH Gempita Purnomo. Namun, justru dengan keterbatasan itulah, dia bersama kawan-kawannya begitu bersemangat untuk berinovasi. “Misalnya saja, kami sengaja membuat lambang cinta dari kayu itu tidak saja untuk berswafoto, melainkan juga simbol agar mereka ikut memiliki daerah ini sehingga turut menjaga lingkungan yang ada,” ujar Purnomo.

Zaman sekarang kalau hanya menjual keindahan alam semata, rasanya masih kurang sebab harus ada sesuatu yang lain untuk tawaran kepada pengunjung. “Selera anak-anak muda sekarang sudah sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Makanya, sebelum memutuskan untuk membangun dek simbol cinta sebagai tempat swafoto, pihaknya harus melakukan pendalaman selera anak-anak muda.”

Perlu inovasi
Setelah dibuka pada Oktober tahun lalu, ternyata pengunjung cukup membeludak. Pada Oktober jumlahnya sebanyak 11 ribu pengunjung, November tercatat 12 ribu pengunjung dan pada Desember sebanyak 13 ribu pengunjung. Jumlah total pendapatan telah mencapai Rp134 juta. “Tetapi pada Februari lalu, jumlah pengunjung mengalami penurunan, dengan pendapatan Rp27 juta. Oleh karena itu, kami harus cepat-cepat mengevaluasi, mengapa pengunjung mengalami penurunan sehingga perlu ada inovasi lagi agar pengunjung kembali meningkat.” Pendapatan tersebut berasal dari tiket masuk yang dipatok Rp5.000 per pengunjung.

Hanya saja, tidak seluruh pendapatan masuk ke kantong LMDH sebagai pengelola. Pembagian pendapatannya, 60% ke LMDH dan 40% lainnya ke Perhutani. Rincian dari 60% ke LMDH tersebut tidak seluruhnya masuk ke kelompok, tetapi masih dibagi-bagi lagi. Di antaranya untuk upah para pekerja dan pengelola, kas desa, bina lingkungan dan budaya, dana sosial, serta kas dan pengembangan. (M-1)

Komentar