WAWANCARA

Kita Harus Terus Waspada

Ahad, 2 April 2017 02:31 WIB Penulis: RIZKY NOOR ALAM rizkynoor@mediaindonesia.com

MI/ARYA MANGGALA

PAGI itu pukul 06.00 Media Indonesia tiba di Kantor Pusat Badan Narkotika Nasional (BNN) di kawasan Cawang, Jakarta Timur. Kedatangan tersebut bermaksud untuk bertemu dan mewawancarai Kepala BNN Komjen Budi Waseso atau yang familier dipanggil dengan Buwas. Ternyata setiap hari Buwas sudah berada di kantor sejak pukul 05.30 WIB. Dia memilih untuk beraktivitas di kantor pagipagi sekali agar siang harinya dia dapat berkeliling memantau pekerjaan anak buahnya di lapangan. Berikut wawancara Media Indonesia dengan Kepala BNN Budi Waseso, Rabu (29/3).

Peredaran narkoba saat ini semakin gencar dan hampir semua lini dan usia yang terkena dampaknya. Bagaimana analisis Anda mengenai kondisi ini?
Perkembangan di dunia narkotika memang selalu berkembang, terutama dengan jenis-jenisnya. Kenapa berkembang karena memang jaringan atau mafi a narkotika ingin tetap eksis dan tetap bisa memasarkan dagangannya sehingga dia membuat jenis-jenis baru supaya tidak terdeteksi oleh aparat penegak hukum. Mereka juga melihat ternyata pangsa pasarnya besar dan mereka sudah menciptakan kondisi, menciptakan budaya yang dibuat oleh mereka sendiri, sehingga narkotika semakin berkembang karena perubahan budaya yang mempermudah para generasi muda mempergunakan narkoba sehingga menjadi pangsa pasar yang kuat. Perkembangan-perkembangan terakhir ini semakin banyak penggunanya semakin banyak jenisnya yang masuk. Di Indonesia saja sudah masuk 60 jenis narkoba baru dan dari 60 jenis itu baru 43 yang bisa dijerat oleh hukum dan ini juga merupakan suatu kerawanan untuk Indonesia, yang kalau kita lihat dari segi geografis memudahkan masuknya narkotika di Indonesia. Jumlah penduduk yang 250 juta menjadi pangsa pasarnya. Pemahaman masyarakat juga masih rendah. Jadi kerentanannya sangat luar biasa. Kita melihat itu menjadi sebuah ancaman bagi negara sehingga kita semakin gencar dan semakin ber koordinasi untuk membangun kekuatan dengan siapa saja, termasuk dengan masyarakat umum, untuk cepat menanganinya. Jaringan ini sekarang sudah porak- poranda. Akan tetapi, dia juga menyusun strategi baru, seperti di beberapa wilayah mereka sudah
memperkuat dengan senjata api. Bukan hanya senjata rakitan, melainkan senjata pabrikan. Ini adalah suatu ancaman. Jadi semakin kita gencar, mereka semakin memproteksi diri untuk melakukan tindakan perlawanan.

Lalu bagaimana tindakan BNN untuk mengatasi peredaran narkoba?
Satu hal kita harus memberikan satu pemahaman dulu terhadap masyarakat luas terutama generasi muda. Permasalahan narkotika harus dilihat dari dua sisi, yaitu demand dan supply, itu harus kita perkuat. Artinya untuk pangsa pasarnya kita memberikan pemahaman terhadap seluruh generasi bangsa ini melalui penerangan, penjelasan, pembinaan sehingga mereka paham (bahaya narkoba). Kami sekarang juga membuat program materi pelajaran yang ingin kita masukkan di kurikulum nasional dari tingkat TK, SD, SMP, hingga SMA. Itu sudah kita lakukan dan sudah jadi, sudah kita evaluasi juga, cuma penerapannya belum secara menyeluruh, baru sporadis beberapa provinsi yang sudah memahami dan menginginkan keselamatan dari warganya maka mereka terapkan.Salah satunya (yang sudah menerapkan) ada di Provinsi Maluku Utara dan Provinsi Kalimantan Timur, yang memberikan pemahaman mulai generasi terbawah dari TK, SD, SMP, hingga SMA. Harapan saya, pemahaman masyarakat benar-benar mengerti akibat dari narkoba sehingga mereka tidak akan berani mencoba lagi, akhirnya akan berdampak pada pangsa pasar yang hilang. Kalau dari supply-nya kita imbangi dengan penindakan. Seandainya itu gagal (penindakan), itu juga akan berhasil karena pangsa pasarnya (sudah) hilang. Kita upayakan melalui edukasi supaya ada penolakan sejak usia dini. Generasi bangsa ini akan rusak, maka harus ditangani semua. Misalnya ancaman masuknya narkoba melalui pelabuhan-pelabuhan tikus bisa ditangani apabila semuanya peduli, misalnya masyarakat sekitarnya juga ikut mengawasi. Kalau semuanya bergerak demikian, bandar tidak akan berani masuk dari tempat mana pun karena sudah terawasi oleh masyarakat.

Lalu terkait dengan kurikulum nasional antinarkoba tersebut, kapan target semua provinsi bisa menerapkan?
Tahun 2016 saya sudah berusaha, tahun 2015 saya membuat program itu, lalu pada waktu itu saya menghadap para menteri terkait dan berharap 2016 sudah bisa masuk kurikulum tapi ternyata tidak. Sekarang saya tidak bisa banyak berharap bahwa ini bisa menjadi kurikulum nasional. Strategi saya mengajak provinsi maupun kabupaten/ kota untuk menerapkan ini melalui perda, ternyata setelah saya jelaskan responsnya lebih bagus. Selain itu, saya membuat buku pedoman dakwah dari seluruh agama, melihat narkoba dari sudut pandang seluruh agama. Kalau disuarakan melalui pendekatan agama, akan terjadi pemahaman-pemahaman secara spiritual, sehingga tidak akan melakukan pelanggaran sesuai dengan perintah Tuhan dan dengan sendirinya akan ikut mem-protect ya, ini harapan saya agar terjadi penolakan. Semenjak BNN dipimpin Anda, dalam setahun lebih dari 200 kasus yang terungkap.

Apakah Anda memiliki target tertentu dalam setahun harus berapa kasus yang dibongkar?
Masalah narkoba tidak bisa ditarget karena kita harus proaktif dan saya punya niat untuk bagaimana Indonesia bebas narkoba. Saya (bekerja) memang atas dasar tanggung jawab jabatan, penugasan kita di BNN. Tanggung jawab kita di BNN untuk mewujudkan itu, maka kita harus semangat untuk melaksanakan tugas dalam rangka menyelamatkan generasi bangsa. Dengan gencar terus dalam melakukannya bukan untuk menakut- nakuti, karena bandar tidak pernah takut. Buktinya kita tingkatkan dengan perlengkapan senjata, mereka juga mulai melengkapi diri dengan senjata untuk mengimbangi kita dan melakukan perlawanan. Kemarin di Medan, Aceh, Kali mantan Barat, dan Jakarta sendiri mereka sudah melakukan perlawanan dengan senjata api. Ini bukti bahwa mereka bukan orang yang bisa ditakut-takuti. Mereka pemikirannya berbeda, mereka ingin menghancurkan dan membunuh. Dan sekarang kita kekuatannya sudah dengan tim lengkap dengan persenjataan, mereka juga mengimbanginya dengan kekuatan persenjataan. Terkait dengan jenis narkoba baru, di Indonesia sudah masuk 60 jenis.

Bagaimana dengan di dunia? Bagaimana pencegahannya?
Di dunia ini perkembangannya sudah mencapai 800 jenis baru dan cepat atau lambat akan masuk ke Indonesia karena ini namanya pergerakan mafi a yang mana dia ingin memasarkan ke seluruh dunia. Negara yang subur pangsa pasarnya salah satunya adalah Indonesia. Maka Indonesia menjadi sasaran mereka, tinggal menunggu waktunya kapan. Mungkin sekarang sudah lebih dari 60 jenis yang tidak diketehui negara karena kita tidak tahu jenisnya. Di lapangan masih kita deteksi terus bersama dengan Badan POM dan Bea Cukai, kita deteksi jenis baru masuk lewat mana, jenisnya seperti apa, modelnya seperti apa, kita bekerja terus. Oleh sebab itu kita tidak bisa menunggu, BNN ini proaktif yang bekerja secara militan dan rasa tanggung jawab tinggi untuk selalu mencari dan mengikuti terus.

Lalu bagaimana cara mencegah narkoba jenis baru itu? Karena kalau kita lihat di dalam UU belum tercantum nama narkoba jenis baru itu dan harus merilisnya melalui
peraturan baru. Apakah hal tersebut efektif?

Untuk mendeteksi narkoba jenis baru, kita harus memiliki kemampuan laboratorium dan laboratorium nasional khusus narkotika di Indonesia ini belum ada. Maka itu adalah salah satu kelemahan karena laboratorium kita tidak mampu baik di BNN, Badan POM, kepolisian, UI, ITB dan lainnya ini kemampuan laboratoriumnya masih belum maksimal. Ke depan Indonesia harus punya laboratorium narkotika nasional. Pusat laboratorium narkotika yang kemampuannya internasional kita harus punya sehingga kita punya kemampuan yang sama dengan negara-negara lainnya. Jadi jika ada narkoba jenis baru, kita sudah mampu mendeteksi karena sudah ada laboratorium yang memadai. Terkait dengan fenomena mengenai permen dot yang ramai beberapa waktu lalu.

Bagaimana BNN menyikapi fenomena semacam itu? Apakah menunggu laporan atau sudah ada pengawasan berkala?
Saya sudah bekerja sama dengan Badan POM untuk makanan-makanan rentan yang bisa dicampur dengan narkotika. Seperti permen dot juga rawan digunakan. Kemarin ada jenis CNC itu dimasukkan ke minuman soft drink dan diedarkan. Kita harus terus waspada dan awasi terus karena makanan jenis apa pun itu bisa terkontaminasi oleh narkoba. Permen dot memang kemarin dipublikasikan ternyata tidak mengandung narkoba, tapi itu bukan berarti aman karena bisa saja itu upaya dari jaringan. Mengekspos dulu untuk melihat reaksi masyarakat.

Bagaimana Anda membagi waktu dengan keluarga dan mengajarkan antinarkoba kepada anak-anak Anda?
Waktu saya sempit di dalam keluarga, kadang hari libur saya gunakan untuk tugas karena anggota saya di lapangan yang bekerja juga tidak mengenal hari libur. Terhadap keluarga saya berikan pemahaman bahwa ini konsekuensi jabatan sebagai aparatur negara, dari dulu saya juga seperti ini dari sebelum berkeluarga, saya bekerja maksimal dan harus ada yang dikalahkan. Dalam sumpahnya kan disebutkan mementingkan kepentingan negara daripada kepentingan pribadi, itu sumpah setiap pejabat negara dan ini salah satu cara melaksanakan sumpah itu. Kita berikan pemahaman terhadap keluarga bahwa ini konsekuensi risiko, bisa berkumpul mungkin nanti kalau sudah pensiun atau kalau sudah tidak punya tanggung jawab lagi. Sekarang bagaimana memanfaatkan waktu yang sempit itu agar dapat berkomunikasi, komunikasi itu kita lakukan tetap dengan anak-anak dan keluarga. Saya juga berikan pemahaman kepada anakanak saya yang remaja bahwa saya punya contoh yang akurat dan jelas (mengenai pengguna narkoba) dan itu saya berikan kepada anak-anak saya. Faktanya kalau kamu masuk ke narkoba, kehancuran kamu buat sendiri. Masa depan kamu ada di tangan mu. Kalau kamu pilih narkoba, selesai semua. Hidup itu pilihan sehingga agar ke depan itu bisa hidup yang bermanfaat untuk bangsa, negara, dan agama. Saya berikan pemahaman yang jelas kepada anak-anak saya, bagaimana caranya bergaul, bagaimana narkoba bisa masuk, peluangnya bagaimana dan itu yang saya edukasi terus kepada anak-anak dan keluarga saya. (M-2)

Komentar