Tifa

Memikirkan kembali Kewarasan Kita

Ahad, 2 April 2017 02:01 WIB Penulis: ABDILLAH M MARZUQI abdizuqi@mediaindonesia.com

MI/ABDILLAH M MARZUQI

"LONG live Dokter Menawi Diparani. Panjang umur para hakim. Panjang umur kegilaan,” ujar Butet Kartaredjasa dengan suara meninggi. Ia berdiri di atas bangku panjang. Sepenggal kalimat itu memungkasi cakapan pembuka tentang lakon Hakim Sarmin sekaligus menjadi tanda bermulanya adegan. Usai dengan pengantar lakon singkat, dengan segera Butet menghilang dari sorot lampu panggung. Seorang bersetelan putih duduk mengambil alih panggung. Berdiri di bangku yang tadinya dijadikan tempatan kaki oleh Butet Kartaredjasa yang berperan sebagai Hakim Sarmin. Berlainan dengan Butet yang bercakap tunggal menghadap penonton. Sosok itu malah berdiri membelakangi penonton. Rupanya, ia sedang menjadi konduktor untuk sebuah paduan suara. Ada yang aneh dengan adegan itu yang meng­undang tawa penonton.

“Ha…ha…ha…” tawa penonton meledak. Sebab ternyata peserta paduan suara ialah orang-orangan. DR Menawi Diparani tidak peduli, ia terus saja asyik memimpin barisan orang-orangan itu. Latar panggung itu cukup sederhana. Hanya ada bangku panjang, kursi, dan meja. Ada sebuah radio tua di atasnya. Delapan manekin yang terbuat dari instalasi bambu diletakkan berjajar seperti formasi peserta paduan suara. Sebagai latar, ada papan nama yang bertuliskan Pusat Rehabilitasi Hakim d/h RSJ Sumber Waras. Itulah latar panggung awal pada pementasan Teater Gandrik dengan lakon Hakim Sarmin yang dihelat pada 29-30 Maret di Taman Budaya Yogyakarta. Rencananya, lakon yang didukung Bakti Budaya Djarum Foundation itu bakal dihelat di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 5-6 April 2017.

Naskah Hakim Sarmin yang ditulis Agus Noor, diproduseri Butet Kartaredjasa, dan disutradarai Djaduk Ferianto ini dikemas dalam bentuk baru yang lebih segar. Pentas memadukan seni peran dengan nuansa musik yang kental sekaligus isu yang dibawakannya begitu kontekstual. Lakon ini mengisahkan sebuah zaman ketika keadilan dan kegilaan tak lagi bisa dibedakan, ketika hakim memilih masuk rumah sakit jiwa yang disebut Pusat Rehabilitasi. Para hakim yang menolak masuk Pusat Rehabilitasi dikabarkan mati terbunuh dan mayatnya dibuang ke lubang buaya. Isu pembersihan hakim pun menebarkan kecemasan. Kepentingan politik, ambisi kekuasaan, siasat licik untuk saling menjatuhkan, semakin membuat ketegangan di antara para tokoh dalam lakon ini. Di satu sisi, proyek rehabilitasi ini dianggap sebagai jalan keluar untuk mengatasi wabah kegilaan, tapi pada sisi lain dianggap pemborosan anggaran.

Revolusi keadilan
Dokter Menawi Diparani dianggap tak lagi bisa mengendalikan para hakim yang menjadi pasien di Rumah Sakit Jiwa yang dipimpinnya ketika para hakim itu mulai menggerakkan revolusi keadilan. Sementara itu, pimpinan Kota Mangkane Laliyan makin terlihat lelah karena penyakitnya yang tak kunjung sembuh. “Lakon yang membongkar kegilaan masyarakat di tengah karut-marut hukum ini akan menjadi lakon yang kocak dan penuh satir ketika dimainkan di atas pentas. Guyonan dan adegan demi adegan yang ditampilkan dengan gaya Teater Gandrik akan membuat lakon Hakim Sarmin ini menjadi tak sekadar penuh tawa, tetapi juga ironi yang membuat kita harus memikirkan kembali kewarasan kita,” ujar penulis naskah Agus Noor.

Alur pentas ini disusun sedemikian rupa hingga penonton akan bakal menemui banyak kejutan dalam pertunjukan berdurasi sekitar 3 jam itu. Ramuan dialog dan adegan itu juga yang membuat alur seolah tidak tertebak. Ketika yang disangka gila ternyata waras, sebaliknya yang waras ternyata malah mengidap kegilaan. Dugaan tentang siapa yang mendukung pemberontakan hakim juga bakal membuat penonton bermain dalam benak masing-masing. Itulah asyiknya, benak penonton tidak pernah kosong dari amatan pada adegan demi adegan. Penonton seolah diajak untuk memasuki dunia Hakim Sarmin.

Pentas ini seolah mampu meng­undang penonton ke dalam dunia Hakim Sarmin, dan menjadi bagian dari permainan. Tanpa menyeret atau menarik, penonton dengan sendirinya akan merasa betah di dalamnya. Terbukti, meski tanpa jeda, selama tiga jam pentas itu selalu bisa membuai dan penonton tidak melepas pandangan dari panggung. Itulah salah satu kelebihan Teater Gandrik. Selalu memunculkan ­cipratan dan sampiran tanpa me­ninggalkan koridor esensi yang sudah dibangun teks atau naskah. Cipratan atau guyonan itu justru menjadi penguat dari bangun pesan yang ingin disampaikan.

Jika di Yogyakarta Teater Gandrik berpentas di hadapan penonton yang paham bahasa Jawa dan akrab dengan guyonan ala Yogyakarta, lalu bagaimana dengan pentas di Jakarta? Inilah yang layak ditunggu. Pasti banyak kejutan yang telah disiapkan Teater Gandrik. “Pasti tentunya, ada idiom-idiom baru yang nanti akan menyesuaikan dengan kondisi Jakarta,” terang Djaduk. Keluar dari gedung pertunjukan, setidaknya ada sepotong kalimat dengan intonasi yang enak di telinga. Meski sepotong, kalimat itu seolah menjadi candu untuk mulut selalu mengucapkannya. “Demi bangsa dan negara.” (M-2)

Komentar