PIGURA

Gara-Gara Kereta Mogok

Ahad, 2 April 2017 01:29 WIB Penulis: Ono Sarwono sarwono@mediaindonesia.com

Dok Mi

MIRIS mendengar kabar mobil yang ditumpangi Presiden Joko Widodo saat melaksanakan tugas negara berulang kali mogok. Terakhir saat kunjungan kerja di Kalimantan Barat beberapa waktu lalu. Apa pun alasannya, kejadian itu sesungguhnya tidak bisa dimaklumi. Sebagai sarana mobilitas pemimpin, tentu keprimaan kendaraan sangat vital. Jadi, kalau akhirnya sampai ngadat, sejatinya itu berkonsekuensi tidak main-main. Ini harus dijadikan pelajaran serius bagi pihak-pihak yang bertanggung jawab. Jangan teledor dan sembrono. Tentang betapa strategisnya kendaraan bagi pemimpin terceritakan dalam cerita wayang. Akibat keretanya mogok, senapati agung Astina, Karna Basusena, tersungkur di Kurusetra. Padahal, kalkulasinya, bila kendaraannya lancar, bukanlah tidak mungkin ia yang unggul atas Arjuna dalam gelanggang Bharatayuda.

Senapati Astina
Sejak awal, Karna sadar bahwa kereta (kendaraan) sangat menentukan dalam mengemban misi. Itulah kenapa Karna selalu memastikan bahwa kondisi setiap kereta yang ia tumpangi harus tangguh. Kuda penariknya juga mesti sehat dan trengginas. Selain itu, yang tidak kalah sentralnya ialah kualitas sais. Syahdan, pascagugurnya Durna, Karna menghadap Raja Astina Prabu Duryudana. Ia tidak kuasa lagi menahan hasrat untuk segera maju ke palagan menggantikan posisi Durna sebagai senapati perang. Gayung bersambut, Duryudana mengizinkan Adipati Awangga itu menjadi panglima. Ini sesungguhnya puncak harapan Duryudana kepada Karna untuk membuktikan sumpah dan darmanya. Di bawah kepemimpinan Karna, ia yakin pasukan Astina (Kurawa) bakal menang. Tidak berlebihan memang karena jagat mafhum akan kesaktian putra Bathara Surya itu.

Dalam hal memanah, misalnya, Karna kondang sebagai salah satu yang terbaik di pelosok bawana. Jangankan membidik objek diam, belalang atau jangkrik yang loncat dan terbang cepat pun tidak bisa lolos dari panahnya. Ketitisannya (keakuratan) menjemparing tiada banding. Ini telah dibuktikan sebelumnya ketika ia menjadi kesatria pengapit. Karna berhasil merontokkan senapati unggulan Amarta, Gathotkaca. Kesatria Pringgondani yang memiliki kemampuan terbang bagaikan kilat tersebut jatuh terjerembap ke bumi setelah pusarnya tertembus oleh panah kuntawijayadanu yang dilepas Karna.

Maka, meski Duryudana telah kehilangan banyak senapati dan prajurit andalan, dirinya masih tenang di hari-hari terakhir Bharatayuda ketika Karna kukuh dalam barisannya. Semula, ada kebimbangan Karna yang ia banggakan akan ingkar janji dan berbalik mendukung Pandawa. Apalagi, sebelum Bharatayuda pecah, Karna diminta ibunya, Kunti Talibrata, bergabung dengan Pandawa yang merupakan saudara kandungnya. Botoh Pandawa, Kresna, juga memengaruhinya agar tidak berperang melawan Pandawa yang merupakan darah dagingnya sendiri. Akan tetapi, Karna bukan kesatria abal-abal dan mencla-mencle. Ia memegang teguh apa yang pernah terucap. Permintaan ibu kandungnya ia tolak, anjuran dari sang titisan Bathara Wisnu itu pun ia abaikan. Karna mengentengkan jiwa raganya sebagai konsekuensi atas sikapnya.

Dikusiri mertua
Setelah dilantik menjadi senapati, Karna meminta izin agar sais kereta yang ia tumpangi ke medan laga ialah Prabu Salya yang tidak lain bapak mertuanya sendiri dan kebetulan juga mertuanya Duryudana. Permohonannya disampaikan dalam pertemuan terbatas yang dihadiri Salya. Seketika itu, Salya menunjukkan etidaksenangannya. Ia merasa sang menantu tidak tahu diri dan tidak menghormati orangtua. Bahkan, Salya sempat berniat mengganjar pelajaran kepada Karna karena kelancangannya. Dari hati yang terdalam Karna memberikan alasan bahwa permintaannya bukan untuk menjadikan sang mertua sebagai suruhan. Menurutnya, sais sangat menentukan bagi sukses atau gagalnya perjuangan. Karena itu, ia tidak ingin yang mengendalikan kereta perjuangannya orang sembarangan.

Duryudana menyela. Dengan kerendahan hati ia memohon kepada Prabu Salya berempati pada nasib Kurawa. Ia tidak ingin Banowati (permaisuri), anak bungsu Salya, menjanda dan hidup telantar bila Kurawa tumpas. Permintaannya ia sampaikan dengan tulus, dan bahkan disertai tetesan air mata. Terenyuh atas derita Duryudana, Salya seketika itu pula menyatakan kesanggupannya. Namun, ia meminta waktu sementara guna menenangkan gejolak hati. Ia masih tetap merasa dilecehkan Karna. Di pihak lain, mendengar Kurawa mengangkat Karna sebagai senapati, Kresna langsung menunjuk Arjuna menjadi panglima perang Amarta. Untuk mengimbangi nama besar Salya, Kresna menyatakan dirinyalah yang akan menjadi kusir Arjuna. Kresna pun mendandani Arjuna sehingga ia tampak persis seperti Karna. Antara Arjuna dan Karna memang seperti pinang dibelah dua. Karena kemiripan itulah, perang Karna melawan Arjuna di Kurusetra, dalam seni pedalangan, dikenal pula dengan lakon Karna Tanding.

Pada hari yang ditentukan, dunia khidmat menyaksikan perang Karna-Arjuna. Para dewa di Kahyangan pun menghentikan aktivitasnya dan turun ke marcapada menyaksikan dua kesatria digdaya bertarung. Pertempuran berlangsung dahsyat. Kelebat anak panah tidak pernah henti. Desingnya terasa seperti mengiris-iris hati siapapun yang melihat dan mendengar. Korban prajurit kedua belah pihak berjatuhan. Pada momen tepat, Karna membidik Arjuna. Berberangan dengan melesatnya anak panah dari gendewa, keretanya yang ia tumpangi tak terduga bergerak menyentak. Anak panah akhirnya hanya memagas rambut Arjuna.

Menemui ajal
Arjuna kaget bukan kepalang. Marahnya menyembul sampai ke ubun-ubun. Ia lantas menarik gendawa dengan anah panah pasopati yang bedor (ujung anak panah)-nya berbentuk seperti bulan sabit. Namun, mendadak Karna berteriak kepada Arjuna agar menghentikan sejenak perang karena keretanya mogok. Salah satu rodanya terjeblos ke dalam lumpur. Karna turun untuk mendorong keretanya agar lepas dari kubangan. Akan tetapi, saat itu, Kresna memerintahkan Arjuna tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ini bukan persoalan sikap kesatria yang tidak boleh membunuh lawan ketika dalam kondisi tidak siap. Ia mengingatkan Karna dan Kurawa sebelumnya curang ketika meranjab Abimanyu (putra Arjuna). Arjuna sedikit gemetar mengangkat pasopati. Sambil menahan napas, ia mengincar sasaran. Dalam sekejap pasopati lepas dari gendewa, melesat bagaikan kilat dan tepat memutus leher Karna hingga gugur seketika. Inilah kisah tragis dari seorang kesatria yang menemui ajal gara-gara keretanya mogok. Secara simbolis ini merupakan pelajaran sangat berharga bagi siapa pun sang senapati yang sedang mengemban misi. (M-4)

Komentar