Jendela Buku

Paduan Tren Gaya Abu-Abu

Sabtu, 1 April 2017 02:14 WIB Penulis: Ben/M-2

DI era teknologi serbacanggih ini, banyak sekali ditemukan informasi yang dimanipulasi dan diputarbalikkan.

Karenanya mana yang salah dan benar menjadi samar.

Situasi 'abu-abu' ini mengilhami ramalan tren desain Indonesia pada 2017-2018 yang dipopulerkan dengan tema Greyzone.

Tren Greyzone merupakan buah penyusunan decoding (terjemahan desain) oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerja sama dengan Kelompok Indonesia Trend Forecasting (ITF) yang diterjemahkan dalam lima sektor yang memerlukan prediksi tren, antara lain modest fesyen muslim, fesyen konvensional, desain tekstil, desain produk, dan interior.

Dalam penyusunannya, tren bukan hanya diamati dari perubahan elemen desain seperti warna, bentuk, tekstur, dan volume, melainkan terlebih diteliti dari perubahan pola pikir masyarakat berikut dampak dari aspek sosial, politik, ekonomi, hingga kemajuan teknologi, dan isu lingkungan.

"Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi kreatif, diperlukan riset trend forecasting yang berkaitan langsung dengan perubahan pola pikir masyarakat untuk memberikan gambaran mengenai perubahan lifestyle apa yang akan terjadi pada masyarakat di dunia dan Indonesia dalam beberapa tahun ke depan," ucap Dina Midiani, fashion trend consultant, di Jakarta (28/2).

Dalam buku Indonesia Trend Forecasting (ITF) dijelaskan, Greyzone ialah sebuah visualisasi dari sebuah masa ketika kita kehilangan kemampuan untuk membedakan benar dan salah/hitam dan putih.

Ada empat subtema yang diangkat dalam trend Greyzone.

Pertama, archean (bentukan dari bumi) mewakili pemikiran esensi kehidupan pada saat bumi masih berusia muda, yakni periode awal terjadinya fotosintesis di bumi.

Kedua, vigilant (estetika terhitung), yaitu kelahiran kembali tradisionalisme melalui local ingenuity yang didukung teknologi modern dengan menampilkan garis-garis perancangan kontemporer yang bersih, kuat dengan relasi kuat dengan tradisi, sehingga tampil mewah hasil dari perancangan dan perhitungan yang cermat.

Ketiga, cryptic (rekayasa hayati), terinspirasi oleh bioengineering yang hybrid dengan bidang keilmuan dan teknologi lainnya sehingga menghasilkan produk dengan tampilan tidak biasa, misterius, agak seram, tetapi indah dan mengagumkan.

Keempat, digitarian (generasi mayantara) yang diilhami dari generation Z, merepresentasikan campuran gaya estetis dari beberapa generasi bagaikan bertualang menembus waktu dari gaya yang satu ke gaya yang lain.

Kehadiran buku Indonesia Trend Forecasting (ITF) 2017-2018 diharapkan memberikan terobosan baru dalam dunia perancangan sehingga memperkaya potensi industri kreatif.

Triawan Munaf selaku Kepala Bekraf mengatakan, berdasarkan data statistik yang dikeluarkan Bekraf dan Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi kreatif tercatat berkontribusi sebesar Rp852 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dan mampu menyerap tenaga kerja sebesar 15,96 juta jiwa.

Namun, kurangnya riset dan pengembangan masih menjadi tantangan sehingga produk kreatif yang dihasilkan juga kurang memiliki daya saing.

"Terlebih di era globalisasi yang begitu cepat perubahannya, inovasi dan daya saing menjadi modal dasar yang penting dalam persaingan dunia. Desainer dan para pelaku ekonomi kreatif ditantang untuk responsif dan diperlukan khazanah futuristis guna mewujudkan Indonesia sebagai pusat inspirasi tren dunia," imbuh Triawan.

Buku yang melalui serangkaian riset dan tinjauan berbagai literatur ini dapat menjadi referensi yang baik serta strategis bagi pertumbuhan industri kreatif di Tanah Air.

Hal ini diamini perancang busana ternama dengan ciri khas gaya rambut pendek yang nyentrik, Lenny Agustin.

"Bukan hanya sumber acuan mengenai tren, buku ini adalah wawasan soal perubahan konsep pikir dunia. Misalnya dulu, tren go green membuat busana semarak menjadi hijau. Jadi kita tahu mengapa trendnya warna abu-abu. Akan tetapi, nantinya tetap diinovasi dengan kreativitas sendiri," ujar Lenny.

Buku ITF tersedia dalam lima buku subsektor fesyen, yaitu modest muslim dan konvensional, desain interior, desain produk, dan kriya. Sempat didistribusikan dengan harga yang relatif mahal, kini buku ITF dapat diunduh secara gratis melalui website Bekraf di http://trendforecasting.bekraf.go.id/.

________________________________________________

Judul : Indonesia Trend Forecasting (ITF) 2017-2018

Penulis : Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerja sama dengan Kelompok

Indonesia Trend Forecasting (ITF)

Penerbit: Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf)

Terbit : 2017

Komentar