Jendela Buku

Potret Ketangguhan Ibu-Ibu di Indonesia

Sabtu, 1 April 2017 03:39 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

Ilustrasi MI

"AKU selalu membaca cerita Kartini, perempuan bangsawan yang menginspirasi banyak orang. Emak bukan anak bangsawan. Ia anak petani kelapa yang bahkan tak pandai baca tulis. Emak tak pernah sekolah. Tapi di mataku, Emak tak hebat dibanding Kartini."

Sedikit itu mungkin bisa mewakili tulisan dalam buku Emakku Buku Kartini karya Hasanudin Abdurakhman.

Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama ini memang kenangan akan emak dan ayah Hasanudin Abdurakhman. Namun, seolah menyodorkan cermin.

Begitu pula pembaca akan mendapati kenangan untuk jutaan orangtua di Indonesia yang telah berjuang keras membesarkan anak-anak mereka.

Sebab Indonesia yang sekarang ini dibangun dari setiap tetes keringat mereka.

"Kenangan-kenangan itu semua indah belaka. Itu adalah energi untuk hidupku kini. Emak mengajarkan bahwa hidup adalah perjuangan keras untuk mencapai hidup yang lebih baik lagi." (hlm 13)

Dalam buku setebal 316 halaman, Abdurakhman dengan runtut bercerita tentang Emak yang bertekad keras menyekolahkan anak-anaknya.

Ia rela berkayuh sampan untuk mengantar anaknya sekolah ke kampung lain.

Lalu ia juga mendorong orang-orang kampung untuk membangun sekolah sehingga anak-anak lain pun bisa sekolah. Ia memperkenalkan banyak hal ke kampung. Banyak anak orang kampung yang kemudian sekolah ke kota menjadi orang sukses.

Abdurakhman sendiri, setamat SD di kampung, melanjutkan sekolah ke Madrasah Tsanawiah I Pontianak.

Ia kemudian masuk SMA Negeri 2 Pontianak dan melanjutkan kuliah di Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Lulus kuliah, Hasan sempat bekerja sebentar di perusahaan minyak sebelum menjadi dosen di Pontianak.

Pada 1996 Abdurakhman mendapat beasiswa untuk belajar bahasa Jepang melalui Asian Youth Fellowship program di Kuala Lumpur, tahun berikutnya Abdurakhman melanjutkan S-2 dan S-3 di Department of Applied Physics Tohoku University.

Hasan lulus doktor pada 2002. Setelah bekerja dua tahun sebagai peneliti tamu di Kumamoto University, Abdurakhman kembali menjalankan tugas sebagai dosen di Pontianak.

Ia kemudian kembali ke Jepang, bekerja sebagai asisten profesor, lalu visiting associate professor di Tohoku University, Sendai, Jepang. Sejak 2007 Hasan kembali ke Indonesia, bekerja di sebuah perusahaan Jepang, hingga kini.

Hampir tiap bagian dalam buku ini menceritakan satu fragmen tentang Emak sehingga membaca buku ini, rasa tersentuh dan tergugah akan muncul.

Kisah seorang perempuan yang buta huruf Latin seumur hidupnya, tetapi memiliki mimpi agar delapan anaknya bisa sekolah tinggi.

Sebuah cita-cita yang musykil terjadi lantaran di kampung mereka yang terpencil di pesisir selatan Kalimantan Barat bahkan tak ada sekolah.

Meski demikian, Emak mengajari anak-anaknya untuk menyingkirkan sekat kemiskinan sejak dari dalam benak.

Perjuangan orangtua

Sungguh luar biasa cara Emak mengasihi dan menyemangati anak-anaknya.

Cara Emak mencari biaya untuk penghidupan dan sekolah anaknya, hingga menyiapkan mental mereka untuk maju dan memiliki arti bagi sekelilingnya terajut indah dalam kalimat-kalimat sederhana.

"Namun, Emak bukanlah Emak bila berhenti pada ketiadaan. Tak ada sekolah? Dia dirikan sendiri. Tak ada uang? Dia berjuang mencari. Membuka ladang, jadi petani, jadi pedagang, pengurus jenazah, sampai perias pengantin dia lakoni. Meski kadang letih, penat, dan jemu. Toh, ketika tiba waktunya anak-anaknya terbang mencari ilmu, Emak tak selalu tegar melepas mereka pergi." (hlm 12)

Kisah yang menggambarkan diri mereka.

Pengingat akan perjuangan orangtua dan keluarga masing-masing, terutama ketangguhan ibu-ibu di Indonesia sendiri.

Para perempuan hebat dari berbagai lapisan masyarakat yang tanpa lelah merajut mimpi indah bagi anak-anaknya.

"Hari itu, kami kakak-beradik memandikan jasad Emak. Rasanya aku tak ingin pemandian itu selesai. Rasanya aku ingin terus menggosok tubuh Emak. Tak rela rasanya melihat tubuhnya dibungkus kain kafan." (hlm 313)

Kisah Emak, dan ayah-suami Emak, adalah gambaran sebagian besar orangtua di Indonesia.

Orangtua yang kadang dibelit berbagai sekat keterbatasan.

Kisah-kisah perjuangan yang senyap inilah yang turut membentuk generasi demi generasi di Indonesia sampai sekarang.

Namun, dalam keterbatasan mereka, para orangtua itu tak akan menyerah untuk menyiapkan mimpi terbaik bagi anak-anaknya.

Buku ini bukan hanya untuk Emak milik Hasanudin Abdurakhman, melainkan untuk semua Ibu di jagad raya.

Kasih sayang yang terbatas dari seorang Ibu adalah energi terbesar yang menggerakkan semuanya. (M-2)

-------------------------------------------

Judul : Emakku bukan Kartini

Penulis : Hasanudin Abdurakhman

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Terbit : 2017

Tebal : 316 halaman

Komentar