PIGURA

Menyempurnakan Arwah

Ahad, 26 March 2017 06:39 WIB Penulis: Ono Sarwono

POLITIK telah merambah ke mana-mana. Ada orang sudah kembali ke haribaan-Nya tapi harus menanggung konsekuensi atas sikap politiknya semasa masih hidup. Ada warga menolak menyalatinya gara-gara pilihan politiknya berbeda. Inilah sisi ketengikan dan nonhuman politik kita.

Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar berpendapat bahwa mengurus jenazah (muslim) itu hukumnya fardu kifayah. Maka, kata dia, sangat berlebihan bila hanya karena perbedaan pandangan politik, seseorang yang sudah meninggal kemudian tidak diurus (disalati).

Makna lain pernyataan itu kurang lebih bahwa menyembahyangkan orang yang sudah meninggal, siapa pun mereka, merupakan keharusan. Ini ajaran mulia yang mestinya kalis dari pengaruh apa pun, apalagi sekadar politik, kreasi manusia yang urusannya hanya nafsu kekuasaan.

Sikap yang tidak membeda-bedakan seperti itulah yang dilakukan Begawan Abiyasa dalam cerita wayang. Ia tawadu menyempurnakan semua arwah korban perang Bharatayuda yang masih bergentayangan, baik mereka yang mendukung kebajikan maupun pembela kezaliman.

Perang 18 harI

Syahdan, Abiyasa tafakur dalam-dalam di sanggar pamujaan tempat tinggalnya di Pertapaan Saptaarga. Pada hari-hari itu, para cucu dan buyutnya, yakni keluarga Pandawa dan Kurawa, baku bunuh di Kurusetra. Ini kodrat jagat yang tidak bisa dianulir kekuatan apa pun.

Setelah hampir tiga pekan berlalu, Abiyasa tergerak nuraninya untuk menyudahi semedinya. Hatinya menggerakkan kaki untuk melangkah menuju palagan Bharatayuda. Di sanalah ia mendapati segunung bukti pilu begitu dahsyatnya pertempuran Pandawa (Amarta) melawan Kurawa (Astina).

Meski memedihkan, tidak ada yang mesti diratapi. Abiyasa sungguh sangat mengerti bahwa semuanya itu memang harus terjadi. Dari pandangan spiritualnya, Bharatayuda ialah misi suci. Inilah simbolisasi pertempuran antara nafsu putih dan hitam.

Sepanjang jalan menyusuri sudut Kurusetra, Abiyasa diam seribu bahasa. Bibirnya mengatup rapat. Namun, batinnya menggambar jelas betapa kejamnya perang. Betapa tidak, di tempat itu ribuan prajurit dan raja negara penyokong Pandawa dan Kurawa menemui ajal.

Dalam kisahnya, Bharatayuda memang tidak hanya melibatkan keluarga Pandawa yang terdiri dari lima orang (Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa) dan Kurawa (terdiri dari seratus orang dengan sulungnya bernama Duryudana). Akan tetapi, sejumlah negara bergabung. Di pihak Pandawa ada 'sponsor' dari Prabu Drupada (Raja Pancala) serta putra-putranya, yakni Drestadyumna dan Srikandi.

Bahkan, Negara Wiratha yang dipimpin Prabu Matswapati menjadi basis komando dengan arsiteknya Raja Dwarawati, Kresna. Tiga pangeran Wiratha, yakni Seta, Utara, dan Wratsangka menjadi garda terdepan pimpinan perang di hari-hari awal. Selain mereka, Pandawa dibentengi Setyaki, senapati Dwarawati.

Masih ada sejumlah negara lain yang mendukung Pandawa, di antaranya Kerajaan Kekeya, Pandya, Chola, Kerala, dan Kerajaan Magada.

Di kubu Kurawa ada Begawan Bhisma, ahli waris sejati Astina. Kurawa juga dibela Durna dan putranya, Aswatama, kemudian Krepa, Karna, Prabu Salya (Raja Mandaraka) dan putranya, Busrisrawa, serta Sengkuni. Selain para tokoh kondang itu, Kurawa dibela ribuan pasukan dari sejumlah negara koalisi, di antaranya Negara Plasejenar, Kosala, Winda, Trigarta, dan Pragyotisha.

Ceritanya Bharatayuda berlangsung selama 18 hari. Setiap hari, perang dimulai saat matahari terbit dan harus disudahi ketika sang surya terbenam. Setiap kesatria yang berhadapan tidak boleh membunuh bila lawan sedang pada posisi tidak siap.

Di antara yang paling dramatis dalam peperangan itu adalah gugurnya Bhisma dan Durna. Kenapa demikian, karena keduanya sama-sama dihargai dan sangat dihormati kedua pihak yang berperang. Baik Pandawa maupun Kurawa menangisi kepergian mereka.

Pasukan Kurawa yang dipimpin Bhisma menguasai palagan hingga hari kesembilan. Kresna lalu memutuskan tidak ada pilihan, laju Bhisma harus dihentikan. Bila tidak, Pandawa akan menjadi arang. Maka, di hari kesepeluh ia memerintahkan Srikandi menghadapi Bhisma.

Kalkulasi di atas kertas Srikandi tidak ada apa-apanya bila ditimbang dengan kesaktian Bhisma. Namun, apa yang terjadi, saat itulah Bhisma justru tidak berdaya. Ia terpana, wanita yang berada di depannya itu memancarkan wajah Dewi Amba. Amba ialah perempuan yang mencintainya tapi justru tewas di tangannya. Pada saat itulah, Kresna memerintahkan Srikandi melepaskan jemparing dan gugurlah Bhisma.

Kisah tewasnya Durna di hari ke-15 juga membuat Kurawa dan Pandawa sungkawa. Seperti Bhisma, Durna mampu mengobrak-abrik pasukan musuh. Tidak ada lawan yang mampu menandingi kedigdayaannya. Karena itu, Kresna berusaha mengacaukan konsentrasi Durna dengan cara menyebarkan kabar bohong tentang kematian Aswatawa.

Durna mendekati Puntadewa yang ia anggap sebagai murid yang tidak pernah berdusta. Ia menanyakan soal kebenaran kabar kematian anak semata wayangnya. Sebelumnya, atas perintah Kresna, Puntadewa diminta berkata bahwa Aswatawa benar mati. Mendengar jawaban itu, Durna lunglai. Pada saat itulah Drestadyumna memenggal Durna.

Pada hari ke-18, Bharatayuda dinyatakan selesai setelah Duryudana gugur meskipun ketika itu masih ada sisa-sisa kekuatan Kurawa yang masih hidup, yakni Kartamarma dan Aswatama serta Krepa.

Dijemput kereta

Setelah rampung mengelilingi Kurusetra, Abiyasa menemukan masih banyak arwah yang belum bisa kembali ke asal usul mereka. Baik itu para korban dari pihak Pandawa maupun Kurawa. Bahkan, yang paling menyentuh hatinya, sukma Durna masih bergentayangan ke sana ke mari.

Abiyasa lalu menggelar persembahyangan untuk menyempurkan seluruh arwah. Ia tidak memilah-milah arwah pembela kebajikan atau pendukung kezaliman. Mengantar mereka ke tempat semestinya merupakan kewajiban.

Dengan bersihnya Kurusetra, proses pembangunan Astina yang kemudian digabung dengan Amarta dengan nama Yawastina bisa berjalan dengan lancar. Bahkan, Abiyasa sempat pula merestui penobatan cucu canggahnya, Parikesit (cucu Arjuna), sebagai raja Yawastina.

Tidak lama kemudian, ketika waktunya tiba, Abiyasa dijemput kereta dari Kahyangan dan mengantarkannya masuk surga tanpa melewati proses kematian. Ini simboliasi atas kesucian sang petapa menjalani baktinya di marcapada.

Konteks dengan persoalan di atas, nilai yang bisa dipetik dari laku Abiyasa ialah ia tidak mengaitkan politik, urusan dunia fana, dengan kewajiban sebagai titah yang bertakwa. (M-4)

Komentar