Cerpen

Kaos Hitam, Payung Hitam

Ahad, 26 March 2017 03:29 WIB Penulis: Putu Oka Sukanta

Ilustrasi--MI/Pata Areadi

TERIK membakar kota. Beberapa gumpalan awan abu-abu tua tampak di langit. Perlahan bergerak, bagaikan orang tua bongkok yang memikul beban berat di punggungnya. Angin terhalang berembus. Jalan kota macet. Udara pengap. Saya sudah membuka semua jendela agar angin yang malas berlari bisa lebih cepat mengusap kulit yang basah oleh keringat.

"Nenek, mau ke mana? Sudah rapi. Panas begini mau pergi juga?"

"Sekarang kan Kamis."

"Besok Jumat kan?" sahutku seenaknya.

"Kemarin Rabu," Nenek menimpali sambil tertawa. Kami sering bercanda.

Nenek saya sudah rapi dengan kaos hitam. Mondar-mandir ke dapur, kamar tidur, dan kamar mandi. Saya memperhatikannya sambil membolak-balik majalah wanita. Sesekali saya mengamatinya lewat lirikan.

"Nek, panas begini jangan pakai kaos hitam. Mengisap panas. Mau enggak saya kasih baju kaos putih atau pink bermerek keren. Bisa menolak panas dan mengisap keringat. Katun 100%. Mau Nek? Kemarin saya baru membelinya." Tidak terdengar suara Nenek. Mataku mencarinya. Tidak tampak. Saya terdiam sambil lanjut membaca majalah yang menawarkan banyak produk bergengsi buat ABG. Ada juga beberapa cerita menarik. Sesekali mengambil ampiang manis dan renyah dari toples, yang dibawa nenek tiga hari lalu dari kampung.

Nenek hanya sesekali datang menengok kami. Ibu saya adalah putri satu-satunya, anak perempuan tunggal Nenek. Kalau Nenek datang, ia selalu saja punya acara, berkunjung ke teman-temannya atau ikut seminar entah apa. Saya sibuk sendiri, sehingga tidak ingin tahu lebih jauh tentang kegiatan Nenek. Ibu saya seorang guru. Berangkat pagi pulang sore. Apalagi Bapak saya, seorang eksekutif yang mengendalikan perusahaannya, meski sedang buang hajat di kamar mandi. Kami seperti punya kerajaan masing-masing, tidak saling mengganggu dan menghormati satu sama lain.

Ibu dan Bapak saya sebenarnya patut menjadi presiden dan wakilnya, karena mereka sangat demokratis. Saya tidak pernah mendengar kata tidak dari mulut mereka. Mereka hanya menekankan pada tanggung jawab, yang sesekali saja menegur saya kalau mereka sudah meragukan kebenaran tindakan saya. Saya selalu berkeringat, memberikan jawaban atas pertanyaannya: Mengapa? Saya harus menjelaskan perbuatan saya bahkan sering beradu argumen untuk menghentikan irisan-irisan tajam dari kelanjutan kata mengapa itu. Saya tidak tahu dari mana Ibu dan Bapak memperoleh metode interogasi, yang bagaikan pisau komando pasukan khusus itu.

Kadang-kadang kami tegang tidak saling menyapa selama beberapa hari. Tetapi dengan cara mendidik seperti itu, saya merasa aman dan selalu menyiapkan pertanggungjawaban. Kami sering makan ke restoran yang sederhana untuk membuang kepenatan. Terutama kalau Nenek sedang mengunjungi kami. Saya sering merasa kehilangan kalau Bapak pergi ke luar kota lebih dari tiga hari. Soal Ibu, saya tidak mau berkomentar, khawatir kalau kalian akan bilang kepadanya, bahwa saya sering berbeda pendapat dan sering tidak menyukainya. Saya suka Nenek yang lembut tapi misterius.

***

Nenek meninggalkan rumah setelah dijemput oleh seorang lelaki setengah baya dan seorang perempuan yang rambutnya sudah disulam oleh benang-benang perak.

"Ora, Nenek pergi ya. Tunggu rumah!" Nama saya Aura, tapi dipanggil Ora.

"Nenek pulang jam berapa?"

"Biasa, mungkin jam enam. Kita kan punya janji ke mall."

Nenek tidak mau mengganti baju kaos hitamnya dengan baju kaos putih atau pink yang saya tawarkan. Nenek juga membawa payung, seperti kedua orang yang menjemputnya. Mungkin untuk menghindari sengatan terik matahari, atau mungkin hujan yang turun mendadak.

Sampai jam enam sore Nenek belum pulang. Ibu baru saja sampai. Kami berencana akan ke mall jam tujuh malam, atau lebih malam sedikit. Tetapi saya sudah lapar. Saya suka makan shabu-shabu dengan kuah tomyam. Ini juga kesenangan Nenek, dan ia menyebutnya sop Thailand.

"Handphone Nenek tidak bisa dihubungi," kata Ibu kepada Bapak yang baru datang, sambil mondar-mandir ke kamar mandi dan dapur entah menyiapkan apa. Ibu tampak gelisah. Saya sudah siap memakai baju pink. Tetapi Ibu bilang, mengapa baju itu tidak diberikan kepada Nenek. Saya bilang, Nenek tidak mau. Nenek pergi dengan kaos hitam, topi hitam, celana komprang hitam, juga payung hitam."

"Seperti anak muda Bu. Nenek penuh semangat. Ke mana sih?"

"Kenapa Ora tidak bertanya kepada Nenek?"

"Sudah Ora tanya, tapi jawaban Nenek tidak jelas. Seperti hal yang sangat pribadi. Ya, Ora enggak mau mengganggunya. Apalagi sudah dijemput temannya, yang juga berpakaian hitam-hitam."

"Itulah dunia Nenek," jawab Ibu seperti tidak serius. Saya merasa ada yang misterius, tetapi saya memang tidak ingin mengetahuinya. Sudah cukup banyak persoalan yang harus saya selesaikan, baik dari meja kuliah maupun urusan pribadi saya. Pikir saya, biarlah Nenek mengerjakan apa yang menurut Nenek baik, membuat kebahagiaan. Lagi pula, Nenek sendiri tidak pernah mau menceritakannya. Ibu juga begitu, apalagi Bapak. Sepertinya mereka happy-happy saja, seperti saya juga.

Telpon Ibu berdering. Saya melihat Ibu yang dengan cekatan dan tergesa-gesa mendengarkannya.

"Jadi Nenek sekarang di UGD?" Ibu memanggil ibunya sendiri, seperti aku, dengan sebutan Nenek. Semua orang di rumah memanggilnya dengan sebutan Nenek.

Ibu serius mendengarkan suara dari seberang. "Nenek tidak apa-apa?"

Saya terdiam, memandang Ibu. Ia menarik napas panjang.

"Ya, ya tentu saja boleh. Bertiga. Nenek naik taksi saja bertiga, kita ketemu di rumah makan itu. Nenek masih ingat?"

Ternyata Nenek dan kedua temannya sudah sampai lebih dahulu. Seorang Kakek dengan rambut putih, topi hitamnya ditaruh di atas meja di depannya, baju tangan panjang hitam. Celananya biru tua. Perempuan sebaya Nenek duduk di sebelah kakek itu, memakai tutup kepala selendang hitam, seperti selendang orang kampung, ujungnya berjuntai menutup kebaya hitamnya.

"Nenek dari mana tadi?" aku menggelayut di bahu Nenek yang duduk di sebelahku.

"Oo, Ora tidak tahu toh ke mana Neneknya tadi. Lihat di tivi, mungkin besok disiarkan," sahut kakek itu.

"Ah, Nenek jadi selebriti dong. Kok diam-diam, Nek."

"Tadi dari UGD Rumah Sakit di Gambir. Seorang nenek tiba-tiba pusing. Tapi sekarang sudah sembuh."

Ketika kami sedang menyantap makanan pesanan masing-masing, si kakek yang duduknya menghadap televisi, setengah berteriak, "Nah, nah, itu beritanya. Lihat, itu Nenek kamu."

Semua mata tertuju ke televisi. Tidak hanya kami, tapi juga pengunjung restoran yang lain. Mungkin mereka dikejutkan oleh suara si kakek. Saya tidak berkedip menyaksikan Nenek. Saya tidak melanjutkan menyuap nasi dan tomyam. Langsung kehilangan nafsu makan. Nenek saya tampak di layar monitor dengan suara berapi-api.

"Suara kami tidak pernah didengar pemerintah. Kami akan terus datang ke sini, sampai Bapak yang berkuasa menepati janjinya. Naik kuda membawa candi, jangan lupa membayar janji. Sudah bertahun-tahun kami hadir di sini, tetapi hanya dianggap angin lalu, tidak ditanggapi. Seolah tidak ada masalah. Kami akan terus berdiri di sini dengan payung hitam, untuk tidak melupakan pelanggaran HAM dan pembiaran. Jangan putus asa kawan-kawan! Kita akan terus datang kemari sampai..."

Suara Nenek semakin lantang. Seperti menjerit, sampai liputan terhenti. Tanpa saya sadari airmata mengalir di pipi dan saya memeluk Nenek erat-erat.

Gambar yang ditayangkan tadi tidak bisa hilang dari pandangan mata. Mereka berbaju hitam, topi dan selendang hitam, juga payung hitam.

"Nenek, Ora bangga. Ora baru tahu siapa Nenek sebenarnya."

Jari-jari tangan Nenek yang lembut mengusap air mata saya.

**

Komentar