Gaya Urban

Yoga Serupa Terbang

Ahad, 26 March 2017 08:23 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

MI/SUSANTO

YOGA dengan gerakan akrobatik atau menggantung di udara memang bukan baru. Di Jakarta, setidaknya sudah dua tahun ini kelas-kelas yoga antigravitasi menjadi populer.

Pemandangan serupa aerial yoga juga terlihat di sebuah kelas di

Bikram Yoga@42, Plaza Senayan Arcadia, Jakarta. Minggu (19/3) pagi itu enam peserta kelas yoga dibimbing instruktur untuk melakukan gerakan-gerakan sambil menggantung di udara.

Bedanya, peyangga tubuh mereka bukan selendang atau hammock kain, melainkan tali dengan lebar sekira tiga kali ikat pinggang. Jarak ujung tali dengan lantai sekitar 1 meter. Konsep yoga ini dinamakan Fly High Yoga (FHY).

Beberapa peserta pun terlihat ragu-ragu bahkan takut. Beberapa gerakan memang terlihat jadi lebih menguji nyali karena tumpuan yang tidak lebar itu.

Beberapa gerakan yang diarahkan instruktur atau yogini FHY, Marsella Margareth, hari itu di antaranya, backward facing asana. Dalam gerakan ini kepala berada di posisi bawah sementara tangan membentang.

Setelah itu, Marsella atau yang akrab disapa Sella membimbing para peserta untuk merentangkan kedua kaki (split) dengan ujung-ujung kaki digapai tangan.

Ada juga posisi up-right baddha konasana yang dilakukan dengan posisi duduk bersila di atas belt. Gerakan yang mudah dilakukan di lantai jadi berbeda saat di kelas ini. Belum lagi menegakkan punggung, beberapa peserta sudah cukup kesulitan untuk menyeimbangkan tubuh.

Setelah melakukan semua gerakan itu, Sella juga mengharuskan setiap peserta melakukan child pose atau gerakan bersujud dengan punggung lurus dan wajah mencium lantai.

"Melakukan semua gerakan yang melayang, apalagi posisi kepala ke bawah harus diakhiri posisi child pose ini karena supaya darah yang mengalir ke kepala dalam posisi terbalik itu bisa mengalir kembali ke seluruh tubuh," jelas Sella.

Sella menjelaskan FHY memang membuat adrenalin lebih terpacu jika dibandingkan dengan kelas yoga lainnya karena peserta dituntut berani dan percaya diri untuk melakukan gerakan. "Memang sensasi yang pertama itu adalah bagaimana seseorang melawan rasa takut atas ketinggian. Apalagi, seluruh beban tubuh hanya ditopang oleh sebuah belt," jelasnya.

Ia pun tidak heran ketika banyak peserta merasa minder dan takut di awal kelas. Namun, Sella selalu meyakinkan peserta akan mampu melakukan setiap gerakan jika tubuh tetap rileks, selain tentunya percaya diri.

Dari takut jadi puas

Rasa takut memang tampak tidak lama dialami para peserta. Setelah beberapa gerakan, mereka percaya diri dan menikmati kelas itu.

"Awalnya pasti takut, termasuk saya karena gerakannya cukup ekstrem, kaki di atas dan kepala di bawah ditambah harus melakukan gerakan-gerakan kelenturan tubuh lainnya," tutur Mirna Andara Octaria, salah seorang peserta.

Mirna yang juga penyuka olahraga yoga itu mengaku baru pertama kali mengikuti kelas fly high yoga seperti ini. Bersama kerabatnya yang penasaran melihat kelas ini dari media sosial, dirinya pun memberanikan diri mencoba kelas yoga terbaru ini.

Selama hampir satu jam mengikuti seluruh gerakan yang diarahkan instruktur, Mirna mengaku langsung merasakan efek pada tubuh. Perempuan berusia 31 tahun itu merasa otot perutnya menjadi lebih kencang.

"Otot perut memang yang paling terasa. Karena semua gerakan bertumpu di perut dan dalam posisi tubuh terbalik, kita tetap diharuskan melakukan inhale dan exhale dengan normal," terang Mirna.

Rhea Audrey, perempuan 17 tahun yang juga penyuka olahraga yoga ini mengaku justru tertantang mendengar kata fly high dalam latihan itu. Pengalaman pertama Rhea dilakukan di Bali dengan kelas berada di ruang terbuka dengan pemandangan yang asri. Karena itu, ia merasa rileks ketimbang takut. Setelah beberapa kali mengikuti FHY, Rhea menilai latihan ini sangat cocok bagi mereka yang ingin mendapatkan perasaan rileks sekaligus fun dalam berolahraga. (M-3)

Komentar