Pesona

Batik dalam Gaya Edgy

Ahad, 26 March 2017 02:38 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari

MI/SUSANTO

BERAGAM siluet kimono hadir dalam koleksi terbaru Barli Asmara di panggung Plaza Indonesia Fashion Week (PIFW) 2017. Peragaan yang berlangsung Kamis (23/3) itu kimono tampil seksi dengan penggunaan yang tidak dirapatkan, paduan rok mini, serta obi hitam bertektur kulit reptil.

Namun, yang tidak kalah menarik ialah motif-motif yang digunakan. Bukan motif sakura atau motif khas Jepang lainnya, melainkan motif-motif yang identik dengan budaya dan filosofis di Tanah Air.

Mengambil tema Jambi kain negeri, nyatanya Barli memang mengambil motif-motif tradisional Jambi, seperti motif kembang sepatu, angso duo, batanghari, juga durian pecah. Motif itu diterapkan dengan cara pembatikan.

Barli menjelaskan untuk memproduksi koleksi itu, ia pun bekerja sama dengan brand-brand batik lokal, yakni Batik Mariyana, Batik Berkah, dan Batik Nafisa.

Kepada pembatik, Barli mengaku juga melakukan transfer ilmu. "Yang saya ajarkan kepada perajin dari berbagai kabupaten di Jambi ini adalah melakukan pembaruan warna, dengan memasukkan pilihan monokrom seperti hitam, putih, serta beragam semburat biru seperti midnight blue, electric blue, serta blushing blue," tuturnya. Untuk siluetnya, Barli sengaja memilih kesan edgy dengan menampilkan kimono yang dimodifikasi. Ia juga memasukkan aksen drapery dan layer.

Barli menuturkan bahwa pada awalnya perajin sempat kontra dengan konsep pembaruannya. "Mereka sempat kontra, takut saya akan mengutak-atik motif, serta mengambil keuntungan pribadi. Tetapi saya yakinkan, kalau mereka pun boleh mempromosikan kain mereka yang sudah saya rancang menjadi baju karena saya juga mendapat pelajaran dari mereka, saya ingin mereka pun maju seperti halnya saya," jelasnya tentang busana yang dibuat dengan batik cap kombinasi tulis ini.

Presentasi lain dari kain batik dihadirkan brand Bateeq. Brand ini menampilkan paduan motif geometris dan motif flora dalam siluet-siluet asimetris, cut out, dan tumpuk. Seluruh koleksinya bernuansa gelap, mulai dari biru tua, merah tua, dan hitam sehingga menguatkan kesan tangguh dan misterius.

Dekonstruktif

Sementara itu, Jeffry Tan yang berkolaborasi dengan skin care asal Korea Selatan, Sulwhasoo, menghadirkan rancangan bertajuk White Stories. Desain yang minimalis tetapi modern hadir dalam dominasi palet putih. Jeffry juga menampilkan aksen drapery.

Pola dekonstruktif juga dihadirkan Jeffry, salah satunya pada atasan berwarna putih dengan detail lipit di bagian bahu. Sekilas busana ini sebuah origami yang dipadukan dengan celana longgar yang memiliki ber-layer. Indah, feminin, tetapi juga modern dan kuat. (M-3)

Komentar