Khazanah

Menjaga Kearifan Lokal lewat Ija Kroeng

Ahad, 26 March 2017 05:00 WIB Penulis: Ferdian Ananda Majni ferdian@mediaindonesia.com

Ebet

DI Aceh, kearifan lokal berkain sarung telah dikenal luas sejak zaman Kerajaan Aceh Darussalam, belasan abad lalu. Kain pelbagai guna itu banyak digunakan dalam berbagai kesempatan. Bahkan, menjadi pakaian lintas kasta, usia, dan gender, dari para raja, bangsawan, cendekiawan, ulama, hingga rakyat jelata. Tak hanya kaum adam, kain sarung menjadi pakaian para perempuan. Tak jauh berbeda dengan wilayah Indonesia lainnya, sarung menjadi salah satu pakaian kehormatan dan menunjukkan seberapa sopannya seseorang. Bahkan di Indonesia jika sudah bersarung malah dianggap orang yang sakral ilmu agama. Pun demikian di Aceh, jika golongan raja dan bangsawan menggunakannya sebagai atribut pelengkap, kaum ulama dan rakyat jelata memakainya sebagai pakaian utama.

Berabad-abad sebelum kain sarung tersohor di Nusantara, Aceh juga salah satu daerah yang pertama mengenal budaya mengenakan sarung. Di Tanoh Rencong, kain sarung dalam bahasa lokal disebut Ija Kroeng. Sementara itu, tenun sudah ada pada masa kerajaan, tetapi bukan dalam bentuk sarung, melainkan songket, baju dan sejenisnya. Lambat laun, seiring perkembangan gaya berpakaian, kain sarung dianggap ketinggalan zaman dan kuno. Apalagi, umumnya kain sarung buatan pabrik yang beredar di pasaran bermotif kotak-kotak pelbagai corak yang begitu pakem dan kaku. Pun demikian, cerita sehelai kain sarung yang kehilangan era kejayaan dirasakan pemuda asal Banda Aceh.

Sejatinya, budaya berkain sarung yang pernah ia rasakan sejak kanak-kanak bukan sebatas pakaian, melainkan merupakan identitas budaya. Terletak di pinggiran Ibu Kota Provinsi Aceh, di Jalan Teuku Umar Lorong Mahya No 51 Gampong Setui, Banda Aceh, pagi itu, Senin (19/3) Media Indonesia mengunjungi kediaman pemuda tersebut. Sebuah garasi rumahnya disulap menjadi workshop industri kreatif, tempat ia dan dua tenaga kerja lepas menyambung kain demi kain menjadi Ija Kroeng.

Pertengahan 2010, Khairul Fajri Yahya, 30 menetap di Jakarta. Kala itu, guna memudahkannya menunaikan ibadah, dicobanya beberapa merek kain sarung untuk menunjang ibadah salatnya. Lama-kelamaan, ia merasa tak nyaman. Terlebih sebagai anak muda, segalanya haruslah diperhatikan fesyen. Ia ingin tampil beda sehingga bisa beribadah dengan khusyuk, nyaman. Apalagi jika digunakan untuk menunaikan ibadah salat Jumat di Masjid. Kekecewaannya itu kelak menjadi inspirasinya membuat kain sarung sesuai dengan seleranya. Pria kelarian 12 September 1980 pun berburu bahan baku kain dan menjelajah pasar tradisional di Ibu Kota.

“Ceritanya saat masih di Jakarta, mau­lah tampil pede saat ke Masjid memakai sarung. Tetapi dari semua produk yang saya pakai, tidak memuaskan bahkan beberapa kain sarung yang saya pakai tidak nyaman apalagi dibawa ibadah,” jelasnya. Ia mulai mendesain berupa sarung polos tanpa motif dengan putih dan hitam. Jadi penggunaan bahan katun 100% membuat kain sarung halus, lembut, dan dingin sehingga nyaman dipakai untuk ibadah dan aktivitas sehari-hari. Saat itu Khairul hanya mengunakan sendiri kain sarung kreasinya tersebut. Meski demikian, beberapa teman-teman tertarik memilik sarung itu dan ia pun memenuhi permintaan teman-temannya tanpa memungut biaya 1% pun. Hingga pertengahan 2014, ia kembali ke Aceh setelah berhenti bekerja di Ibu Kota.

Kampanye bersarung
Misi kampanye bersarung, sejalan dengan keinginannya mematahkan stigma yang melekat pada pengguna sarung dan jeli melihat peluang bisnis serta mencoba masuk pasar itu dengan industri rumahan ala kadar. Bahkan, semua orang Aceh yang pakai sarung dikuasai produser nasional. Lalu apa yang terjadi jika Ija Kroeng diklaim punya Malaysia, Aceh akan kehilangan jati diri.

Usahanya berjalan secara bergerilya tanpa branding sejak 2010 hingga 2013 di Jakarta. Lalu berlanjut pertengahan 2014 di Aceh. Sebelum mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (Haki), dia memformulasikan ulang bagaimana cara berbisnis dengan merek lokal. “Semaksimal mungkin tak bergantung kepada pihak luar Aceh. Kecuali bahan, segalanya bersumber dan dibuat di Aceh. Hingga di-branding secara resmi pada Maret 2015, hak cipta Ija Kroeng pun terdaftar di Ditjen HAKI Kemenkum dan HAM RI,” kisahnya.

Pada 2015 lalu, setahun keberadaannya di Aceh. Permintaan Ija Kroeng kembali melejit dan terciptanya pasar, banyak permintaan terhadap Ija Kroeng hitam putih polos. Produser besar nasional tidak menjawab kebutuhan pasar ini. Dengan modal branding yang telah terdaftar, Ija Kroeng mulai unjuk gigi. “Sebab dibuat di Aceh, Ija Kroeng bisa dipatenkan dengan made in Aceh. Namun tidak bisa seperti itu seandainya diproduksi di luar Aceh meskipun memakai nama Aceh sebagai mereknya. Jadi segala sesuatu yang dibuat di tempat itu harus menggunakan made in daerah itu,” katanya. Suami Rakhila, 27, mengisahkan, produk yang lahir dari sejarah sangatlah kuat. Apalagi saat ini, ada orang menciptakan sejarah dari produk. Menurutnya, semua diciptakan untuk mendukung produk.

Melalui Museum Aceh, sejarawan, dan mesin pencari Google, dia memperoleh informasi Ija Kroeng lebih tua daripada kata-kata kain sarung. “Apalagi Islam pertama masuk dari Aceh,” kenangnya. Dia juga ingin mengambil keuntungan dari bumingnya nama Ija Kroeng. Hal yang ingin disampaikan bukan hanya merek Ija Kroengnya, tetapi nama Ija Kroeng itu sendiri.” Meski bentuknya sama dengan kain sarung di daerah lain, tapi namanya milik Aceh. Hanya saja, nama Ija Kroeng tenggelam oleh sebutan sarung atau sarung dari mulut sebagian masyarakat Aceh itu sendiri, Jadi kabarkan pada dunia di Aceh ada Ija Kroeng,” terangnya. (M-2)

Komentar