Wirausaha

Agar Pemotor kian Gaya

Ahad, 26 March 2017 04:00 WIB Penulis: Suryani Wandari wandari@mediaindonesia.com

MI/RAMDANI

KINI mulai muncul istilah fesyen berkendara. Fesyen itu meliputi kendaraan yang digunakan hingga aksesori seperti jaket dan helm. Semua peranti itu kini tidak hanya dipilih hanya berdasarkan merek dan fungsinya, tetapi juga dari gayanya. Hal inilah yang membuat Arya Hidayat, 32, dan rekannya, Heret Frashtio, menjalankan Elders Company, perusahaan industri kreatif yang berfokus pada perlengkapan berken­dara mulai helm, kacamata, hingga kaus dan jaket yang gaya.

Sesuai dengan namanya yang berarti yang dituakan, Elders Company membedakan merek mereka dengan memberikan napas klasik dari setiap produk yang dijual. Memulai bisnis sejak 2013, dari awal Elders Company memang lebih fokus pada produk helm. Konsisten dengan gaya klasiknya, sekarang Elders Company telah mengeluarkan berbagai tipe, mulai helm half-face seperti Bantam hingga full-face seperti Lil Skull dan Raid yang terinspirasi oleh model cakil.

“Bantam terinspirasi dari helm era 1940-an ketika belum mengenal sterofoam dan fullface, sedangkan Lil Skull itu versi cakil, dulunya dipakai untuk motorcross,” jelas Arya saat ditemui di tokonya yang bertempat daerah Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Selain desain orisinal dari mereka sendiri, Elders Company berkolaborasi dengan Itsuki Tsutsui yang mereka sebut, pelaku kustom. Helm hasil kolaborasi tersebut mereka namai, Space, karena memang bentuknya yang mirip dengan helm astronaut. Desain sendiri dibuat Chan Itsu yang merupakan salah seorang yang berpengaruh dalam scene motor choper di Jepang.

Gaya premium
Satu helm jenis bantam dibanderol Rp1,5 juta, sedangkan helm jenis cakil seperti Lil Skull dan Raid Rp1,7 juta hingga Rp2,5 juta. Berbeda lagi dengan harga helm kolaborasi, Space, yang dipatok seharga Rp4 juta. Harga yang terbilang tinggi jika dibandingkan dengan helm generik itu, kata Arya, menjadi penanda Elders Company identik dengan proses pembuatan yang panjang serta manual. Selain itu, material fiber yang digunakan sudah teruji kualitasnya. “Kita memang concern pada materialnya, helm yang kita buat itu harus ringan, kuat, fleksibel, dan pastinya nyaman,” kata Arya.

Tak kalah pentingnya, lanjut Arya, helm-helm mereka sudah teruji kekuatannya. “Helm jenis bantam kami pernah dicoba dilindas mobil hingga gepeng, tapi kembali ke bentuk awalnya dan hanya mengalami lecet di lapisan catnya. Pertama itu kita lihat dari roots-nya, helm ini harus dipahami sebagai bagian dari culture custom,” kata pria kelahiran Bandung itu.

Selain di Indonesia, Arya sudah memasarkan produk Elders Company ke Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, serta beberapa negara Asia. Bahkan, beberapa negara, terutama Jepang, sangat mengapresiasi produk dari Elders. Pasalnya, di Jepang proses pembuatan dengan material fiber hampir punah.

Buka bengkel kustom
Selain menyediakan peralatan berken­dara, Elders sudah naik kelas dengan membuat bengkel motor yang berada satu lokasi dengan toko. Satu tahun setelah berdirinya Elders Company, Arya dan teman-temannya membuat Elders Garage. Berbagai motor mulai kelas berat seperti Harley Davidson hingga motor kelas ringan klasik seperti Honda C70 atau akrab disapa Bekjul, Bebek Tujuh Puluh, sedang dikerjakan para montir Elders Garage. Suara gerinda dan percikan api turut menggambarkan kesibukan yang ada di dalam bengkel tersebut.

Bengkel yang awalnya fokus pada restorasi mesin kini juga membuka jasa modifikasi. Motor yang ditangani juga beragam, mulai motor Jepang, Tiongkok, sampai Eropa, CC besar sampai kecil juga mereka terima. Untuk membangun motor di Elders Garage, untuk pekerjaan ringan dan motor biasa mereka mematok harga Rp1,5 juta hingga Rp7 juta, sedangkan untuk pekerjaan berat dan motor-motor Eropa bisa mencapai hingga Rp80 juta. Berawal dari menjalankan bisnis berdua dengan modal sekitar Rp10 juta untuk membuat helm, kini Arya sudah memiliki sekitar 10 karyawan yang bekerja. “Sekarang tiap bidang udah ada yang ngerjain mulai bagian desain, event, production, sampai store.”

Kampanye buat pemotor
Arya mengaku memang bisnis ini diawali atas kecintaannya dengan motor kustom. Karena hal itulah, selain menjual produk-produk yang berkaitan dengan industri tersebut Elders, juga membuat beberapa gerakan yang mendukung tetap berjalannya industri tersebut. Salah satu andalan mereka ialah kampanye Ulah Adigung Project. Sesuai dengan namanya yang merupakan serapan dari bahasa Sunda yang berarti ‘jangan sombong’. Ulah Adigung berusaha menghilangkan stigma anak motor di Indonesia yang seringkali mengotak-ngotakkan komunitasnya dalam pergaulan dunia berkendara.

Gerakan yang digagas sejak 2014 ini meng­ajak berbagai komunitas motor mulai motor balap, vespa, motor bebek, cross, hingga kustom berkendara bersama. Menurut melalui gerakan ini, dia berharap adanya persilangan budaya sesama pecinta motor walaupun jenis kendaraan yang mereka gunakan berbeda-beda. Untuk yang sifatnya lebih ke arah bisnis, Elders memiliki sebuah acara yang dinamakan Gentlemans Pack. Dalam acara tersebut mereka mempertemukan berbagai usaha milik anak bangsa dalam satu tempat seperti bazar.

Acara ini berangkat dari keperihatinan Arya atas kurang dihargainya merek-merek yang dimiliki orang Indonesia. “Padahal orang-orang Indonesia itu punya banyak merek-merek keren yang kualitasnya bisa bersaing mancanegara, jadi kita undang semua orang biar tahu produk Indonesia gak kalah sama produk luar,” Arya menjelaskan. Selain dua hal di atas, beberapa kali juga Elders mengadakan kegiatan amal. Proyek amal pertama mereka adalah membangun motor yang kemudian diberikan kepada pembalap era 1960-an,yang merupakan juara GP Indonesia 1963, Tommy Manoch.

Selain itu, mereka memberikan kursi roda kepada Tjetjep Heryana, mantap pembalap. Untuk proyek berikutnya, mereka berencana mendirikan sebuah panti asuhan di daerah Sukoharjo. “Kita concern bagaimana industri custom culture jadi longlasting, makanya banyak melakukan kerja sama dengan stakeholder seperti Kickass Choppers, Union Well, motor vlogger dimas yang memberikan dampak positif.” (*/M-1)

Komentar