Tifa

Penjelajahan Seni tanpa Batas

Ahad, 26 March 2017 01:29 WIB Penulis:

MI/ABDILLAH M MARZUQI

KOTA itu telah tenggelam. Gedung-gedung tinggi yang biasanya dianggap sebagai penanda peradaban tak lagi jemawa. Di ruang udara, ia berdiri tegak dengan manusia berlalu lalang di antaranya. Di bawah air, tak ada menyatroni mereka. Berganti dengan penghuni makhluk lain. Kota itu mati, sedangkan makhluk lain mengantikan tempat manusia. Ikan itu berlarian. Menjelajah setiap ruang yang ada dalam kotak kaca itu. Seolah menjadi gambaran peradaban yang tenggelam.

Gedung-gedung terbengkalai yang tak lagi kelihatan bentuk gunanya. Beberapa tanaman tampak hijau dalam kotak itu. Hijau dedaunan menjadi semacam medium permainan bagi ikan-ikan kecil itu. Bentuk itu seolah berlawanan arus dengan yang lain. Itulah yang menjadikan karya ini unik. Hampir semua karya yang dipamerkan berbentuk karya solid, beku, dan kaku, sedangkan karya itu memakai aquaspace yang bermedia air, lengkap dengan tanaman, pasir, bahkan ikan. “Untuk membuka ruang-ruang kemungkinan dalam seni patung,” terang Oky.

Kemungkinan baru yang dimaksud merujuk pada pengertian bahwa seni bukan hanya bisa dilihat untuk dinikmati keindahannya. Tidak pula bersifat monumental, tetapi bisa bermanfaat dan berguna bagi kehidupan. Itulah karya Oky Arfie berjudul Post (Normal) Life berukuran 60x30x30 cm. Oky berpameran bersama dengan 28 seniman lain dalam tajuk Tanpa Batas yang diselenggarakan Asosiasi Pematung Indonesia (API) Jakarta di Galeri Cipta 2 Taman Ismail Marzuki pada 17 Maret sampai 5 April 2017. Pameran kali ini melibatkan peserta dari Yogyakarta dan Bandung. Juga peserta tamu Jakarta yang tidak termasuk anggota API Jakarta.

Karya terbaru
Sebanyak 29 seniman patung berturut dalam pameran ini. Total terdapat 29 karya dengan bentuk dan gagasan masing-masing. Semua karya yang dipamerkan merupakan karya terbaru, berukuran kecil, dengan ketinggian kurang lebih 30 cm. Peserta pameran diberi ruang peluang untuk mengembangkan gagasan selebar 1 m2. Lalu apa hubungan antara kecil dan tanpa batas? Padahal, kecil kerap dimaknai sebagai terbatas. Baik dalam eksistensi, bentuk, ruang, gerak, dimensi, arti, maupun pemahaman tentang segala sesuatu, sedangkan tanpa batas dalam konteks seni bisa diartikan sebagai proses kreatif yang biasa dimulai dengan angan-angan, imajinasi, dan pikiranpikiran. Semuanya bisa melanglang ke mana-mana, ke dimensi apa pun, dengan bebas, tanpa batas.

“Kecil kehilangan makna terbatasnya, sebaliknya menjadi mengandung intisari nilai dari satu penjelajahan penghayatan tanpa batas,” terang Benny Ronald Tahalele dalam pengantarnya. Karya Oky menjadi salah satu karya yang mengejawantahkan prinsip kecil dan tanpa batas tersebut.

Ruang baru yang didamba bisa hadir dengan semangat untuk mencoba berbagai kemungkinan. Karya seni yang berguna, berfungsi, dan bermanfaat. Sebab seni tidaklah berjarak dengan kehidupan sehari-hari. Tidak pula ada jurang pemisah antara karya seni dan masyarakat. “Seni begitu dekat dengan kita,” pungkas Oky. (Abdillah M Marzuqi/M-2)

Komentar