Tifa

Cinta yang Terlalu Dalam

Ahad, 26 March 2017 01:05 WIB Penulis: ABDILLAH M MARZUQI abdizuqi@mediaindonesia.com

MI/ABDILLAH M MARZUQI

BUSUR itu melengkung. Tak kuasa menahan rentangan tali yang mengikat kedua ujungnya. Sedang kedua tangan sang tuan itu begitu kokoh memegang kendali. Seolah tak beri sempat untuk tali busur mengedorkan tegangan. Anak panah yang hanya pasrah. Ia tak mampu memilih tubuh siapa yang menjadi sasaran. Ia juga tak berhak mengumpat bagian tubuh mana yang harus ditembusnya. Semua berada kuasa sang tuan.

Seketika sang tuan melepas kendali tali busur. Anak panah telah bersiap dengan tugasnya. Melesat cepat menuju sasaran. Tak peduli siapapun. Bahkan ketika itu adalah saudara sekandung satu rahim dari sang tuan. Ia tak boleh menolak. Karna roboh. Tubuhnya tak mampu lagi menegak. Ketika anak panah dari Arjuna menghujam tubuhnya. Ia meregang nyawa di pangkuan ibunya Kunti, oleh panah adiknya Arjuna.

Itulah sekelumit gambaran dari pentas Arka Suta yang digelar Padnecwara di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki pada 16-17 Maret 2017. Pertunjukan ini dibuka dengan Tari Pradapa Ngambar. Tari tersebut ialah gubahan dari Retno Maruti yang menggambarkan pancaran bahagia dan kegembiraan wanita dalam menjalani kehidupan. Apapun itu, selalu bersyukur dan bersemi di dalamnya, ketika suka maupun duka.

Kali ini, lakon itu terasa istimewa. Sebab berkenaan dengan usia Padnecwara yang menginjak tahun ke 41. Sekaligus menandai usia maestro tari jawa klasik Retno Maruti yang menginjak 70 tahun. Arka Suta (Arka matahari, Suta anak) adalah salah satu julukan bagi Karna Basusena. Seorang bayi yang lahir dari kecamuk pertanyaan dan dibuang demi menjawab begitu banyak prasangka. Seorang bayi yang diraih dari tepian sungai oleh sepasang kasih sayang Adirata
dan Nada. Walaupun mereka hanya kusir, mereka menumbuhkan Karna sebagai laki-laki.

Tumbuh sebagai laki-laki pejuang, Arka Suta tahu benar apa itu rasa sakit, dan karenanya dia menemukan jawaban atas apa yang dinamakan cinta. Cinta yang ada pada Arka Suta adalah keagungan yang tak bisa mati, meskipun jasadnya rebah di pangkuan Kurusetra. “Perjalanan hidup seorang Karna, menarik perhatian kami untuk diungkapkan dalam sebuah garapan, bukan karena perang saudara seibu saja yang menjadi puncak kehidupannya. Dalam Arka Suta, yang berarti Anak Sang Surya, Karna akan ditampilkan melalui bingkai-bingkai kehidupan yang dijalaninya sebagal takdir,” terang koreografer Rury Nostalgia.

Perang batin
Kesetiaan terhadap Junjungannya yang sekaligus sahabatnya, Duryudana anak Dretarastra, memaksanya untuk menghadapi adiknya sendiri, Arjuna, dalam perang Bharatayuda. Kesetiaannya kepada istrinya Surtikanti, dan Ibu Nada sebagai ibu angkat yang merawatnya sejak kecil, menempatkan kedua wanita itu pada kemuliaan. Kesetiaan Karna terhadap janji kepada Kunti, ibu kandungnya, membuat ia bersumpah bahwa putra Kunti tetap lima orang, entah dia atau Arjuna yang harus mati.

Kesetiaan Arka Suta terhadap takdirnya, menggiringnya ke dalam sebuah perang batin yang sangat dalam karena ia harus menyerahkan nyawanya pada kematian di tangan adiknya sendiri, Arjuna. Pertunjukan sekira dua jam ini terbagi menjadi lima adegan. Pertama, sekilas pembicaraan antara Karna dan Kresna, tentang apa arti kesetiaan dan kebenaran. Kedua, ujian kesaktian para siswa perguruan Sokalima.

Pandawa dan Kurawa sebagai sesama siswa Begawan Dorna. Karna muncul sebagai peserta, namun ditolak mentah-mentah oleh Arjuna dengan alasan Karna bukan bangsawan. Duryudana, saat itu juga menobatkan Karna sebagai anggota keluarga Kurawa. Adegan 3, Karna menikahi Surtikanti, perempuan yang dicintainya. Adegan 4, Kurawa menjebak Pandawa dengan mengajak mereka berjudi menggunakan dadu.

Pandawa bukan saja kehilangan kerajaannya, bahkan Drupadi pun dipermalukan Kurawa. Karna hanya diam seribu bahasa ketika menyaksikan Drupadi dipermalukan. Drupadi marah. Kunti meredakan hati Drupadi dan membujuk Kamo agar berpihak pada Pandawa, Karna menolak dengan halus, karena dia sudah memilih setia kepada Duryudana. Penutup, adegan kelima, perang keluarga Barata pun pecahlah. Karna melawan Arjuna. Karna tewas, ditunggui dua ibunya.

Ini adalah kisah seorang Karna yang selalu dihina dengan sebutan sebagai anak kusir, karena ia ditemukan dan dirawat oleh kusir Astina Adirata dan istrinya Nada. Siapa pun dia, tetap anak Kunti, kakak kandung Pandawa. Rasa sakit dalam hatinya karena tidak diakui kemenangannya pada sayembara Drupadi, hanya karena ia anak kusir, menimbulkan gejolak tersendiri dalam sanubarinya. Sebagai seorang Ibu, naluri Kunti begitu kuat setiap ia berhadapan dengan Karna. Namun takdir menentukan Kunti harus menghadapi kematian anak pertamanya, oleh panah Arjuna yang tak lain adalah adik sang
Arka Suta.

“Arka Suta yang merupakan karya bersama ini adalah persembahan kami untuk mama Maruti (Retno Maruti) tercinta, sebagai rasa syukur atas usia yang ke-70, semoga Tuhan selalu melimpahkan berkat untuk mama,” terang Rury Nostalgia. Pentas ini memuat pesan tentang kesetiaan dan cinta. Dua kunci itulah yang bisa diteladani dari Karna. Meski sebab kesetiaan, Karna harus rela berakhir nafas oleh anak panah adiknya sendiri, Arjuna.

Cinta juga menjadi hal yang menarik dari Karna. Bisa cinta dengan saudaranya, ibunya, istrinya, dan adiknya. Karna cinta pula, Karna rela terbujur sebab panah Arjuna. “Cinta itu terlalu dalam buat Karna,” pungkas Rury. (M-2)

Komentar