Jendela Buku

Menjelajahi Kearifan Kuno Dunia Arab

Sabtu, 25 March 2017 01:52 WIB Penulis: Wnd

ABU DISA, atau yang kerap dikenal dengan nama Usfur, tukang tenun di Baghdad, tidak pernah terpikir untuk bisa tinggal dan menjadi sahabat sang raja.

Hingga suatu hari, ketika akan kembali ke rumah, Usfur melihat seseorang yang mengaku sebagai ahli nujum sedang dikelilingi banyak orang.

Si ahli tersebut sedang membacakan satu per satu peruntungan pada setiap orang, yang kemudian berbalas imbalan.

Begitu sampai rumah Usfur pun menceritakan kepada sang istri, dengan segera ia diminta untuk menjadi ahli nujum dengan bekal permadani dan buku-buku tua.

Sebenarnya Usfur ragu karena ia tidak bisa membaca dan menulis, tapi ia juga enggan berpisah dengan istri yang dicintainya.

Sampai kemudian, sang putri mendengar teriakan ahli nujum baru tersebut dan meminta seorang pelayannya untuk menemui serta menanyakan perihal kehamilannya.

Sang pelayan bergegas dan lantas menyerahkan dinar kepada Usfur, dengan lagak sebagai ahli nujum ia pun memuji keberuntungan sang putri raja yang akan memiliki bayi kembar, tapi tempat melahirkannya bukanlah di bumi ataupun langit.

Berita tersebut disampaikan kepada sang putri di malam hari saat dirinya sedang ingin duduk dan menghirup udara segar di rumah pohon tukang kebun.

Ia pun memanjat dan duduk di sana, tiba-tiba dia merasa hendak melahirkan dan tidak punya kekuatan untuk menuruni pohon.

Akhirnya sang putri pun melahirkan bayi laki-laki dan perempuan di atas pohon.

Usfur kembali mendapat hadiah, juga kembali mendapat permintaan untuk meramal serta menyelesaikan masalah.

Berulang kali dia meminta kepada istrinya untuk segera meninggalkan kota, tapi istrinya tetap membujuk Usfur agar tidak berhenti menjadi ahli nujum dengan berserah kepada kuasa Allah.

Berserah diri

Tak ada hal lain yang diucap sang istri selain berserah diri kepada Allah karena Dia-lah Yang Mahamengetahui dan Mahamenolong.

Pun dengan salah satu kisah di buku pertama, perihal Pangeran Kaukab, anak Raja Fulk penguasa dua sungai, Jaihun, dan Saihun.

Kedua tangan dan kaki Pangeran Kaukab telah dipotong bendaharawan dari Raja Jaihun.

Namun, berkat ketulusannya meminta dan berserah kepada Allah, semuanya hadir kembali ia pun dapat memperjuangkan diri untuk kembali bertemu dengan sang ayah.

Kedelapan belas cerita yang terbagi dalam tiga buku bertajuk Hikayat Arabia Abad Pertengahan; Cerita-cerita Menakjubkan yang Baru Ditemukan ini begitu kental dengan pelajaran dari kearifan kuno dan agama.

Tak ada tempat lain untuk berserah diri kecuali Tuhan Yang Mahasegalanya.

Keyakinan akan kekuatan Sang Pencipta lekat pada setiap ulasan cerita, baik dalam keyakinan seorang muslim hingga pemeluk nasrani.

Tutur bahasa yang terkadang asing, kemudian dapat diterjemahkan dengan bantuan glosarium di bagian belakang buku terbitan Alvabet ini.

Pembaca bisa bermain imajinasi melalui cerita-cerita yang kadang sulit dipercaya, seperti diantar menuju gerbang negeri dongeng.

Rangkaian cerita dalam buku ini baru ditemukan pada 1933, terkumpul dalam satu naskah compang-camping di sebuah perpustakaan Istanbul, Turki.

Bagi yang menyukai kisah-kisah serupa legenda 1.001 malam, buku ini tepat untuk kembali mengantar kesenangan membaca serupa membaca dongeng dan mendapat pelajaran kearifan kuno, untuk selalu bersyukur dan berserah diri kepada Sang Pencipta. (Wnd/M-2)

_________________________________

Judul: Hikayat Arabia Abad Pertengahan; Cerita-Cerita Menakjubkan yang Baru Ditemukan

Penerbit: Alvabet

Penerjemah

(Bahasa Inggris): Malcolm C Lyons

Penerjemah

(Bahasa Indonesia): Adi Toha

Tahun: Januari 2017

Komentar