Jendela Buku

Cahaya yang Mengawali Semesta

Sabtu, 25 March 2017 04:57 WIB Penulis: Bintang Krisanti

DI suatu pagi, Juli 1965, Presiden Pertama RI Soekarno kedatangan tokoh-tokoh dan cendekiawan, di antaranya Prof Kadirun Yahya, Prof Brojonegoro, Prof Syarif Thayib, juga Kapolri dan Duta Besar Belanda saat itu.

Soekarno senang dengan kedatangan mereka dan terutama menyambut hangat Kadirun.

Soekarno meminta pria yang merupakan ahli fisika sekaligus ahli sufi itu duduk di dekatnya.

Rupanya sang pemimpin revolusi sudah cukup lama mendengar keunggulan Kadirun dan ingin menanyakan suatu hal yang sudah 10 tahun ini belum ia temukan jawaban yang memuaskan.

Sebelum masuk ke pokok pertanyaan, Soekarno menceritakan terlebih dulu bahwa ia sudah banyak melihat orang yang wujud matinya tidak baik.

Soekarno percaya bahwa keadaan itu merupakan akibat dosa selama hidup.

Sebagai seorang muslim, Soekarno ingin dosanya diampuni Allah SWT sehingga dapat berpulang kepada-Nya dalam keadaan baik.

Masih dalam bahasa Belanda, Soekarno kemudian mengungkapkan sebuah hadis tentang pengampunan dosa yang sangat menyentuhnya.

Hadis itu mengenai perempuan pendosa yang memberi minum seekor anjing yang kehausan di padang pasir.

Melihat tindakan itu, Rasulullah yang tengah lewat menyebut sang perempuan telah dimaafkan segala dosanya oleh Allah SWT dan dijadikan ahli surga.

Soekarno masih sulit memahami kisah itu karena di sisi lain, ajaran agama juga menyebut bahwa jalan menuju surga sangat sulit.

Butuh ibadah berpuluh-puluh tahun dan itu pun jika Allah SWT meridhoi.

Soekarno meminta penjelasan Kadirun untuk dapat memahami korelasi jalan panjang menuju surga dengan pengampunan pintas seperti yang dianugerahkan pada perempuan itu.

Setelah hening sejenak dan mengharap keridaan Allah SWT, Kadirun menjelaskan dengan pengandaian cara eksakta.

Di atas kertas, ia menulis beberapa contoh persamaan pembagian.

Mulai dari 10/10=1; 10/100= 1/10; 10/1000= 1/100, dst.

Kemudian, ia menuliskan pembagian dengan bilangan tidak terhingga (~), misal 10/~ =0.

Seterusnya pula nilai berapa pun jika dibagi dengan ~, akan menghasilkan 0.

Kemudian sebaliknya, nilai berapa pun jika dikalikan dengan ~, akan menghasilkan jumlah ~.

Kadirun pun menjelaskan bahwa bilangan ~ itu ibarat kebesaran Allah SWT.

Maka, berapa banyak pun dosa kita jika dibagi dengan sebuah tindakan yang tulus hanya untuk Allah SWT, dosa itu akan menjadi 0.

Sebaliknya pula untuk pahala.

Meski pahala atau kebaikan yang kita lakukan hanya 1, jika dikalikan dengan kebesaran Allah (dilakulan dengan niat tulus), akan menjadi pahala yang besarnya tidak terhingga.

Penjelasan sederhana Kadirun berhasil memuaskan Soekarno.

"Geweldig (hebat)," puji Soekarno yang saat itu berusia 64 tahun kepada Kadirun.

Setelah memahami jalan pengampunan itu, Soekarno lantas bertanya bagaimana caranya agar dapat selalu mengarahkan niat dan tindakan hanya kepada Allah SWT.

Mengenai hal ini, Kadirun menjawab bahwa manusia ibarat radio yang harus mencari frekuensi yang sama dengan pemancar jika ingin mendapat sinyal.

Untuk mendapatkan frekuensi Allah SWT itu ialah dengan memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Mengapa melalui Rasulullah? Segala keunggulan Rasulullah sebagai manusia pilihan, kekasih Allah SWT sekaligus nabi akhir zaman inilah yang dijelaskan dalam buku Nur Muhammad -- Penyebab Terjadinya Alam Semesta.

Buku tersebut merupakan buku terbaru dari Ir Agus Haryo Sudarmojo.

Karya-karya terdahulu dari pria berlatar belakang ilmu geologi ini di antaranya Menyibak Rahasia Sains Bumi dalam Al Qur'an; Perjalanan Akbar Ras Adam dan DNA Muhammad.

Seperti juga karya-karya terdahulu itu, buku Nur Muhammad memadukan penjelasan dari ayat-ayat kitab suci dan hadis dengan sains, termasuk penemuan-penemuan teknologi terkini. Dengan begitu, meski buku Nur Muhammad termasuk ringkas, hanya 270 halaman, tetap saja pembaca akan merasa seperti menyelami kolam ilmu yang dalam dan memukau.

Cahaya Pertama

Salah satu keistimewaan dalam buku ini ialah pembahasan Rasulullah yang bukan hanya dari sisi materi jasad biologis, melainkan seperti yang tertera dalam judul, pembahasan itu juga pada sisi Rasulullah ketika masih dalam bentuk cahaya.

Cahaya (nur) Rasulullah sebenarnya merupakan ciptaan pertama Allah SWT.

Bahkan, sebelum diciptakannya qalam (pena cahaya) yang menuliskan seluruh skenario alam semesta dalam Lauh Mahfuzh.

Cahaya Rasulullah berasal dari cahaya Allah SWT.

Dari cahaya Rasulullah itu kemudian seluruh makhluk, ruang, waktu, dan energi tercipta.

Hal ini didasari pernyataan dari berbagai hadis, salah satunya Hadis Qudsi yang berbunyi "Sesungguhnya aku mencipatakan roh Muhammad dari nur wajah-Ku."

Kemudian dalam hadis riwayat Jabir bin Abdillah r.a., Rasul berkata, "Wahai Jabir, sesungguhnya Allah Taala sebelum segala sesuatu, Dia menciptakan nur Nabimu yang berasal dari nur-Nya."

Penciptaan Nur Muhammad bahkan sebelum penciptaan Nabi Adam juga tecermin dari kebiasaan tawasul kepada Rasulullah.

Tawasul ini sudah dilakukan para nabi dan orang-orang saleh jauh sebelum kelahiran Rasulullah.

Bahkan, Nabi Adam menyertakan tawasul kepada Rasulullah saat memohon ampun kepada Allah SWT ketika dikeluarkan dari janah.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan pula Nabi Adam telah melihat nama Muhammad di pilar-pilar arasy (singgasana Allah).

Di bawah arasy itu pula nur Muhammad ditempatkan pada awalnya.

Ketika Allah SWT kemudian menciptakan Nabi Adam, nur Muhammad diletakkan ke sulbi Adam.

Selanjutnya, cahaya indah itu berpindah dari sulbi ke sulbi para nabi dan orang-orang saleh hingga sampailah nur itu ke jasad Rasulullah sendiri ketika masa kedatangan sang nabi penutup diwujudkan Allah SWT.

Bukan pengultusan

Meski buku ini berfokus memuji keutamaan Rasul SAW, penulis juga menunjukkan bahwa pujian dan pujaan tersebut bukanlah pengultusan.

Hal ini ditunjukkan pada bab-bab akhir buku.

Salah satunya lewat kisah perdebatan Abdul Jalil dengan Abu Talbis Al-Zur.

Abu Talbis memandang ziarah ke makam rasul maupun salat arba'in di Masjid Nabawi ialah hal yang musyrik.

Abdul Jalil membantah pandangan-pandangan itu dengan menggunakan contoh selawat kepada rasul yang disyariatkan Allah SWT sebagai syarat sah salat.

Syariat ini menunjukkan kecintaan Allah pada rasul.

Hal-hal yang memuji rasul sesungguhnya bukanlah kemusryikan, melainkan wujud kepatuhan dan juga wujud kecintaan kita terhadap Allah SWT.

Maka, pada akhirnya buku ini bukan saja membawa pembaca mengenali lebih dalam keistimewaan dan luhurnya sifat-sifat Rasul SAW, melainkan juga meningkatkan ketakwaan dan keimanan terhadap Allah SWT.

Dengan mengenali makhluk yang palink dicintainya sesungguhnya kita juga semakin mengenali betapa luasnya cinta dan rahmat Allah SWT untuk semesta alam. (M-2)

_________________________________

Judul: Nur Muhammad

Pengarang: Ir Agus Haryo Sudarmojo

Penerbit: Bentang Pustaka

Terbit: Januari 2017

Tebal: 270 halaman

Komentar