KICK ANDY

Ungkapan Perasaan Basuki

Sabtu, 25 March 2017 03:48 WIB Penulis: Imania Kamila

MI/SUMARYANTO

BERAGAM kontroversi menyertai perjalanannya di dunia politik.

Hinaan, cercaan, hingga cibiran selama menjabat Gubernur DKI Jakarta kerap ia peroleh baik dari kalangan masyarakat maupun tokoh politik.

Kontroversi pun tak lepas menghantuinya saat persiapan pencalonan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022.

Dalam perjalanan kampanyenya, Basuki Tjahaja Purnama tersandung kasus penodaan agama. Pada 16 November 2016, Ahok, begitu pria ini akrab disapa, ditetapkan polisi sebagai tersangka.

Meski sudah menjalani 14 kali persidangan, itu tak lantas membuat dia mundur dari pencalonannya sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Dalam menghadapi semua kontroversi tersebut, kini Basuki lebih bisa tersenyum dan berlapang dada.

"Kita harus percaya kalau Tuhan itu enggak tidur. Semua kehidupan di dunia itu di bawah penguasaan Tuhan," katanya.

Seiring dengan cibiran yang diterimanya, dukungan pun mengalir untuk Basuki.

Para seniman Indonesia memberikan dukungan moral yang disalurkan dalam sebuah lagu. Tompi dan beberapa penyanyi papan atas lain mempersembahkan sebuah lagu berjudul Pemimpin Sejati.

Begitu pula dengan Slank yang khusus menghadirkan lagu Gue 2 untuk Basuki-Djarot.

Inspirasinya menjadi pejabat ia dapati dari sang ayah kandungnya, Indra Tjahaja Purnama alias Kim Nam.

"Hok, kayaknya kamu cocok jadi pejabat saja. Kamu masih ingat pepatah kuno, kan, orang miskin enggak bisa melawan orang kaya. Kamu itu orang kaya, tapi enggak bisa lawan pejabat. Kalau kamu mau menantang pejabat, kamu bisa bangkrut. Kamu kalau suka menantang pejabat yang korup, jadi pejabat saja baru imbang," ujar beliau kala itu kepada sang anak.

Tangis Basuki

Dalam persidangan perdananya pada 13 Desember 2016, Basuki yang terkenal tegas, kasar, dan arogan, tampak menitikkan air mata. Tak sedikit yang beranggapan itu sandiwara.

Ada sebuah memori yang membuatnya tak mampu menahan tangis.

Saat itu Basuki tiba-tiba teringat akan sosok almarhum sang ayah kandung.

"Waktu saya keluar ruangan sidang, baru saya sadar hari itu persis tanggal bapak saya meninggal pada 1997. Saya waktu itu teringat bagaimana bapak saya meninggal."

Kala itu Basuki harus membawa ayahnya yang mengidap kanker stadium empat ke rumah sakit.

Saat hendak menentukan kamar untuk sang ayah, ibunda Basuki tahu putranya tidak memiliki uang karena baru memulai kerja.

Sang ibu memberikan keputusan kepada Basuki untuk menempatkan suaminya di kamar VIP atau di kelas manapun.

Kebimbangan membawa Basuki akan kisah yang ia dengar dari sang ayah saat menjenguk rekannya.

Karena berasal dari keluarga kaya, teman yang dikisahkan tersebut memberikan toko-toko kepada anak-anaknya.

Namun, ketika pria itu sakit, sang anak hanya menempatkan ayah mereka di kamar kelas satu.

Otomatis ibu mereka harus menunggu suaminya di kursi dan tentunya itu menyiksa.

Sekembalinya di rumah, ayah Basuki mengingatkan anak-anaknya untuk tidak berlaku seperti itu.

Akhirnya Basuki mengambil kelas VIP untuk perawatan ayahnya.

Karena tak punya uang, Basuki yang baru bergabung bekerja dengan temannya menjadikan saham yang ia miliki sebagai jaminan.

Persoalan tak berhenti sampai di situ.

Beberapa bulan setelahnya, ternyata sang ayah harus masuk ICU.

Biaya kembali menjadi masalah yang terlintas di benak Basuki.

Jika sang ayah harus berada di ICU lama, artinya ia tak akan mampu membayarkan sahamnya. Sempat tebersit dalam benaknya agar sang ayah tak berlama-lama berada di ICU.

Namun, tak sampai berhari-hari, sang ayah akhirnya meninggal dunia.

Gus Dur dalam persidangan

Saat persidangan ke-14 Basuki, diputarkan video Abdurrahman Wahid yang sedang berkampanye ketika Pemilihan Gubernur Bangka Belitung 2007.

Jika dibandingkan dengan menghadirkan saksi-saksi ahli lain untuk meringankan pembelaannya, Basuki lebih memilih untuk menampilkan video Gus Dur.

Basuki sangat mempercayai pendapat yang dipaparkan Gus Dur.

Pernyataan Gus Dur dianggap penting bagi Basuki terkait dengan penafsiran Surat Al-Maidah ayat 51.

Dalam video tersebut, Gus Dur mengatakan pilkada tidak ada kaitannya dengan agama.

Gubernur merupakan orang yang ditunjuk sebagai pembantu dan pelayan rakyat, bukan dalam konteks yang selama ini dipahami.

Pemahaman Gus Dur itulah yang membuat Basuki terinspirasi dan menuliskannya dalam sebuah buku berjudul Merubah Indonesia pada 2008.

Basuki menulis memilih pemimpin yang bersih, transparan, dan profesional, bukan berdasarkan suku, agama, ras, dan ataupun golongannya.

Dalam buku tersebut terdapat subbab yang berjudul 'Berlindung di Balik Ayat Suci'.

"Jadi saya harus membuktikan ini bukan pemikiran saya. Ini memang saya terpengaruh dengan apa yang dikatakan Gus Dur. Saya tulis buku kemudian saya samakan. Jadi saya tidak ada niat untuk menista agama," ujarnya.

Setelah bukunya diterbitkan, Basuki mengatakan tak ada larangan dalam peredaran buku tersebut.

Apa yang ia tuliskan dalam buku pun kerap ia jadikan sebagai pembahasan dalam seminar dan acara-acara lainnya.

Keikutsertaannya dalam pilkada diyakini Basuki yang menimbulkan pemahaman berbeda atas apa yang ditulisnya.

Siapkah dipenjara?

Atas kasus penodaan agama yang menimpa dirinya, Basuki mengaku akan menerima segala keputusan.

"Minimal saya dari dulu olahraga bisa di ruangan sempit kok. Belum pakai alat," canda Basuki.

Ia percaya selalu ada kebaikan dalam setiap hal yang menimpanya.

Bagi Basuki, kekuasaan merupakan pemberian Tuhan dan akan kembali diambil oleh-Nya pula.

"Ya saya kalau memang Tuhan izinkan ya saya siap. Harus terima kalau Tuhan izinkan mau bilang apa. Semua orang juga bisa duduk di posisi saya juga kan. Kalau kita percaya takdir, enggak ada yang bisa menolak kok. Kita jalani saja kalau percaya ini sudah takdir,"

Tak hanya Basuki, anggota keluarga pun sudah siap mental dalam menghadapi keputusan terpahit.

Pernyataan Basuki tentang Nelson Mandela yang menjadi presiden setelah dipenjara selama puluhan tahun tak luput dari perhatian publik. Tak hanya sebagai penyemangat dirinya, pernyataan tersebut juga ia berikan kepada segenap yang mendukung dirinya.

Meski perjalanan berpolitik Basuki penuh tantangan, tidak ada penyesalan baginya untuk tetap berjuang dalam pilkada.

"Saya selalu percaya hidup ini ada pengaturannya dari Tuhan. Pertama, saya meyakini God's Confidential Control. Kedua, specially chosen yang artinya semua orang sudah dipilihkan menjalankan takdirnya. Ketiga, enggak ada yang harus kita takutkan kalau kita mulai sadar Tuhan yang pegang kontrol, Tuhan yang memilih orang, jadi apa yang harus ditakuti. Keempat, saya percaya needs to be provided bahwa kebutuhan saya akan dipenuhi Tuhan," tutupnya. (M-4)

Komentar