Inspirasi

Saling Membahu Antaribu Tunggal

Kamis, 23 March 2017 03:21 WIB Penulis: Rizky Noor Alam

MI/Adam Dwi

DI salah satu kedai kopi di Jakarta, Mia Amalia mengungkapkan bagaimana ibu tunggal membutuhkan banyak dukungan.

Penulis buku itu merupakan salah satu pencetus komunitas Single Mom Indonesia, wadah diskusi dan saling dukung para ibu yang menjadi ibu tunggal.

"Jadi, pada 2012 itu aku menerbitkan buku The Single Moms. Ketika launching, akhirnya aku bertemu dengan bloger, namanya Maureen Hitipeuw. Kebetulan dia posting-annya kebanyakan tentang perempuan, keluarga, dan being a single mom," jelas Mia kepada Media Indonesia, Selasa (21/3).

Pertemuan yang semakin intens dengan Maureen membuat mereka menyadari para perempuan yang bercerai butuh dukungan dari banyak pihak.

"Seiring dengan berjalannya waktu, kita menyadari ternyata sebagai perempuan yang bercerai kita butuh support, sementara selama ini support terdekat dari keluarga itu jarang kita dapatkan karena di banyak kasus, ketika perempuan bercerai, justru perempuan yang dipersalahkan. Dia disalahkan kenapa dia tidak sabar (dalam menghadapi suami) dan tidak mau memaafkan (suami)," imbuhnya.

Dari situ akhirnya lahir ide membuat Single Mom Community. Komunitas itu berawal dari grup Facebook pada 2015.

"Dari Facebook itu akhirnya kita mengadakan pertemuan nonformal yang awalnya cuma makan, curhat, haha-hihi, sampai akhirnya kita punya program-program. Misalnya, kita punya program yang ketemu bulanan dengan tema tertentu," lanjut Mia.

Salah satunya, untuk bulan depan, komunitas mereka bertemu praktisi hukum guna memberikan gambaran-gambaran mengenai aspek hukum saja yang harus diperhatikan jika ingin bercerai.

"Sebenarnya kita sendiri enggak punya mimpi muluk-muluk, tapi sekedar ingin perempuan-perempuan yang bercerai ini tidak merasa sendirian. Mereka punya teman yang support, punya teman yang bisa ditanya mengenai bagaimana menjadi single mom atau bagaimana keluar dari kesedihan pascabercerai," tuturnya.

Dukungan yang diberikan antar nggota pun beragam, tidak sekadar bertukar informasi, mereka bahkan saling menjadi pengasuh sementara bila ada anggota yang membutuhkannya karena urusan pekerjaan.

"Jadi, kita ingin teman-teman ini punya support yang memungkinkan diri mereka untuk berkembang, tanpa rasa takut," cetusnya.

Di samping itu, dukungan tersebut membuat anak-anak mereka tidak merasa sendiri.

Banyak anak lain yang juga diasuh para ibu tunggal.

"Dengan adanya single mom, kita ada play date jadi sesama anak-anak ngedate dan ibu-ibunya sambil ketemuan sehingga anak-anak merasa bahwa ternyata banyak ya anak-anak lain yang juga sekarang tinggal sama ibunya. Jadi, mereka tidak merasa lain sendiri karena orangtuanya tidak satu rumah," papar Mia.

Hukum

Mia berharap ke depan komunitas ini tidak hanya memberikan dukungan, tetapi juga ke arah pengembangan diri para anggota, misalnya, pengetahuan masalah hukum.

"Sekarang dukungannya mau lebih ke arah yang pengembangan diri, dimulai dari pengetahuan hukum. Nantinya kita mau ke arah yang praktis, misalnya, kaya buat sabun, makanan sehat, tapi intinya kita ingin punya kegiatan yang dalam jangka panjang dapat mengembangkan diri para single mom," lanjutnya.

Pengetahuan hukum yang dimaksud ialah agar para ibu tunggal mengetahui bagaimana sebenarnya proses mengajukan gugatan cerai, apa yang harus diperhatikan ketika mengajukan gugatan atau saat diceraikan, dan apa yang harus dilakukan.

Sayangnya, masih banyak ibu tunggal yang masih buta akan hukum itu.

Saat ini ada sekitar 200 anggota komunitas dengan beragam pendidikan, pekerjaan, dan latar belakang perceraian di seluruh Indonesia.

"Intinya kita ingin teman-teman kita ini tidak takut untuk hidup sendiri karena ada banyak orang yang bertahanan dalam kehidupan yang tidak membahagiakan, tetapi mereka tetap berusaha menjalankan karena takut enggak bisa survive, kita mau support mereka. Bukannya kita meng-encourage orang untuk bercerai, tapi kita mau support mereka bahwa kita sebagai perempuan ialah manusia utuh yang sebenarnya bisa berdiri sendiri," lanjut ibu yang hobi membaca, memasak, nonton film, dan travelling tersebut.

Mia juga mengingatkan masyarakat juga memiliki tiga peran yang bisa dilakukan guna mendukung ibu tunggal. Pertama, tidak memberikan stigma, tidak mendiskriminasi, dan tidak memandang para ibu tunggal sebagai kaum yang lemah.

"Pertama melepaskan stigma dari janda, janda itu penggoda, aku sering dengar seperti itu karena kalau sampai diceraikan itu pasti enggak benar, meskipun yang salah suaminya tetap saja perempuannya yang disangka tidak benar, enggak bisa memaafkan, enggak bisa bersabar," jelasnya.

Tidak mendiskriminasi ialah, menurut Mia, contohnya jika ada seorang ibu tunggal yang memiliki prestasi di kantornya dan mendapatkan promosi jabatan, pasti rekan-rekannya akan meragukan kemampuannya karena ditakutkan nanti konsentrasinya terpecah karena mengurus anak.

"Terakhir adalah setop melihat single mom sebagai perempuan yang lemah, justru diperlukan keberanian untuk menjadi single. Orang berani mengambil keputusan seperti ini karena sebagai manusia kita enggak kurang atau lebih kok dari yang punya pasangan, kita menjadi single justru karena kita hati-hati dalam memilih pasangan," pungkas Mia.

(M-4)

_______________________________________________

BIODATA

Nama: Mia Amalia

Tempat, tanggal lahir: 21 Februari 1974

Pendidikan: S-1 Mass Communication-Universitas Indonesia

Anak:

1. Leila Fauzia

2. Tiara Muthmainna

3. Nyala Sophia

4. Deron Christopher

Karier:

1. Maret 2016-sekarang, Managing Editor Asco Media Utama.

2. Oktober 2015-Februari 2016, Marketing Manager De Moksha Resort, Bali.

3. Mei 2015-Oktober 2015, Part Time Editor in Chief Asco Media Utama.

4. Mei 2004-sekarang, head writer.

5. November 2010-April 2011, Consultant Supreme Sukma.

6. Mei 2010-Oktober 2010, Editorial Secretary IPI News-New York Times

7. Mei 2008-Mei 2010, Owner Creative ABC Production

8. Februari 2007-Mei 2007, Consultant-Script Editor Search for Common Ground Indonesia

9. November 2002-November 2004, Script Editor di Multivision Plus

10. Februari 2002-sekarang, freelance writer.

11. Oktober 2000-Mei 2002, Editor/Managing Editor/Office Manager Djakarta! City Life Magazine

12. Oktober 1998-September 2000, Assistant Manager PT Interwestindo.

13. Februari 1995-Februari 1997, Managing Editor aikon! Alternative Magazine.

Penghargaan:

1. 2004, Program Remaja Terpuji dari Forum Film Bandung untuk sinetron Aku bukan Rio.

2. 2009, Program Remaja Terbaik dari Komisi Penyiaran Indonesia untuk sinetron Kepompong.

Komentar