Internasional

Norwegia, Negara Paling Bahagia di Dunia

Selasa, 21 March 2017 09:32 WIB Penulis: MI

AFP

JIKA Anda ingin pergi ke tempat yang membahagiakan Anda, uang saja tidak akan cukup. Sebuah mantel musim dingin dan rasa komunitas yang tinggi mungkin akan membantu.

Negara Nordik, Norwegia, dinobatkan sebagai negara paling bahagia di bumi meskipun harga minyak, yang menjadi bagian penting perekonomian negeri itu, menurun drastis.

Berbanding terbalik, penduduk Amerika Serikat (AS) malah ditemukan semakin sedih. Padahal penghasilan ‘Negeri Paman Sam’ terus merangkak naik selama beberapa dekade terakhir. Skor kebahagiaan di sana bahkan turun 5% selama dekade terakhir.

Norwegia berhasil melompat ke tingkat tertinggi dalam laporan World Happiness. Setelah tahun lalu menempati posisi empat, Norwegia mendepak juara sebelumnya, Denmark, yang tahun ini harus puas di posisi kedua.

Peringkat lima besar selanjutnya diisi Islandia, Swiss, dan Finlandia.

Posisi Negeri Paman Sam merosot ke peringkat 14 dari 13 pada tahun lalu. Selama bertahun-tahun penduduk AS menilai diri mereka sendiri kurang bahagia.

“Hal-hal kemanusiaan itu yang penting. Jika kekayaan membuat lebih sulit untuk menjalin hubungan yang reguler dan tepercaya di antara orang-orang, apakah itu layak?” tanya John Helliwell, penulis utama laporan dan seorang ekonom di University of British Colombia di Kanada.

“Bahagia dan melakukan apa yang Anda sukai lebih penting jika dibandingkan dengan pikiran politisi,” tambahnya.

“Bagus untuk mereka. Saya tidak berpikir Denmark memiliki monopoli atas kebahagiaan,” ujar Meik Wiking, Kepala Eksekutif Happiness Research Institute di Kopenhagen.

Kebersamaan
Menurut Wiking, apa yang dimiliki negara-negara Nordik (Norwegia, Denmark, Islandia, dan Finlandia) adalah rasa kebersamaan dan pemahaman untuk kebaikan bersama. Nilai itu justru semakin buruk di AS.

Uang mungkin juga penting untuk bahagia. Itulah mengapa sebagian besar negara miskin putus asa. Namun, pada titik tertentu uang berlebih tidak dapat membeli kebahagian.

Pernyataan serupa diberikan Jeffrey Sach, seorang ekonom dari Columbia University di AS.

“Kami menjadi lebih dan lebih berjiwa kejam, dan pemerintah kami menjadi lebih korup, dan ketidaksetaraan meningkat. Ini adalah tren jangka panjang dan kondisi semakin buruk,” ujarnya.

Seorang peneliti dari University of Maryland, Carol Graham, juga mengatakan kelompok kulit putih miskin di perdesaan AS telah kekurangan harapan. Akhirnya tingkat kecanduan obat penghilang rasa sakit dan bunuh diri meningkat tajam di kelompok tersebut. “Ada penderitaan yang mendalam di sana (AS),” ujar Graham.

Laporan kebahagian negara ini dibuat dengan menggabungkan data ekonomi, kesehatan, dan jajak pendapat dari 155 negara selama tiga tahun sejak 2014. (AP/Ihs/I-1)

Komentar