Internasional

Popularitas PM Jepang Shinzo Abe Merosot

Selasa, 21 March 2017 09:28 WIB Penulis: MI

AP/Peter Steffen

POPULARITAS Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe terus merosot secara drastis berdasarkan jajak pendapat yang dirilis, kemarin.

Penurunan popularitas tersebut dipicu skandal yang telah mengikis kepercayaan publik terhadap pemerintahan Abe yang telah memasuki tahun kelima.

Abe yang telah menjabat perdana menteri sejak Desember 2012 tengah diterpa frustrasi terkait dengan keterlambatan penanganan bencana nuklir dan persepsi mismanagement dalam hubungan dengan sekutu utama Jepang, Amerika Serikat (AS).

Seiring kian menurunnya kepercayaan publik, Abe telah bertekad untuk membangkitkan kembali perekonomian negaranya. ‘Negeri Sakura’ yang dikenal sebagai negara dengan perekonomian terbesar ketiga dunia juga dilanda deflasi. Persoalan yang lain membelit ialah ambisi Abe untuk mengamendemen konstitusi Jepang yang bersifat defensif.

Abe sangat berharap konstitusi tersebut diubah agar Jepang dapat melakukan serangan balik jika diserang militer dari negara musuh.

Untuk membangkitkan militer Jepang, Abe juga mendirikan sekolah nasionalis yang menanamkan patriotisme dan kesetiaan kepada Kekaisaran Jepang.

Namun, dia terbelit soal lahan milik negara untuk membangun sekolah semimiliter tersebut. Dalam persoalan sekolah, Abe dituduh terlibat kesepakatan gelap.

Namun, tokoh dari Partai Demokrat Liberal (LDP) itu menegaskan dirinya tidak
berperan dalam transaksi tersebut. Bahkan, Abe siap mengundurkan diri jika terbukti terlibat.

Di tubuh kabinet yang dipimpin Abe juga muncul persoalan baru yang tengah disoroti media setempat. Skandal terbaru telah memunculkan nama Tomomi Inada yang kini menjabat menteri pertahanan.

Surat kabar terlaris setempat, Yomiuri Shimbun, menunjukkan dukungan untuk kabinet Abe telah merosot 10% dan kini dukungan menjadi 56%.

Dengan dukungan 56% yang masih terbilang tinggi, tetapi surat kabar itu mengatakan penurunan bulanan terhadap Abe cukup signifikan.

Survei yang dilakukan Yomiuri dilakukan pekan lalu dengan meminta pendapat dari 1.000 responden. Dari survei itu, sebanyak 64% responden berpendapat bahwa mereka tidak yakin dengan bantahan yang disampaikan Abe.

Apalagi pekan lalu, Yasunori Kagoike, pengelola sekolah yang menanamkan patriotisme tersebut telah mengaku pihaknya menerima sumbangan 1 juta yen, atau US$8.800 dari Abe. (AFP/Ire/I-3)

Komentar