Internasional

FBI dan NASA Siap Ungkap Peretasan

Selasa, 21 March 2017 09:18 WIB Penulis: Irene Harty

AP/John Minchillo

PARA direktur Biro Investigasi Federal (FBI) dan Badan Keamanan Nasional (NSA) akan memberikan keterangan yang ditunggu-tunggu di hadapan anggota Kongres pada Senin (20/3) waktu setempat.

Para petinggi FBI dan NSA akan menjelaskan hubungan Presiden ­Amerika Serikat (AS) Do­nald Trump dengan Rusia. Selain itu, mereka akan mengungkap soal tuduhan dari Trump bahwa mantan Presiden Barack Obama melakukan penyadapan terhadap dirinya.

Direktur FBI James Comey dan Direktur NSA Mike Rogers akan menjelaskan kepada publik untuk pertama kalinya tentang dua isu yang membuat rakyat AS terkejut selama berminggu-minggu. Persoalan itu meregangkan hubungan dua partai politik.

Dua persoalan tersebut menjadi pertaruhan bagi Trump. Permasalahan pengusaha yang telah menjadi pemimpin negara adidaya AS itu menjadi semakin rumit.

Comey akan memberikan ke-saksian di hadapan Komisi Intelijen Kongres dalam rapat dengar pendapat untuk mengungkap soal intervensi intelijen Rusia semasa kampanye pemilihan presiden AS pada 2016. Direktur NSA Mike Rogers akan menyampaikan penjelasan.

Soal hubungan Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin sebelum pelaksanaan pemilu presiden AS pada 8 November lalu diduga akan menjadi objek pembahasan dalam rapat dengar pendapat dengan anggota Kongres.

Trump bantah
Lewat media sosial Twitter, Trump telah menanggapi tuduhan hubungannya dengan Putin saat kampanye pemilu presiden tahun lalu. Pria berusia 70 tahun tersebut menyatakan tuduhan kolusi dengan Rusia adalah berita palsu.

“Mantan direktur intelijen nasional James Clapper dan lain-lain menyatakan tidak ada bukti Potus (Presiden AS) berkolusi dengan Rusia. Cerita ini berita palsu dan semua orang tahu itu!” kicau Trump di akun Twitter-nya.

“Partai Demokrat membuat dan mendorong cerita Rusia sebagai alasan bahwa pelaksanaan kampanye yang mengerikan. Keuntungan besar di Electoral College hilang!” tambah Trump.

Di sisi lain, pejabat intelijen ‘Negeri Paman Sam’ meyakini Trump dan orang-orang kepercayaannya memiliki hubungan dengan Putin. Hubungan itu diduga telah menguntungkan Trump yang akhirnya memenangi pemilihan presiden.

Pada Januari lalu, pejabat intelijen AS telah menyatakan secara terbuka bahwa peretas ­bekerja untuk Rusia. Peretas dari Rusia juga dituduh telah menyusup dan menyadap surat elektronik calon presiden dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, dan mengungkapkannya ke publik.

Sejak itu, pertanyaan apakah Trump dan perusahaannya bersekongkol dengan Rusia telah mendominasi percakapan nasional. Sejauh ini, ketua panel Kongres masih belum menemukan bukti kampanye Trump yang berkolusi dengan Rusia.

Ketua Komite Intelijen DPR dari Partai Republik, Devin Nunes, membela Trump dan mengatakan tidak ada bukti kolusi. “Apakah ada penyadapan fisik Trump Tower? Tidak, tidak pernah ada,” tuturnya.

Nunes menegaskan sebagian penyelidikan komite berfokus pada kontak pribadi Michael Flynn, seorang penasihat Trump bidang intelijen, dengan pejabat Rusia untuk masalah sanksi.

Di sisi lain, Moskow telah membantah terlibat dalam peretasan. Trump juga mengecam tuduhan itu sebagai perburuan total penyihir.

Sementara itu, sidang dengar pendapat dengan Kongres diharapkan dapat mengatasi ledakan kedua isu yang tengah menjadi sorotan di seluruh AS.

Isu utama yang muncul pada awal Maret lalu ialah Trump menuduh Obama telah menyadap teleponnya. Tuduhan tersebut menjadi konsumsi perdebatan politik. Anggota Kongres dari Republik mengaku frustrasi dan menilai tidak mungkin Trump bekerja sama dengan Rusia. (AFP/I-3)

Komentar