Polkam dan HAM

Penguatan Radikalisme Ancam Keberagaman NKRI

Selasa, 21 March 2017 06:05 WIB Penulis: Jay/X-6

Ilustrasi

SEJUMLAH kalangan menilai Pilkada DKI 2017 telah menjadi ajang bagi kelompok tertentu memainkan politisasi agama. Dampaknya kelompok radikal pun memanfaatkan gerakan politisasi itu sebagai pembenaran meruntuhkan prinsip keberagaman. Salah satu yang mengemukakan penilaian itu ialah Sekretaris Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama Syafieq Alielha.

“Politisasi agama memberi ruang untuk semakin memperkuat radikalisme. Pada saat yang bersamaan, negara semakin terjerumus dalam situasi sulit,” ujar Syafieq dalam sebuah diskusi di Jakarta, kemarin. Ia berpandangan elite sengaja memobilisasi kelompok radikal untuk terus-menerus menggempur sentimen agama.

Senada, politikus Hanura sekaligus pengamat intelijen Susaningtyas Kertopati menyatakan penguatan paham radikal sudah begitu terasa di dalam pilkada.

“Ada serangkaian pihak yang membawa serta agama, bahkan etnik, untuk bisa memenang­i pertarungan. Namanya pengin menang, tapi jangan terlalu kasar. Perlu diingat, negara kita terbangun dan berdiri tegak di atas kemajemukan.”

Karena itulah, pengamat politik dari Lembaga Pemilih Indonesia Boni Hargens meminta elite politik untuk meredam penguatan pengaruh tersebut. “Kalau radikalisme tidak dikendalikan, 4-5 pemilu ke depan, keberagaman NKRI akan terancam.” (Jay/X-6)

Komentar