Properti

Pasar Palembang Mulai Pulih

Senin, 20 March 2017 23:00 WIB Penulis: Iqbal Musyaffa

ANTARA

CITRA Palembang sebagai kota penyelenggara ajang internasional berdampak pada pembangunan infrastruktur yang masif dilakukan.

Saat ini dibangun jalur light rail transit (LRT) sepanjang 23 km yang akan menghubungkan Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin, Masjid Agung Palembang, dan Jakabaring Sport CIty.

Palembang telah menjadi tuan rumah SEA Games 2011 serta Islamic Solidarity Games pada 2014.

Pada 2018, bersama Jakarta, Palembang akan menjadi tuan rumah multiajang tingkat Asia, yaitu Asian Games.

Belum lagi adanya rencana pembangunan sirkuit Moto-GP di kawasan Jakabaring Sport City, yang diperkirakan memperkuat citra Palembang sebagai kota wisata olahraga.

Sejak 2016 hingga 2020, diperkirakan sekitar Rp70 triliun investasi masuk ke Palembang.

Akibatnya, harga properti melonjak.

Selepas SEA Games 2011 ialah momen yang menjadi salah satu momentum pendongkrak harga properti di sana.

Rata-rata harga tanah di Kota Palembang ada di kisaran Rp1,6 juta/m2.

"Fasilitas-fasilitas yang sedang dibangun di Palembang akan menggairahkan penjualan properti, khususnya perumahan menengah ke atas. Event-event internasional yang sering diselenggarakan di sini juga menjadi salah satu daya tarik orang untuk membeli properti di Palembang," ujar Ketua BPOD (Badan Pertimbangan Organisasi Daerah) Realestat Indonesia (REI) Sumatra Selatan Ali Sya'ban ketika dihubungi, kemarin.

Ali Sya'ban mengatakan kenaikan harga properti bisa mencapai 300% pada tahun ini jika dibandingkan dengan 2010.

Kenaikan itu terjadi karena pembangunan di Palembang terus tumbuh hingga pinggiran kota.

"Dulu masih bisa cari tanah seharga Rp30 ribu/m2. Sekarang rata-rata harga tanah termurah Rp100 ribu/m2."

Bukan hanya pasar menengah ke atas yang bergairah di Palembang, perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) juga memiliki pasar yang sangat bagus.

"Hampir 90% perumahan yang dibangun di Sumatra Selatan ialah rumah subsidi FLPP, termasuk di Palembang khususnya di pinggiran kota."

Siklus

Ali juga mengatakan pertumbuhan properti di Palembang didorong pula oleh pulihnya harga komoditas sawit dan karet yang menjadi sumber penghasilan terbesar masyarakat Palembang.

Dalam tiga bulan ini, harga kedua komoditas tersebut, menurutnya, mulai membaik sehingga berimbas pada daya beli properti masyarakat.

Hal senada diungkapkan pengamat properti Panangian Simanungkalit.

"Karena memang siklus propertinya seperti itu. Mulai tumbuh semester kedua tahun ini dan berlanjut hingga 2018. Perumahan menengah ke bawah di Palembang cukup baik pasarnya, begitu pun di kota-kota sekitar. Kemudian perumahan menengah ke atas juga akan terdorong naik di tahun depan."

Selama ini sudah terdapat beberapa nama pengembang besar yang meramaikan pasar properti Palembang, seperti Lippo Group dan Ciputra Group.

Karena potensi yang ada di Palembang, Terrakon Property juga mencoba masuk untuk mengembangkan perumahan Royal Resort Residence yang mengusung konsep resor.

"Meski tahun lalu properti masih melamban, kami melihat Palembang memiliki potensi yang bagus. Terlebih LRT diperkirakan selesai akhir 2017 dan mulai beroperasi awal 2018. Apalagi, lokasi proyek kami dekat dengan akses Tol Palembang-Indralaya yang sedang dibangun," ujar Marketing Director of Royal Resort Residence, Nata Susanto.

Menurut Nata, untuk mengeruk ceruk pasar properti Palembang, pihaknya menanamkan investasi Rp80 miliar untuk membangun proyek di atas lahan seluas 4 hektare dari potensi pengembangan 20 hektare yang dimilikinya.

"Pada 2015 dan 2016, kami akui pasar Palembang jatuh. Namun, perlahan tapi pasti, bisnis properti bangkit lagi dengan membaiknya harga komoditas perkebunan khususnya sawit dan karet." (S-1)

Komentar