Humaniora

Sepanjang 2014-2016 Terjadi 494 Kasus Kelainan Bawaan

Senin, 20 March 2017 17:58 WIB Penulis: Intan Fauzi/Metrotvnews.com

Ist

DATA Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sepanjang 2014-2016 terdapat 494 kasus kelainan bawaan yang memenuhi kriteria. Laporan ini diambil dari 19 Rumah Sakit yang mengadakan surveilans congenital rubella syndrome (CRS).

Dari 494 kasus kelainan bawaan, yang paling banyak diderita ialah Talipes dengan 102 kasus (20,6%), kedua celah bibir dan atau langit-langit 99 kasus (20%), ketiga Omphalochele 58 kasus (11,7%), Atresia Ani 50 kasus (10,1%), dan Gastroschisis 27 kasus (5,5%).

Direktur Kesehatan Keluarga Eni Gustina mengatakan, banyak faktor yang jadi penyebab tingginya angka kelainan bawaan. Yang paling utama disebabkan oleh pola hidup kurang sehat.

"Seperti kekurangan asam folat, merokok, mengonsumsi alkohol, kurang aktivitas fisik, mengonsumsi obat-obatan teratogenik," jelas Eni di Kantor Kementerian Kesehatan, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (20/3).

Pencemaran lingkungan seperti di lingkungan pertambangan juga sangat mempengaruhi penyebab kelainan bawaan. Sebab, lingkungan pertambangan biasanya tercemar merkuri, timbal, dan arsen.

"Beberapa faktor juga karena sosial ekonomi dan genetik," ungkapnya.

Tantangan akibat kelainan bawaan muncul dan tidak hanya terkait dengan kematian pada bayi baru lahir. Namun, dampak psikologis yang timbul akibat adanya anggota keluarga yang menderita kelaina kongenital juga perlu diperhatikan.

"Stigma dan diskriminasi yang menimbulkan beban emosional sering dialami penyandang kelainan bawaan. Ini perlu perhatian kita semua," tambah Eni.

Ada 16 jenis kelainan bawaan yang dilakukan surveilans berdasarkan kelainan bawaan yang preventable, detectable, correctable, dan dampaknya besar terhadap kesehatan masyarakat.

Bayi lahir hidup dan bayi lahir mati sampai berusia tujuh hari, yang memenuhi kriteria berat badan lebih dari 500 gram, usia kehamilan lebih dari 20 minggu, dan memiliki salah satu kelainan bawaan dicatat ke dalam formulir surveilans. Setelah diverifikasi oleh dokter spesialis anak, data tersebut diinput kemudian dilaporkan ke Badan Litbangkes Kemenkes secara online oleh pihak RS. (OL-5)

Komentar