Humaniora

Bahagia demi Capai SDGs

Senin, 20 March 2017 08:53 WIB Penulis: Putri Rosmalia Oktaviyani

Ketua Yayasan Indonesia Damai Marie Elka Pangestu menarikan Happy Dance pada acara peringatan Hari Kebahagiaan Internasional di area hari bebas kendaraan bermotor di Jakarta---MI/Panca Syurkani

PADA 2016 indeks kebahagiaan Indonesia masih berada jauh di bawah negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand. Permasalahan itu masih menjadi pekerjaan rumah yang belum kunjung usai dan menjadi ganjalan bagi pencapaian keseimbangan dalam masyarakat, ekologi, dan spiritual yang merupakan jalan menuju kebahagiaan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan PBB pada 2013-2015 diketahui Indonesia menempati urutan 79 dari 157 negara di dunia. Negara tetangga di Asia Tenggara berada di atas Indonesia, yakni Singapura di urutan 22, Thailand di urutan 33, dan Malaysia di urutan 47.

Sementara itu, Denmark menjadi negara yang dinilai paling bahagia di seluruh dunia, menggeser Swiss yang pada tahun lalu menempati urutan pertama. Negara lain yang berada dalam 10 besar di antaranya ialah Australia, Selandia Baru, dan Belanda.

Ketua President of United in Diversity, Mari Elka Pangestu, dalam perayaan World Happiness Day di tengah kegiatan car free day Jakarta mengatakan, bergerak dinamisnya perubahan sosial di masyarakat menghadirkan tantangan yang tidak mudah untuk diselesaikan.

Di antaranya kemiskinan, kelaparan, kelangkaan persediaan air bersih, terancamnya kepunahan hewan dan tumbuhan, serta masih banyak lagi tantangan hidup lainnya.

Padahal, hal-hal tersebut tercantum dalam Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah ditentukan PBB sebagai agenda dunia pembangunan untuk kemaslahatan manusia dan bumi.

Dibutuhkan pemikiran dan pendekatan baru untuk mencapai kebahagiaan yang menjadi tujuan yang diinginkan setiap orang di dunia.

"Semua tujuan SDGs itu luar biasa. Tidak mungkin bisa tercapai kalau tidak ada partisipasi aktif dari masyarakat," ujar Marie.

Untuk membantu mengampanyekan sikap berbagi, toleransi, serta gotong royong tersebut, akan dilakukan beberapa kegiatan, mulai yang resmi di institusi seperti sekolah hingga komunitas masyarakat sipil lainnya.

Kampanye akan pentingnya unsur lain dalam kehidupan untuk mencapai kebahagiaan selain materi menjadi tema utama yang akan disampaikan.

"Banyak yang belum sadar akan pentingnya nilai kebahagiaan yang seiring waktu, unsur-unsurnya justru semakin berkurang di Indonesia," ujar Executive Vice President United in Diversity, Cokorda Istri Dewi, di kesempatan yang sama.

Beberapa variabel yang digunakan untuk menentukan peringkat kebahagiaan tersebut ialah pendapatan per kapita, harapan hidup, kebebasan memilih, kebebasan dari korupsi, kemurahan hati, serta memiliki seseorang untuk diandalkan.

Saat ini, hanya ada empat negara di dunia yang khusus mengangkat menteri kebahagiaan dalam kabinet pemerintahan, yakni Bhutan yang berada di urutan 84, Ekuador (51), Uni Emirat Arab (28), dan Venezuela (44).

Indonesia antidiskriminasi
Selain World Happiness Day yang jatuh pada 20 Maret, di bulan yang sama dunia internasional juga merayakan Hari Internasional Penghapusan Diskriminasi Rasial pada 21 Maret. Kampanye antidiskriminasi dan SARA akan diikuti ratusan komunitas di berbagai kota di Indonesia. (H-5)

Komentar