Humaniora

Narkoba makin Beragam

Senin, 20 March 2017 08:34 WIB Penulis: Indriyani Astuti

ANTARA

MENTERI Sosial Khofifah Indar Parawansa meminta masyarakat waspada terhadap metamorfosis narkoba. Menurutnya, kartel narkoba memiliki beragam modus dalam mengedarkan narkoba dan terus berinovasi guna mengelabui aparat keamanan.

Hal tersebut disampaikan Khofifah saat meresmikan Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Teratai Khatulistiwa di Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat, Sabtu (18/3).

"Mereka mencari cara bagaimana memasarkan narkoba supaya narkoba itu tidak tampak. Kalau dulu berbentuk pil, bubuk heroin, atau lintingan ganja sekarang menjelma menjadi aneka rupa," katanya pada peresmian IPWL yang akan memberi pelayanan rehabilitasi sosial kepada pecandu dan korban penyalahgunaan narkoba itu.

Khofifah mengungkapkan sasaran peredaran narkoba pun tidak lagi hanya remaja dan orang dewasa, tetapi juga anak-anak kecil usia dini. Caranya dengan mengemas narkoba atau mencampurkan narkoba dalam makanan yang digemari anak-anak kecil.

Dicontohkan Khofifah, belum lama ini beredar permen dot di Surabaya, Jawa Timur, yang diduga mengandung narkoba. Sebelumnya juga beredar kue kering bercampur ganja di Bandung dan Jakarta.

Khofifah menerangkan, dengan dicampurkan ke dalam makanan, narkoba sulit terdeteksi secara kasatmata. Polisi pun perlu melakukan uji klinis laboratorium untuk bisa memutuskan apakah makanan tersebut mengandung narkoba atau tidak.

"Pengedar narkoba semakin pintar mengemas barang dagangannya. Penyusupan narkoba ke dalam makanan dan jajanan anak merupakan salah satu bentuk metamorfosis narkoba saat ini," imbuhnya.

Oleh karena itu, Khofifah mengimbau para orangtua agar senantiasa mengingatkan anak-anak mereka yang masih duduk di bangku TK dan SD untuk tidak jajan sembarangan. Orangtua, kata dia, harus lebih peduli dan tidak cuek terhadap fenomena metamorfosis narkoba.

Realitas itu, lanjut Khofifah, harus menjadi perhatian seluruh pihak, terlebih di daerah perbatasan seperti Kalimantan Barat yang berbatasan dengan Malaysia. Daerah perbatasan tergolong rentan dengan penyelundupan narkoba karena kejahatan itu melibatkan jaringan perdagangan narkotika lintas negara.

"Narkoba tidak melulu lewat jalur-jalur utama perbatasan, tapi juga jalan tikus atau jalan darat yang sulit di deteksi keberadaannya, yang tersebar di sepanjang perbatasan antara Indonesia dan Malaysia," tuturnya.

Celah hukum
Menurut Khofifah, anak-anak tidak hanya disasar menjadi pengguna narkoba, tetapi juga diincar sindikat narkoba untuk dijadikan pengedar.

"Dipilihnya anak-anak sebagai pengedar narkoba bukan tanpa alasan. Sindikat narkoba telah mempelajari secara detail hukuman maksimal bagi pengedar anak-anak di Indonesia, hukuman yang dikenakan hanya setengah dari orang dewasa," ujarnya.

Celah hukum itulah yang dimanfaatkan para sindikat narkoba untuk melancarkan aksi mereka. Selain itu, penggunaan anak-anak akan meminimalkan kecurigaan aparat kepolisian.

Maka dari itu, lanjutnya, butuh kerja sama seluruh pihak dalam menghadapi kondisi Indonesia yang tengah darurat narkoba ini. Peran keluarga sangat dibutuhkan. Hal itu disebabkan keluarga merupakan benteng pertama pencegahan bahaya narkoba.(H-3)

Komentar