Ekonomi

RI Gugat Uni Eropa soal Biodiesel

Senin, 20 March 2017 07:36 WIB Penulis: Gabriela Jessica Sihite

Grafis/MI

PEMERINTAH melihat bahwa bea masuk antidumping (BMAD) sebesar 8,8% hingga 23,3% yang diberlakukan Uni Eropa telah membuat kinerja ekspor biodiesel dari Indonesia ke benua biru itu turun secara signifikan.
Pada 2013 nilai eskpor biodiesel ke Eropa masih sekitar US$635 juta, sedangkan awal tahun ini jumlahnya turun hingga US$9 juta. Berarti terjadi penurunan sekitar 72,3% dalam kurun empat tahun terakhir.
Nilai BMAD yang ditetapkan cukup besar, sekitar 76,94 euro-178,85 euro per ton.

Berdasarkan hasil analisis pengenaan BMAD tersebut, pemerintah Indonesia menilai ada ketidakadilan dan inkonsistensi dengan Anti Dumping Agreement (ADA) WTO. Atas alasan itulah Indonesia mencari keadil-an melalui forum Dispute Settlement Body (DSB) WTO.

Indonesia meyakini bahwa Komisi Eropa (KE) sebagai otoritas penyelidikan melakukan kesalahan dalam metodologi dan penghitungan normal value serta profit margin yang menyebabkan produsen/eksportir biodiesel asal Indonesia dikenai BMAD tinggi.

“Uni Eropa merupakan pasar yang bagus untuk produk biodiesel Indonesia. Dengan gugatan ini, kita berharap akan dihasilkan penurunan jumlah margin dumping sehingga nantinya ekspor biodiesel kembali meningkat. Meski demikian, upaya ini membutuhkan koordinasi yang baik antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha,” tutur Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan dalam keterangan resmi, kemarin.

Lebih lanjut, Oke menegaskan Indonesia tidak akan berlaku lunak terhadap upaya-upaya yang dapat merugikan akses pasar Indonesia di Uni Eropa. Hal yang sama sebenarnya juga dialami Argentina. Indonesia melayangkan gugatan yang sama dengan Argentina kepada Uni Eropa. Argentina sendiri telah berhasil memenangi kasus ini di tingkat Appellate Body (AB) WTO.

Direktur Pengamanan Perdagangan Kementerian Perdagangan Pradnyawati siap melayangkan gugatan pada bulan ini. Dia menegaskan akan terus memantau setiap perkembangan informasi atas sengketa bio-diesel dengan Uni Eropa.

“Kami siap menyampaikan gugatan di pertemuan pertama pada 29-30 Maret ini di markas besar WTO di Jenewa. Kami tidak akan membiarkan ada celah yang akan berpotensi melemahkan gugatan Indonesia kepada Uni Eropa,” ujarnya.

Menang di general court
Berdasarkan pengalaman Argentina, Pradnyawati optimistis bisa memenangi gugatan itu di DSB WTO. Malahan, lanjut Pradnyawati, produsen/eksportir Indonesia juga telah mengajukan gugatan atas pengenaan BMAD Uni Eropa ke General Court Uni Eropa.

Pengadilan General Court Uni Eropa pun dikabarkan telah mengabulkan gugatan tersebut. Hasil putusannya memerintahkan Komisi Eropa untuk membatalkan penetapan BMAD terhadap Indonesia dan Argentina. Saat ini, Dewan Uni Eropa tengah mengajukan banding terhadap putusan General Court ke The European Court of Justice.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) Togar Sitanggang mengatakan gugatan itu sebenarnya sudah dilayangkan sejak bertahun-tahun silam. Namun, butuh waktu untuk sampai ke forum DSB WTO.

Dia pun sudah siap membuktikan bahwa pihaknya tidak melakukan dumping terhadap produk biodiesel yang dijual ke Eropa. “Persiapannya sudah dilakukan sejak jauh hari,” tukas Togar melalui pesan singkat. (E-1)

Komentar