Tifa

Dilema Warga Desa dalam Pembangunan

Ahad, 19 March 2017 01:34 WIB Penulis: Ardi Teristi Hardi

Teater Surjan---MI/ARDI TERISTI HARDI

TINAH terlihat murung. Di usianya yang sudah dewasa, ia belum keluarga. Padahal, teman-teman seumurannya sudah berkeluarga. Di desanya, Tinah menjadi perempuan tertua yang belum berkeluarga. Ia pun kerap kali menjadi bahan pergunjingan di antara warga desa.

Di rumah, ibunya juga tidak sabar ingin Tinah segera berkeluarga. Ia pun memberi pilihan ke Tinah, yaitu segera mencari sendiri pasangan calon suami atau dirinya yang akan mencarikannya calom suami. Ibunya hanya berpesan agar Tinah mencari calon suami yang kaya raya. Tinah pun semakin sedih dan gamang menghadapi warga desa dan ibunya.

Sebenarnya Tinah juga ingin segera berkeluarga. Hanya saja, lelaki yang dicintainya, Winarah, belum berani melamarnya. Winarah tidak percaya diri menikahi Tinah lantaran dirinya hanya seorang petani desa yang miskin. Winarah ingin mengumpulkan uang terlebih dulu sebelum mempersunting Tinah. Sepintas cerita tentang kehidupan Tinah mengawali drama Lurah yang dipentaskan oleh Teater Surjan, Sabtu (18/3) malam di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta.

Drama yang mengambil latar waktu zaman penjajahan Belanda ini disutradarai Broto Wijayanto. Kehidupan Tinah bukanlah inti dari cerita drama tersebut. Tinah hanya menjadi pembuka untuk menghubungkan ke inti cerita tentang kegamangan masyarakat desa menghadapi pembangunan. Sebagian dari mereka tidak percaya diri dengan menjadi petani. Mereka memilih merantau ke kota untuk mencari kehidupan yang lebih layak. Sama seperti yang digambarkan dalam sosok Winarah.

"Baiklah, kalau kau ingin segera dinikahi. Aku akan pergi ke desa lain untuk mencari pekerjaan. Tunggu aku kembali," pesan Winarah kepada Tinah. Winarah sebenarnya tidak ingin meninggalkan desa dan tetap ingin bertani. Namun, karena tuntutan ekonomi untuk segera menikahi Tinah, ia memilih meninggalkan sawahnya dan mencari pekerjaan di desa lain. Kegamangan warga desa dalam drama tersebut semakin terlihat ketika Endro Noto yang ingin membeli tanah-tanah warga dengan harga tinggi. Tanah yang sudah dibeli tersebut rencananya akan digunakan untuk bangunan-bangunan modern bagi kompeni. Pro dan kontra terhadap rencana pembangunan tersebut bermunculan. Salah satu yang sangat kukuh menolak pembangunan tersebutialah lurah. "Saya mau menanyakan, maksudmu apa para tetanggamu disuruh jual sawah, rumah-rumah dipasangi patok?" kata Lurah. Endro Noto meyakinkan, yang dilakukannya sudah benar. Ia ingin membangun desanya. Tanah rakyat yang dibeli pun dibayar dengan harga yang tinggi.

"Apa saya salah ingin memajukan desa ini. Tidak ada orang yang mau miskin. Tidak ada orang yang mau turun derajatnya," jawab Endro Noto dengan percaya diri. Menurut dia, pembangunan-pembangunan yang dilakukan, seperti membangun pabrik keju, gedung kompeni, dan penginapan besar, akan memajukan desa. Semakin banyak orang datang ke desanya dan membuat perekonomian menjadi maju. Warga pun bisa memperoleh pendapatan yang lebih baik daripada menjadi petani.

"Maju ya maju, tapi wargaku kabeh mau hidup di mana? Tidak mau ikut kompeni apalagi jadi babu di desanya sendiri," cetus Lurah. Lurah berkukuh, tanah ini untuk anak-cucu. Ia pun meminta Endro Noto memakai hatinya sebelum membeli sawah dan rumah warga desa. Baik Endro Noto maupun lurah kukuh pada pendiriannya masingmasing. Warga desa pun gamang, mereka terpecah dalam dua pilihan. (Ardi Teristi Hardi/M-2)

Komentar