Tifa

Beristirahat Sejenak di Rest Area

Ahad, 19 March 2017 09:13 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/ABDILLAH M MARZUQI

SEKILAS diperhatikan, jalinan besi itu seperti berbentuk siput. Namun setelah diperhatikan saksama, ternyata itu sebuah kendaraan yang tak asing lagi. Bagian tengah Vespa itu memanjang dan berputar berbalik arah sehingga setang dan jok pengendara berposisi berlawan arah.

Warna merah mendominasi Vespa lilitan itu. Warna yang menjadi simbol keberanian membungkus Vespa yang akrab disebut sebagai lambang persaudaraan dan kedamaian. Satu kawat pun kuat, tapi banyak kawat tentu lebih kuat.

Penyatuan kawat itu sebagai penyampai dari sebuah pesan, sendiri pun kuat, tetapi jauh lebih kuat ketika bersama yang lain. Itulah karya Budi Utomo yang berjudul Besi Tua (2016). Karya itu adalah instalasi pertama yang dapat dilihat dalam pameran Rest Area; Perupa Membaca Indonesia yang dihelat di Galeri Nasional Indonesia pada 7-27 Maret 2017.

Begitulah, Vespa itu menjadi simbol perdamaian dan kekeluargaan. Namun, jangan lupa, Vespa secara asali adalah alat transportasi. Benda itu mengantarkan pengendaranya sampai di tempat tujuan. Perjalanan jauh sekaligus melelahkan menjadi semakin terbantu oleh alat berkendara. Namun, bagaimanapun terbantunya, alat ini beserta pengendaranya juga butuh instirahat ketika perjalanan jauh.

Rest area, begitu tempat itu sering disebut. Kala perjalanan jauh, tempat itu menjadi semacam ruang untuk mengembalikan semangat mencapai tujuan. Rest area akrab dengan mereka yang sedang menempuh perjalanan. Dalam perjalanan apa pun, rest area sangat berguna. Jika hidup ini adalah perjalanan, rest area adalah tempat untuk merefleksi sembari meneguhkan kembali daya hidup. Jika berbangsa dan bernegara adalah perjalanan, rest area bisa menjadi tempat untuk mengendurkan urat yang tegang karena berbagai permasalahan bangsa ini.

Rest area pula yang menjadi tema pameran yang dihelat di Galeri Nasional Indonesia dalam tajuk Pameran Seni Rupa Nusantara 2017. Pameran itu merupakan agenda dua tahunan Galeri Nasional Indonesia. Helatan itu dihasratkan untuk memamerkan karya-karya perupa baru dari wilayah Nusantara. Tema dalam tiap penyelenggaraannya pun bisa berganti. Kali ini, Pameran Seni Rupa Nusantara 2017 membawakan tema Rest Area; Perupa Membaca Indonesia.

Sebanyak 1.000 pelamar, dengan 792 perupa dari 28 provinsi, berturut dalam tahap awal. Hingga tahap akhir, terpilihlah 100 karya dari 26 provinsi yang diputuskan panitia untuk dipamerkan.

"Melihat antusiasme pelamar, di samping suatu kegembiraan, juga merupakan tantangan yang serius bagi kurator. Sebab harus melakukan seleksi ekstra ketat dan penuh risiko. Seleksi ekstra ketat karena pameran ini maksimal hanya 100 karya," terang kurator Suwarno Wisetrotomo.

Menurut Suwarno, proses seleksi ini penuh resiko, pergulatan, dan diskusi. Proses penyeleksian dengan portofolio foto sangat memungkinkan terjadi salah terka. Mungkin saja karyanya menarik, tetapi karena kualitas dokumentasi visual dan narasi yang disertakan tidak Jelas, dengan segera tereliminasi. Atau hal yang sebaliknya. Risiko lainnya adalah terjadi kesenjangan karya dengan konsep akibat kelemahan artikulasi yang disusun dalam bentuk esai pendek yang disertakan pelamar dalam portofolionya. Untuk itulah kerja dua kurator Suwarno Wisetrotomo dan A Sudjud Dartanto patut diapresiasi.

Intoleransi menyeruak

Kondisi Indonesia saat ini dipenuhi dengan hal yang nyaman. Cukuplah dikata bahwa sekarang intoleransi menyeruak, bersamaan dengan kekerabatan yang semakin merapuh, gotong royong perlahan meluntur, ujaran kebencian menyemarak, dan sejenisnya.

"Indonesia hari ini tak hanya perkara ketidakadilan, tak hanya kemuraman, dan perasaan pesimistis. Indonesia hari ini juga terbentang sejumlah harapan dengan sikap kritis," terang kurator Suwarno Wisetrotomo.

Semua itu menjadi ancaman serius bagi bangsa Indonesia. Demokrasi terus-menerus diperjuangkan dan ditegakkan, tetapi di sisi lain muncul kekuatan radikal yang berupaya merongrong perjuangan demokrasi dan kebinekaan. Negeri ini juga masih harus menyelesaikan pekerjaan lama yang tak kunjung usai seperti masalah kesejahteraan, keadilan, dan kesenjangan.

"Indonesia hari ini adalah Indonesia yang terus berproses 'menjadi' dengan sejumlah tikungan terjal, yang jika tidak hati-hati dalam mengelolanya, bisa membahayakan kita semua. Tikungan terjal yang dimaksud antara lain situasi sosial, politik, dan ekonomi yang penuh guncangan," lanjutnya.

Di tengah persoalan itu, pertanyaan tentang apa peran yang sudah, sedang, akan, dan bisa dimainkan para perupa dengan karya-karya seni mereka? Itu menjadi penting bagi seniman, perupa, ataupun dunia seni rupa.

Para perupa memiliki ruang yang leluasa untuk mewujudkan pembacaan terhadap Indonesia dari sudut pandang masing- masing. Lukisan Yayat Lesmana Not for Sale, misalnya, merekam kenyataan hari ini ketika lanskap indah Indonesia tampak sudah terkapling-kapling merek asing. Indonesia hari ini juga sebagai lanskap yang masih menyimpan trauma. Itu dapat diselisik dari karya Eri Rama Putra berjudul Objek from 1988.

Itu hanya sekelumit refleksi yang ditawarkan 100 karya para perupa yang dipamerkan. Masih banyak karya yang menggugah nalar kritis di sana. Semua karya menyajikan narasi tentang keIndonesia. Itulah fungsi rest area, yakni menjadi titik untuk berfleksi dalam perjalanan panjang berbangsa dan bernegara.

"Karya-karya yang terpilih diandaikan menjadi rest area (area istirahat) setelah keseharian menjadi warga masyarakat yang didera berbagai persoalan yang (mungkin) melelahkan lahir batin," pungkas Suwarno. (M-2)

Komentar