Khazanah

Menyusuri Jejak Kesultanan Tidore

Ahad, 19 March 2017 10:00 WIB Penulis: Abdillah M marzuqi

Ilustrasi--MI/Ebet

MASIH ingat dengan uang kertas pecahan seribuan? Jika masih, tentu tak asing dengan gambar nelayan yang sedang mencari ikan di laut. Di baliknya, tersembul gunung. Tampak mengilap puncak gunung itu. Ya, itu adalah gunung Kie Marijang, yang artinya gunung atau pulau yang begitu indah. Gunung itu ada di Tidore.

Sebuah nama yang tidak hadir begitu saja, tetapi ada proses panjang dalam perjalanannya. Tidore adalah salah satu pulau kecil tetapi besar di mata dunia. Dahulu, Tidore dikenal dengan komoditas cengkih, pala, dan kayu manis. Ketiga komoditas itu yang membuat bangsa Eropa harus bertarung untuk mendapatkan pulau yang bernama Tidore.

Sebelum Islam datang ke bumi Nusantara, Pulau Tidore dikenal dengan nama Limau Duko atau Kie Duko yang berarti pulau yang bergunung api. Penamaan itu sesuai dengan kondisi Tidore yang memiliki gunung api, bahkan tertinggi di gugusan kepulauan Maluku. Gunung itu dinamakan Kie Marijang yang sudah tidak aktif lagi.

Nama Tidore berasal dari gabungan tiga rangkaian kata bahasa Tidore, yaitu to ado re artinya aku telah sampai. Kesultanan Tidore adalah Kerajaan Islam yang berpusat di wilayah Kota Tidore, Maluku Utara. Pada masa kejayaan Kesultanan Tidore (sekitar abad ke-16 sampai abad ke-18), kerajaan ini menguasai sebagian besar Halmahera Selatan. Pulau Buru, Ambon, dan masih banyak pulau di pesisir Papua Barat.

Sampai sekarang, masih ada beberapa situs yang menunjukkan jejak kebesaran Tidore di masa lampau. Beberapa di antaranya Kadato Kie, Masjid Kesultanan Sigi Kolano, Dermaga Kesultanan, Museum Sonyinge Malige, Monumen Tugu Pendaratan Spanyol, Benteng Torre, dan Benteng Tahula.

Kesultanan Tidore terdiri atas sejumlah pulau dengan Pulau Tidore sebagai inti, tempat Kedaton Sultan yang dinamakan 'Limau'. Kedaton Kesultanan Tidore atau Kadato Kie dibangun pada masa pemerintahan Sultan Tidore yang ke-28 bernama Muhammad Tahir Muijuddin (1810-1821) pada 1812. Pembangunannya memakan waktu 50 tahun. Akibat politik adu domba Belanda, keraton ini dirusak total pada akhir masa pemerintahan Sultan Syahjuan pada 1912.

Berdasarkan buku yang ditulis Perdana Menteri Kesultanan Tidore (Jojau) M Amin Faaroek diterangkan, sebelum naik takhta menjadi Sultan Tidore, Muhammad Tahir adalah seorang desainer dan seniman. Ia mulai mendesain bentuk Kadato Kie dan kemudian bekerja sama dengan para ulama setempat. Pada era itu pengaruh ulama di Tidore sangat kuat. Ia mengirim utusan ke wilayah-wilayah untuk menyampaikan bahwa kerajaan Kesultanan Tidore mau membangun sebuah masjid kerajaan di ibu kota Kerajaan Tidore di Soasio dan membangun sebuah Kedaton Sultan yang lebih baik dan besar dari kedaton-kedaton sebelumnya walaupun Masjid Sultan sudah dibangun pada 1710 sebagai Masjid Sultan yang ketiga setelah dua masjid berada di Toloa Gamlamo.

Pembangunan kedaton

Dalam waktu yang singkat itu datang dan hadir para tukang dari wilayah-wilayah yaitu dari Raja Ampat, Maba, Patani, dan Weda. Kerja keras Sultan Muhammad Tahir berhasil membangun sebuah kedaton dengan kepala tukang dari Soa Kipu Bela Toduho yang dikenal dengan arsitektur Tidore Lang Kie Jiko Sorabi.

Pembangunan kedaton ini memakan waktu hampir 50 tahun. Bentuk kedaton ini menyerupai kalajengking jantan yang dalam bahasa Tidore disebut hai mole. Setelah Sultan Muhammad Tahir meninggal pada 1821, pembangunan kedaton dilanjutkan Sultan Ahmadul Mansyur Sirajuddin dan Sultan Ahmad Syafiuddin.

Kedaton ini rusak pada 1912. Perusakan dilakukan Jojau Muhammad Alting (Nau Cenge) bersama para pangeran dan keluarganya. Kala itu, ada seorang lelaki bernama Besi yang sangat berambisi menjadi Sultan Tidore menggantikan Sultan Syahjuan yang wafat pada 1905.

Besi memiliki pendukung yang cukup besar mulai Weda, Ptani, dan Maba. Massa pendukung terkosentrasi di Gita dan menunggu saatnya mereka akan menyerang Tidore. Hal itu membuat Jojau Muhammad Alting alias Nau Cenge mengambil keputusan karena panik, sebab orang Tomalou yang memukul sagu di Gita datang dan menyampaikan kepada Jojau Muhammad Alting bahwa massa pendukung Besi cukup banyak dengan perbekalan makanan dan persenjataan yang lengkap.

Jojau Muhammad Alting mengutus beberapa pangeran dan bobato adat para Gimalaha dan Fomanyira ke Ternate melaporkan kepada Konteler Ternate. Maka Konteler Ternate mengirim bantuan ke Tidore dan seterusnya ke Gita dan menghalau Besi dan pengikutnya. Namun, pada subuh Nau Cenge beserta keluarga besar Alting telah meratakan Kadato Kie, harta benda milik Kadato Kie sebelumnya sudah diungsikan keluar.

"Apa mau di kata, menyesal kemudian tak berguna. Kadato Kie rata dengan tanah tinggal puing-puing berserakan dan Besi tak kunjung tiba," terang Jojau M Amin Faaroek. Selain itu, ada jejak peninggalan kebesaran Kesultanan Tidore yang masih bisa ditemui sampai saat ini. Benda-benda itu tersimpan Museum Sonyinge Malige yang berada di lantai dasar Kadato Kie.

Kota Tidore yang juga sebuah kerajaan Islam tidaklah hadir secara kebutulan. Ia bukanlah nama sebuah kota yang dipungut dari berlalunya sebuah proses peradaban.

Menyebut Tidore tidaklah berarti hanya terbatas pada sebuah nama tanpa makna. Sebaliknya, Tidore adalah nama yang kepadanya melekat sejarah para momole, kapita, bahkan sampai pada perjuangan para kolano, ulama, dan politikus. Tidore adalah kebersamaan rakyat dalam menentang ekspansi Eropa yang sengaja datang kemudian membawa pulang rempah-rempah ke negara asal masing-masing.

April mendatang, Tidore bakal menyelenggarakan hari jadi. Itu saat yang pas untuk melihat Kesultanan Tidore di negeri asalnya. Apalagi akan banyak acara budaya yang bisa dinikmati sembari berkunjung ke tempat-tempat indah bersejarah di Tidore. Selain itu, hari jadi Tidore selalu didatangi orang-orang yang pernah secara historis punya ikatan-ikatan kultural dengan Kesultanan Tidore.

"Ini merupakan potensi pariwisata yang sangat menjanjikan. Oleh karena itu, di hari jadi Tidore ini, kita ingin memperkenalkan Tidore itu secara umum ke seluruh masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia," begitu menurut Sultan Ke-37 Tidore H Husain Sjah.

Tidore menjadi saksi keagungan kerajaan yang berdiri sejak abad ke-7 Masehi. Pada masanya, Tidore adalah kerajaan besar yang mampu membangun hubungan dengan Portugis, Spanyol, dan Inggris.

Pulau cantik dengan segudang potensi wisata, baik wisata sejarah, wisata budaya, wisata religi, maupun wisata alam. Tidore punya itu semua. Jadi jangan ragu untuk mengenal budaya sekaligus menikmati alam Tidore. (M-2)

Komentar