MI Muda

Lagu tentang Papua dan Yuyun

Ahad, 19 March 2017 07:30 WIB Penulis: Ni Putu Trisnanda, Jurusan Jurnalistik

DOK TWITTER @OSCARLOLANG

Oscar Lolang eksis di acara-acara kampus dan komunitas, menyanyikan kritik dan fenomena sosial dalam kemasan lagu yang sedap dinikmati.

TEMPAT kongko bernuansa klasik dan antik mulai penuh sesak dengan segerombolan manusia yang rindu akan petikan gitar dan suara berat Oscar Lolang. Solois muda bergenre folk ini memang tengah naik daun. Melalui single terdahulunya, Easternman, tentang nestapa masyarakat Papua yang kehilangan sanak saudara karena konflik dengan aparat, Oscar menembus keriuhan musik Indonesia.

Lagu-lagunya emosional, bernuansa protes, tetapi tetap santun.

Muda menjumpainya di Paviliun 28, Kebayoran Baru, Jakarta, Minggu (12/3), ketika Oscar meluncurkan minialbum, Epilogue. Little Sunny Girl dan The Way She Does Things menjadi single andalannya.

Oscar bercerita Little Sunny Girl terinspirasi oleh kisah Yuyun, korban kekerasan asal Bengkulu. "Mommy, saya biasa memanggil ibu. Dia kuat, siaga, serta penyayang. Kekaguman dan kedekatan saya dengan ibu membuat saya meyakini perempuan di mana pun bukanlah objek, apalagi pelampiasan emosi," kata Oscar.

Simak obrolan Muda dengan musikus yang mengidolakan Bob Dylan ini!

Ceritakan dong soal Epilogue!

Epilogue adalah babak baru untuk aku, ini minialbum yang juga gerbang menuju keseriusan alias sebelum aku bikin album he he he.

Tema yang aku angkat, perempuan. Dua single ini punya kisah berbeda, yang satu menceritakan perempuan yang dekat dengan penolakan dan kekerasan, sedangkan yang satunya lebih ke kisah percintaan, di situ perempuan dipuja.

Kenapa pilih isu perempuan?

Awalnya aku naik pitam saat mendengar kisah Yuyun, setelah itu aku mulai lakukan pendalaman dan riset kecil-kecilan. Alhasil aku menemukan bahwa fenomena kekerasan memang masih marak terjadi baik itu sadar ataupun tidak. Di satu sisi, di belahan dunia lain, ada perempuan yang amat dipuja oleh para lelaki. Menurutku itu menarik.

Kenapa selalu ada isu sosial dalam karya kamu?

Pada dasarnya latar belakang pendidikan aku antropologi, jadi lagu atau karyaku yang lain kebanyakan memang tentang manusia. Misalnya, sebelum minialbum ini, ada Oscar yang berjudul Easternman, menceritakan perjuangan masyarakat Papua. Lalu, The Way She Does Things, berawal dari fenomena 'tingkatan' di masyarakat. Manusia itu dinamis dan unik.

Pernah ada pengalaman istimewa saat membawakan lagu beraroma protes?

Sejauh ini responsnya positif, lagi pula aku coba mengemas karya-karya ini dengan manis melalui lirik yang bercerita. Jadi tidak ada aroma protes yang tajam, tetapi masyarakat tetap bisa terima pesannya. Uniknya, karena laguku berbahasa asing, kebanyakan orang agak sulit memahami. Mungkin, itu kerugian yang kadang kala menguntungkan, jadi aku tidak pernah mendapatkan masalah seperti pelarangan karya dan lain sebagainya he he he.

Pernah kerja sama dengan pihak sosial?

Aku pernah mengisi salah satu acara One Billion Rising, diadakan komunitas yang menyuarakan antikekerasan terhadap perempuan. Responsnya cukup baik, penampilanku menjadi ajang kampanye isu-isu tertentu.

Selain lagu, apa sih yang ditonjolkan minialbum ini?

Aku ingin memberikan nuansa lawas yang baru bagi para penikmat musik folk atau indie melalui videoklip, juga karakter suaraku. Selain itu, aku ingin mengajak penikmatku supaya bisa lebih peduli terhadap sekitarnya. Selain itu, bakal ada sesi live recording untuk lagu Kumbaya bersama seluruh penonton yang nantinya bakal masuk ke album full di pertengahan 2017.

Kenapa kamu pilih live recording?

Ide untuk menghadirkan sesi live recording ini merupakan salah satu bentuk apresiasi terhadap dukungan yang telah aku terima selama ini.

Lalu gimana cara kamu mempromosikan karyamu?

Karma Records sebagai records label, mereka memproduksi karya-karya aku, sedangkan manajemen membantu aku memilah tawaran. Namun, yang paling penting itu media sosial sih. Melalui Soundcloud dan Spotify, aku juga ikut promosikan karya-karya aku.

Kenapa kamu masih membuat rilisan fisik?

Menurutku perlu, sangat perlu. Karena dengan adanya rilisan fisik kita jadi punya sejarah yang bisa dijadikan kenangan untuk anak cucu. Namun, balik lagi itu pilihan musisinya.

Gimana dengan tawaran manggung?

Alhamdulillah kalau sekarang sudah sering manggung, kebanyakan di event-event kampus dan komunitas. Dalam waktu satu minggu aku bisa manggung 2-3 kali. Belum lagi tawaran untuk manggung di luar kota. Luar kota ini maksudnya luar Jakarta dan Bandung, ya!

Terus gimana cara membagi waktu dengan kuliah?

Tim manajemen dan aku sering ngobrol soal jadwal, terutama jika ada tawaran dari luar kota, ke luar kota aku batasi manggung sekali sebulan.

Sudah sejak kapan kmau lengket dengan gitar dan musik?

Dari kecil aku suka banget buat bunyi-bunyian, lalu meniru karya orang-orang yang menurutku musikya enak. Akan tetapi, baru pas SMP aku serius menjalaninya, sempat gonta-ganti genre juga, seperti punk, screamo, pop, dan akhirnya sekarang lagi jatuh hati sama folk.

Ageda kamu ke depan? Mau serius di karier sebagai musikus?

Aku bakal terus berkarya di musik. Minialbum aku ini, aku jadikan sebagai babak baru untuk serius. Kalau pahitnya dunia ternyata begitu kejam he he he sehingga mengharuskan aku untuk mencari pekerjaan, rasanya pekerjaan itu yang aku jadikan sampingan. (M-1)

Ni Putu Trisnanda, Jurusan Jurnalistik

Universitas Padjadjaran

Komentar