Gaya Urban

Serunya Tersesat Bersama

Ahad, 19 March 2017 04:29 WIB Penulis: Fario Untung Tanu farioi@mediaindonesia.com

DOK. FRIENDSHIP CYCLING COMMUNITY

UJIAN sulit langsung menghadang Friendship Cycling Community (FCC) begitu mereka tiba di pos pertama jalur pendakian Gunung Bromo di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur. Harapan cuaca cerah sirna dengan laporan masyarakat tentang cuaca buruk di atas. Karena rasa penasaran yang besar, sebagian pegowes tetap memilih melanjutkan perjalanan, sedangkan yang lain mundur. Bukit dengan ketinggian 2.900 meter di atas permukaan laut (mdpl) atau terkenal dengan nama Puncak B29 adalah tujuan mereka. Pesona puncak ini memang sudah kesohor sehingga kerap disebut Negeri di Atas Awan.

Rasa penasaran itu pun berbuah dengan pengalaman menegangkan. Kabut tebal membuat medan yang terjal makin sulit dilalui. Terlebih, jalur lintasan tidak sama dengan informasi-informasi yang mereka kumpulkan sebelum perjalanan. Namun, dengan kehati-hatian dan kegigihan, puncak itu pun bisa ditapaki. Belasan pesepeda (biker) FCC yang bertahan berjuang pun merayakan keberhasilan mereka dengan sukacita.

“Setelah sampai puncak itu rasanya sungguh luar biasa. Panorama yang ditampilkan sangatlah sulit diungkapkan dengan kata-kata,” kenang Ketua FCC Bambang Priambodo soal peristiwa pertengahan 2016 itu. Meski menyebut sebagai lintasan tersulit, Bambang juga mengungkapkan perjalanan-perjalanan seperti itu justru yang menjadi kenikmatan gowes komunitasnya.

Bercerita kepada Media Indonesia, Selasa (14/3), Bambang menuturkan komunitas yang berasal dari Kota Batu, Malang, itu memang menyukai gowes ke lintas alam, khususnya gunung dan hutan. “Menikmati keindahan alam dengan udara yang sejuk dengan bersepeda merupakan sesuatu yang sempurna,” ujar pria 45 tahun itu.

Buka jalur
Tidak sekadar mengikuti jalur yang sudah ada, tidak jarang komunitas dengan 50 anggota ini bersepeda dengan tujuan membuka jalur baru. Salah satunya ialah ketika membuka jalur di lereng Gunung Panderman yang kerap dijadikan atraksi paralayang. Ketika itu, jalur yang harus dilewati cukup ekstrem sehingga para biker kerap harus menggotong sepedanya. Dengan kegemaran melintasi medan yang tidak biasa, tidak mengherankan FCC kenyang dengan pengalaman tersesat. Meski begitu, tetap saja, pengalaman ini tidak membuat kapok. Justru momen seperti ini yang diakui menambah keseruan petualangan.

“Tersesat bareng, ketawa-ketawa di hutan, itu serunya,” tukas Bambang. Di sisi lain, bukan pula komunitas ini adalah orang-orang pemburu bahaya. Bambang menjelaskan bahwa persiapan matang selalu mereka lakukan, tidak peduli jenis lintasan yang akan dilalui. Mereka mengumpulkan informasi dari penelusuran internet maupun dari sesama komunitas pesepeda. Jika akan melakukan gowes untuk membuka jalur baru maka informasi cuaca hingga perkiraan medan, mereka pelajari dengan baik. Komunitas ini juga mengajak warga sekitar untuk membantu penelusuran jalur baru tersebut. “Kita pastikan dulu jalurnya aman dan kita ajak warga untuk membuka jalur baru,” tambahnya.

Promosi wisata
Sensasi dari jalur menantang juga diakui anggota FCC Fungki Ferdianto. Bahkan Fungki merasakan banyak manfaat fisik dan psikis setelah bergabung di komunitas itu, di antaranya Fungki berhasil menurunkan bobot dan terbebas dari stres. “Dulu saya itu tubuhnya gemuk dan kedua itu sering merasakan sakit kepala. Namun, setelah rutin olahraga bersepeda ini, berat badan saya bisa turun dan sudah jarang sakit kepala,” tutur Fungki.

Tak hanya melulu soal gowes, komunitas yang dibentuk pada 25 Januari 2016 itu juga memiliki misi promosi pariwisata dan aksi sosial. Argo Wasito, anggota lainnya, menjelaskan promosi pariwisata dilakukan terkait dengan pembukaan jalur baru. “Jadi ketika kita menemukan lintasan atau tempat baru, kita pasti foto dan unggah di media sosial kita dengan tujuan menambah serta memperkenalkan destinasi wisata alam baru di wilayah Batu ini,” jelas pria 40 tahun ini.
Selain di Gunung Panderman, jalur lintasan baru yang berhasil mereka buka adalah di sekitar Desa Toyomerto. Di dalam kota, promosi pariwisata dilakukan dengan cara sederhana, mengantar turis berkeliling Kota Batu dengan cara bersepeda. (M-3)

Komentar