PIGURA

Tabayun

Ahad, 19 March 2017 04:00 WIB Penulis: Ono Sarwono sarwono@mediaindonesia.com

Dok MI

PRESIDEN Keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku pertemuannya dengan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka (9/3) sebagai ajang tabayun. “Suasana baik sekali karena jadi ajang tabayun yang baik,” demikian kata SBY dalam jumpa pers bersama Jokowi seusai pertemuan.

Apa itu tabayun? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tabayun artinya pemahaman; penjelasan. Bila dikontekskan dengan suasana hati dan batin (politik) SBY baru-baru ini, tabayun yang dimaksud kurang lebih untuk menjelaskan atau sebaliknya mencari penjelasan terkait dengan berbagai isu yang menyangkut dirinya. Apa pun kepentingannya, pada aspek lain yang lebih luas bahwa pertemuan presiden dengan mantan presiden memiliki arti penting dan strategis bagi bangsa. Sederhananya, bila para pemimpin rukun dan selalu bersilaturahim, rakyat juga pasti rukun dan takzim.

Kehilangan Wisnu
Dalam cerita wayang, contoh pemimpin yang kekal menjaga silaturahim dan tabayun adalah Prabu Baladewa. Sejak memegang tampuk kepemimpinan Mandura pascalengsernya Prabu Basudewa, Baladewa menjunjung tinggi perilaku luhur itu demi kerukunan bersama para saudaranya yang juga telah sama-sama sukses mbaudenda hanyakrawati (berkuasa). Bila ditilik dari sisi keluarga, posisi Baladewa sebagai kakak. Adatnya, adik yang mestinya sowan kepada yang lebih tua. Akan tetapi, Baladewa tidak mau terbelungggu oleh kebiasaan itu. Ia lebih memilih merendahkan hati dan melangkah kaki mengunjungi adik-adiknya.

Di antara waris yang kerap disambangi adalah adik kandungnya, Narayana alias Kresna, yang menjadi raja di Dwarawati. Di negara ini, ia juga memiliki adik sepupu bernama Setyaki yang menjadi senapati serta Udawa, adik lain ibu yang mengemban jabatan patih. Saudara lain yang juga kerap dijenguk ialah Puntadewa, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa (Pandawa). Puntadewa menjadi pemimpin di Negara Amarta. Dari garis darah, Puntadewa merupakan adik sepupunya. Kunti, ibu Pandawa, adik kesayangan Basudewa, ayah Baladewa.

Satu lagi saudara yang juga sering ditengok yaitu Duryudana, penguasa Negara Astina. Hubungan Baladewa dengan Duryudana terjalin akrab karena sama-sama menantu Prabu Salya, raja Mandaraka. Selain itu, Duryudana meguru (menimba ilmu) kepada Baladewa dalam hal menggunakan senjata pedang dalam berperang. Di antara kisah-kisah tabayun menarik ketika Baladewa diceritakan mendengar kabar samar-samar bahwa Kresna akan punya gawean mantu. Menikahkan putrinya, Siti sundari, dengan Abimanyu, putra Arjuna.

Hatinya bertanya-tanya, kenapa sebagai kakak, pengganti orangtua, tidak dikabari atau minimal diajak rembukan? Berita itu sendiri telah sampai ke mana-mana dan bahkan hari ijabnya pun sudah dipastikan. Yang menjadi kebingungan lain Baladewa ialah sepengetahuannya, Arjuna pada hari-hari itu sedang ‘menghilang’ (laku prihatin) tanpa diketahui rimbanya. Artinya, pernikahan itu tidak akan dihadiri besan. Kerancuan dan keanehan seperti itu sangat wajar bila menimbulkan syak wasangka yang tidak-tidak (negatif). Namun, Baladewa sungguh bijaksana. Ia tidak ingin mengarang-ngarang, tetapi memilih tabayun ke Dwarawati. Ia segera mengunjungi dan bertemu langsung dengan Kresna.

Dalam pertemuan empat mata di ruang tengah istana, Baladewa mendapat jawaban bahwa memang benar Kresna akan menikahkan Siti Sundari dengan Abimanyu meski sang besan, Arjuna, absen di hari pernikahan. Selain itu, Kresna mengaku tidak mengabari Baladewa karena khawatir hal itu akan merepotkan. Baladewa kaget, benar-benar tidak menyangka mendapat jawaban yang tidak pernah ia bayangkan. Ia sangat mengenal luar-dalam siapa adiknya itu. Selain sakti, pintar, arif, dan bijaksana, Kresna ialah titah sekaliber bathara yang sering menjadi tempat bertanya, termasuk dirinya.

Sampai di sini Baladewa belum paham apa yang sedang terjadi pada Kresna. Namun, ia tidak suuzan dan merasa wajib mengingatkannya terkait dengan rencana menikahkan yang dipaksakan tersebut. Kulturnya, gumam Baladewa, jika besan tidak diketahui keberadaannya atau tidak bisa merestui, pernikahan semestinya ditunda. Tidak pantas tetap dilangsungkan dalam kondisi seperti itu. Pemaksaan seperti itu selain melanggar norma, dikhawatirkan mendatangkan kualat.

Namun, Kresna dengan tegas menjawab dirinya tidak ingin bertele-tele, yang penting kedua mempelai sudah sama-sama mencintai. Pamong Pandawa, Semar, yang sengaja sowan ke Dwarawati tanpa diundang, juga menghaturkan saran serupa demi kehormatan Kresna sendiri. Akan tetapi, petuahnya tidak digubris. Ia malah dinistakan, kuncungnya diludahi Abimanyu atas perintah tidak langsung calon mertuanya. Menyaksikan peristiwa yang keterlaluan itu, Baladewa yang sejatinya pribadi temperamental hanya mengelus dada. Ia geleng-geleng sambil menahan amarah. Ia lalu dengan sabar mempertanyakan, kenapa etika, moral, dan keadaban sudah tidak ada lagi di Dwarawati.

Kresna menanggapi tidak ada orang lain yang berhak menilai. Semua yang terjadi di Dwarawati tidak ada yang salah karena kuasanya. Ia juga menegaskan, sebagai titisan Bathara Wisnu, dirinya bebas dan bisa melakukan apa pun sekehendaknya, bahkan membuat sang surya terbit dari barat sekalipun. Pada titik ini Baladewa terkekeh-kekeh. Ia baru menyadari ada yang tidak beres pada adiknya. Ia memahami semua yang baru saja terjadi memang buah dari ketidakwarasan. Baladewa meyakini sang adik sedang kehilangan jati dirinya. Kresna sedang ditinggal (kekosongan) Wisnu.

Baladewa jadi iba. Ia lalu memutuskan diri tidak terburu-buru kembali ke Mandura, tinggal sementara di Dwarawati sekaligus memastikan negara tidak goyah dan terpuruk karena rajanya sedang sakit. Baladewa juga menjalani laku prihatin hingga adiknya siuman. Kembali menjadi Kresna sejati, titah yang berjiwa bathara.

Perilaku mulia
Hikmah dari kisah tersebut ialah tabayun. Ketika ada keanehan, hatinya terusik, Baladewa tidak lalu berfantasi, menerka-nerka atau merasa dizalimi. Ia segera tawadu bersilaturahim dengan Kresna. Ia tidak ingin antara dirinya dan adiknya bermasalah karena pemahaman salah. Pada sisi lain, kelonggaran hati Baladewa untuk memulai dari dirinya sendiri bertabayun demi terpelihara kerukunan. Itu ia lakukan bukan hanya dengan Kresna, melainkan juga dengan Pandawa dan Duryudana. Ia yakin, bila Mandura-Dwarawati-Amarta-Astina rukun, marcapada damai.

Konteks dengan situasi kebangsaan kita bahwa bersilaturahim dan tabayun antarpemimpin merupakan perilaku mulia. Sungguh indah bila para pemimpin selalu akur meski paham politik mereka berbeda. Jadi, seyogianya kita menguri-uri piwulang (petuah) luhur leluhur, yaitu rukun agawe santosa, crah agawe bubrah, rukun membuat kuat, bertengkar mengakibatkan kehancuran. (M-2)

Komentar