Travelista

Tebing Breksi nan Dramatis

Ahad, 19 March 2017 02:28 WIB Penulis: Furqon Ulya Himawan furqon@mediaindonesia.com

MI/FURQON ULYA HIMAWAN

COMMUNITY Base Tourism (CBT), wisata berbasis masyarakat, inilah yang sedang digalakkan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebuah inisiatif warga desa untuk menemukenali potensi wisata di desa mereka, lalu mengembangkannya menjadi destinasi wisata yang kreatif, unik, dan menarik bagi para pelancong nusantara maupun luar negeri. Terhitung, ada 125 desa wisata yang sudah teregister di DIY, mulai yang baru menjadi embrio, sudah berkembang, dan desa wisata yang sudah mandiri. Di desa wisata ini, semua pengelolaan di serahkan kepada masyarakat desa melalui Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis.

Yogyakarta memang menerapkan konsep pengembangan wisata berbasis masyarakat dan komunitas. Konsep ini, menurut Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas Pariwisata Dinas Pariwisata DIY, Setyawan Kresno Edi, akan terus digalakkan hingga 2025. “Konsepnya sampai 2025, pengembangan wisata Yogyakarta diarahkan berbasis masyarakat dan komunitas,” ujar Setyawan. Tujuannya merangsang kreativitas masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengembangan desanya menjadi sebuah destinasi wisata yang unik dan berbasis kearifan lokal, baik budaya maupun alam.

Di antara potensi desa wisata yang mulai berkembang di Yogyakarta dan menjadi destinasi wisata kekinian ialah Tebing Breksi, sebuah destinasi wisata di Sambirejo, Prambanan, Sleman, DIY. “Tebing Breksi salah satunya, wisata berbasis alam yang dikembangkan masyarakatnya,” imbuhnya. Tebing Breksi berada di bawah Candi Ijo, jaraknya sekitar 500 meter. Destinasi ini terhitung baru karena di Dinas pariwisata DIY, Tebing Breksi baru masuk klasifikasi destinasi yang berkembang, belum mandiri. Jadi itu masih perlu mendapatkan pendampingan secara kontinyu.

Awalnya lokasi tambang
Dahulu Tebing Breksi ialah lokasi pertambangan batu kapur. Puluhan bahkan ratusan masyarakat berprofesi sebagai penambang batu. Dinas pariwisata mengaku sangat kesulitan merubah pola pikir masyarakat karena sudah kadung lama puluhan bahkan ratusan masyarakatnya menggantungkan perekonomian di situ. “Tidak mudah merubah pola pikir masyarakat dari pertambangan kapur untuk pengembangan obyek wisata berbasis alam,” akunya.

Untuk memudahkannya, Dinas Pariwisata DIY mengaku menggelontorkan anggaran yang tidak sedikit untuk turut serta menyulap Tebing Breksi menjadi destinasi wisata terbaik. “Ada anggaran dari Dana Keistimewaan DIY yang kami keluarkan,” kata Styawan. Kini, seonggok tebing batu itu kini berubah menjadi destinasi andalan di Sleman, tak hanya wisatawan domestik, wisatawan manca pun tak sedikit yang menyambanginya. Bahkan, ada yang sengaja rombongan dari luar DIY datang menikmati suasana alam Tebing Breksi.

Dinas Pariwisata mengaku terus mendam­pingi masyarakat dalam pengembangan Tebing Breksi. Titik Sulistiyani, Kasi Kelembagaan Bidang Kapasitas Dinas Pariwisata DIY, menyatakan SDM warga harus terus dikembangkan agar bisa terus mengembangkan potensi wisata di daerahnya. Seluruh masyarakat di DIY juga terus dirangsang untuk menemukenali potensi wisata di daerah mereka. “Masyarakat bisa mengusulkannya agar mendapatkan dam­pingan dari dinas pariwisata,” katanya.
Kalau ada, koordinasi dengan SKPD di daerah akan terus dilakukan dan pendampingan serta pelatihan kepada warga desa terus digalakkan agar desa wisata bisa segera diwujudkan.

“Seperti pelatihan manajerial dan pengelolaan wisata yang berkelanjutan,” ujarnya. Dengan destinasi wisata berbasis masyarakat, pelan tapi pasti ekonomi masyarakat terangkat, seperti yang dirasakan warga pengelola Tebing Breksi, di Sambirejo, Prambanan. Simpul-simpul perekonomian warga mulai tumbuh, ada yang mengelola kuliner, atau menjadi pengelola parkir.

“Banyak warga yang terlibat dalam pengelolaan. Yang dulunya penambang, sekarang jadi pengelola wisata,” kata Kholiq Widiyanto, Ketua Pengelola Tebing Breksi. Dulu hanya seonggok tambang yang tak menarik untuk didatangi. Kini, ribuan orang berdatangan untuk menikmati keunikan destinasi dan sensasi keindahan matahari terbenam dari atas.

Destinasi baru
Siang itu, Selasa (31/1), jarum jam masih menunjuk pukul 14.00 WIB. Awan hitam banyak yang bergelayutan di langit membuat terik mentari tak begitu terasa. Di jalan setapak menuju destinasi wisata Tebing Breksi selalu ada saja kendaraan yang masuk dan keluar. Namun, kalau dihitung-hitung, intensitas yang masuk lebih banyak daripada yang keluar.

Di bawah pohon yang rindang, kiri jalan, terdapat sebuah pos penjagaan semipermanen. Pengelola Tebing Breksi selalu menghentikan kendaraan pengunjung yang hendak memasuki Tebing Breksi. Di pos ini, pengunjung diminta membayar tiket parkir, Rp2.000 untuk kendaraan roda dua, kendaraan roda empat Rp5.000, minibus Rp15 ribu, dan bus Rp25 ribu. Untuk tiket masuknya, pengunjung hanya dimintai seikhlasnya. “Parkirnya, roda dua Rp2.000, masuknya seikhlasnya,” ujar penjaga pintu masuk Tebing Breksi, dengan sopan.

Tebing Breksi merupakan destinasi wisata di Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY. Destinasi ini terhitung baru dan tercatat di Dinas Pariwisata DIY sebagai destinasi wisata yang baru berkembang. Secara resmi, pada Mei 2015, Sultan HB X membuka Tebing Breksi sebagai destinasi wisata yang pengelolaannya dilakukan masyarakat. Dulunya, Tebing Breksi adalah area pertambangan. Kurang lebih selama 30 tahun, ratusan warga menggantungkan perekonomian keluarga dari sini secara turun-temurun. Di sini, batu-batu itu diubah menjadi patung, bahan fondasi. Hasil pertambangan, sebagian besar diekspor ke luar negeri.

Dilarang menambang
Pada kisaran 2014, Kementerian ESDM dan peneliti dari kampus di Yogyakarta melakukan penelitian secara intensif. Hasilnya, Badan Geologi Nasional Kementerian ESDM mengeluarkan SK yang menyatakan Tebing Breksi sebagai lokasi geo heritage, sebuah tebing yang berasal dari endapan abu vulkanis gunung api purba di kawasan Candi Ijo, Yogyakarta. “Warga kemudian dilarang melakukan aktivitas penambangan,” kata Kholiq Widiyanto, Ketua Pengelola Desa Wisata Tebing Breksi.

Pascapenutupan area pertambangan, muncul solusi untuk menjadikan Tebing Breksi sebagai area pertanian. Namun, itu tidak jadi dilakukan karena setelah diteliti, banyak kendala jika hal itu diwujudkan. Lalu muncullah ide untuk menjadikannya sebagai destinasi wisata berbasis alam yang pengelolaannya diserahkan kepada warga desa. Nama Breksi sendiri diambil dari orang-orang luar negeri yang menjadi konsumen hasil tambang. “Mereka menyebutnya Batu Breksi. Jadi kami menyebutnya sebagai tebing Breksi,” ujar Kholiq mengisahkan sejarah Tebing Breksi. (M-1)

Komentar