MI Muda

Proyek Cahaya, Kolaborasi Depok dan Chiba

Ahad, 19 March 2017 01:30 WIB Penulis: Zat/M-2

DOK LAFARGEHOLCIM

SELAIN jembatan yang juga menjadi sarana sanitasi yang membuat Indonesia eksis di Lafarge Holcim Awards tahap keempat kategori Next Generation Asia Pasifik, arsitek negeri ini pun meraih pencapaian di kategori utama, juga di lingkup yang sama.

Megacity Skeleton yang meraih hadiah penghargaan merupakan hasil kolaborasi penulis utama, yaitu Tomohiko Amemiya, arsitek dari Unitydesign, Tokyo, Jepang, serta akademisi dan mahasiswa Universitas Chiba Jepang dengan dosen arsitektur dan murid-muridnya di Universitas Indonesia (UI), Evawani Ellisa, Achmad Hery Fuad, Joko Adianto, Mikhael Johanes, dan Meidesta Pitria.

"Ini bagian dari perjalanan panjang, kami sudah berkolaborasi sejak 2011 dalam penelitian Mega City Environment, tentang Jakarta dan permukimannya yang kumuh dan padat. Awalnya di Cikini. Ketika meriah award, saya surprise, walaupun perusahaan ini memproduksi semen tapi yang dapat penghargaan tidak selalu inovasi yang menggunakan semen, bangunan kayu pun diapresiasi," kata Evawani ketika dijumpai di Kampus UI, Depok, Jawa Barat, Senin (13/3).

Cahaya beroleh beasiswa
Salah satu penelitian berkorelasi dengan cahaya karena lingkungan padat membuat matahari tidak bisa masuk. "Intinya mereka berpikir bagaimana kalau membuat void-void untuk memasukkan cahaya.

Ide-ide ini kami sampaikan kepada warga dan mereka antusias. Akhirnya kerjasama dan penelitian ini berbuah jadi sebuah workshop yang kami jalankan setiap tahun. Kami membangun proyek Rumah Pintar, semacam model untuk bangunan di sana," kata Evawani.

Nama Mega City Skeleton kemudian disematkan karena ada bagian yang permanen seperti beton juga yang fleksibel, sebagai void. Pada proses pembangunan, selain pekerja, mahasiswa UI dan Jepang juga turut berkontribusi.

"Sebelumnya sempat ada proyek di Kota Tapeiyama, Jepang, dulu kami mengirim mahasiswa. Tapi memang lebih menarik isu-isu di Indonesia, karena di Jepang sebagian persoalan seperti ini memang sudah selesai. Ikut berbagai kegiatan seperti ini membuat mahasiswa belajar langsung turun ke lapangan, juga bidang sosial masyarakat. Manfaatnya buat masyarakat, memiliki hunian yang lebih baik," ujar Evawani.

Proyek terkait cahaya ini, akan terus digulirkan dengan pameran di Korea Selatan hingga pembuatan MCK untuk warga kota Jakarta. Buat para lima mahasiswa yang terlibat, kolaborasi itu berbuah beasiswa. "Juga, karena sifatnya internasional, untuk arsitek jelas menambah vocabulary desain," ujar Evawani. Mari mengeksplorasi kolaborasi dan kompetisi global!

Komentar