MI Muda

Adu Ide dan Inspirasi Arsitek Muda

Ahad, 19 March 2017 00:29 WIB Penulis: Iis Zatnika

DOK LAFARGEHOLCIM

KAMPUNG di belakang kampus Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung, Jawa Barat itu, berkontur menurun dengan rumah-rumah yang bersesakan. Gang-gang kecil di antaranya dan Sungai Cikapundung yang membelah permukiman padat itu.

Di Bukit Jarian, nama kawasan itu, warga hidup berdampingan dengan anak-anak kampus Unpar yang memilih indekos di sana, terutama yang mengidamkan kamar-kamar bertarif murah. Antonius Richard Rusli, 24, salah satunya. Mahasiswa Arsitektur Unpar yang masa kecilnya dihabiskan di Sumatra dan kemudian menjalani SMA di Jakarta bersama sang nenek itu memilih indekos di sana karena kamarnya hanya seharga Rp400 ribu dengan suasana kamar yang asyik.

"Nyaman sih, sampai pada suatu malam, ketika Bandung lagi hujan deras, saya datang ke kosan dan melihat kamar saya jadi lautan tinja," kenang Richard ketika dijumpai di kantor biro arsitek yang didirikannya, Radar Architecture, di kawasan kebun Jeruk, Jakarta Barat.

Richard menduga sistem pembuangan air kotor juga penataan pemukiman Bukit Jarian yang tak beraturan jadi pemicunya. Ia pun kemudian menghubungkan dengan perilaku warga yang kerap dipergokinya membuang sampah ke Sungai Cikapundung yang alirannya di kampung itu sebenarnya masih terbilang jernih karena posisinya yang termasuk Bandung bagian atas.

Menata Bukit Jarian
"Jadi bisa dibilang Bukit Jarian ini memang butuh penataan, baik itu dalam sistem infrastruktur urbannya, maupun perilaku warganya, karena mau tidak mau akan saling mempengaruhi," kata Richard yang saat itu telah mulai eksis di berbagai sayembara arsitek. Istimewanya, merintis di kategori mahasiswa, hingga awalnya beberapa kali tak masuk hitungan juri, Richard kemudian justru lebih asyik masuk ke kategori profesional.

Informasi tentang Holcim Awards Cycle Ke-4, yang kini bernama Lafarge Holcim Awards, yang didapatnya membuat pengalaman personal yang mengejutkan pun teramat membekas serta keinginannya untuk berkontribusi bagi kehidupan warga Bukit Jarian itu dapat dipadukan.

"Bayangkan, buku-buku arsitek saya yang tebal-tebal, yang harganya buat saya, sangat mahal itu rusak semua. Dari situ saya merasa inilah momentum untuk mengaplikasikan idealisme arsitek, menghubungkan, bangunan, fasilitas fisik untuk kehidupan manusia," ujar Richard.

Desain pun ia kebut bersama timnya, kawan-kawan kuliahnya, Kenneth Soewarto, Raymond San, Steve Soesanto, serta Raynaldo Theodore. Terhitung dua pekan mereka mematangkan karyanya yang berjudul Urban Neighborhood Remediation yang kemudian dimasukkan dalam kategori Next Generation, yang mewadahi peserta di bawah 30 tahun baik mahasiswa maupun profesional muda, dengan ide-ide yang visioner dan berani.

Jembatan untuk publik
Richard mengisahkan karyanya sembari membuka halaman personalnya di Coroflot.com, portal yang menjadi ruang pajang karya-karya desain. "Konsep dasarnya sebenarnya jembatan yang menghubungkan kawasan Bukit Jarian yang dipisahkan Sungai Cikapundung, tapi ada bangunan sanitasi di sana, WC-WC umum dengan sistem yang baik tentunya, serta ruang publik di sana. Ada musala, area bermain dan raung publik lainnya. yang mau disasar, penyediaan sanitasi juga edukasi pada warga untuk memperlakukan Cikapundung lebih baik," ujar Richard.

Kendati selama masa kuliah tak kurang 28 kompetisi ia juarai, termasuk Holcim Awards, dengan beragam peringkat, mulai juara satu hingga tiga, desainnya buat kompetisi konstruksi berkelanjutan itu dirasanya teramat istimewa. "Sejak SMA memang aku sudah terbiasa cari uang sendiri, mulai jualan nasi uduk, dan saat kuliah, ikut kompetisi ini bisa membuka pintu ke banyak kesempatan. Portofolio aku bisa terus bertambah secara kuantitas secara kuantitas dan kualitas, karena kalau cuma mengandalkan kuliah, kemungkinan membuat karya sekitar tujuh, kalau dihitung per semester, lalu aku yang merasa putus asa karena nilai jelek di awal jadi PD, jam terbang nambah dan tentunya jadi bisa nabung," ujar Richard.

Penghargaan paling istimewa
Bukan cuma karena kemenangannya di tingkat asia Pasifik itu berhasil membawanya mengikuti pelatihan di New York, Amerika Serikat, penghargaan dari produsen semen global itu juga disebutnya prestisius karena bertaraf global, pun hadiahnya terbilang istimewa, US$10 ribu. Namun, pembelajaran yang ia dapat dari diskusi, pemaparan narasumber, arsitek-arsitek dunia, serta interaksinya di lapangan, seusai kembali dari New York disebutnya menjadi pengalaman teramat berharga.

"Dari situ saya menyadari, untuk karya-karya idealis, yang realisasinya ditentukan banyak faktor, pemegang kebijakan, pengucur dana dan membutuhkan dukungan publik, yang harus dilakukan adalah viralkan dulu, dan support itu akan datang," ujar Richard.

Tak ingin desainnya cuma terpampang di Coroflot dan manfaat kerja keras ia dan timnya hanya sebatas referensi para mahasiswa dan arsitek muda, Richard optimistis jembatan keren dan multifungsi di Bukit Jarian itu bisa dibangun.

"Berangkat dari pembelajaran itu, kami sedang berproses mematangkan desain dan akan melengkapinya dengan video tiga dimensi, berkolaborasi dengan kawan-kawan di bidang itu. Ketika saya mendirikan Radar, salah satu kependekannya adalah research. Divisi dan kegiatan penelitian, yang lebih idealis ini, yang sedang kita garap beberapa desainnya, untuk realisasinya, diviralkan dulu, membuat orang tergugah dan jalannya pasti akan terbuka," kata Richard yang kini dibantu empat kawannya mengawal Radar dan kini telah mulai merintis eksistensi di tengah ketatnya kompetisi biro arsitek. Proyek kawasan perkantoran dan hunian tengah mereka garap.

Tahap kelima
Lafarge Holcim Awards kini memasuki putaran kelima, masih terbagi dua kategori, utama dan Next Generation. Kategori utama dibuka bagi arsitek, perencana, insinyur, mahasiswa jurusan terkait, pemilik proyek, pengembang dan kontraktor. Mereka mesti menunjukkan praktik konstruksi berkelanjutan pada penggunaan teknologi, aspek lingkungan sosial ekonomi, dan budaya dalam perencanaan dan konstruksi proyeknya. Proyek harus telah mencapai tahap lanjutan dari sisi desain, memiliki probabilitas tinggi untuk dieksekusi, dan belum memulai proses pembangunan sebelum 4 Juli 2016.

Kategori utama memang terbuka buat mahasiswa, tapi Next Generation bisa jadi lebih memungkinkan. Di sini, mahasiswa dan profesional muda di bawah 30 tahun dapat mengirimkan konsep visioner dan idenya.

Oepoyo Prakoso, Sustainable Development Manager Holcim Indonesia sekaligus Lafarge Holcim Awards 5th Cycle Country Coordinator, mengungkapkan kompetisi ini menjadi wahana untuk merayakan sekaligus mengingatkan pentingnya konstruksi berkelanjutan di sepanjang rantai nilai, dari desain hingga pembangunan. "Kami mendukung berbagai inisiatif yang melampaui solusi teknis untuk mempromosikan pendekatan pembangunan berkelanjutan dan solusi yang merangkul keunggulan arsitektur yang meningkatkan kualitas hidup," kata Oepoyo.

Registrasi Lafarge Holcim Awards 5th Cycle dibuka hingga Selasa (21/3), lo. Jadi, daftar dan sebarkan inspirasimu! (M-2)

Komentar