Jendela Buku

Angan Senja Senyum Pagi

Sabtu, 18 March 2017 02:36 WIB Penulis: Fahd Pahdepie

BUKIT

HUJAN malam itu lambat dan panjang. Angan dan Pagi saling mematung, terpisah jarak dari kisah mereka yang beku di ujung waktu.

Lanskap taman seolah tak ingin menunjukkan diri, lampu merkuri temaram di antara mereka berdua, dikaburkan rintik hujan.

Angan memperhatikan wajah Pagi. Wajah itu, wajah yang pertama kali ia lihat belasan tahun lalu dan membuat matanya nyalang semalaman, wajah yang entah bagaimana diciptakan Tuhan dengan alis yang sempurna, hidung yang sempurna, bibir yang sempurna.

Tak pernah bisa pergi dari inti memorinya selama ini.

Angan melangkah mendekat ketika payung miliknya lepas dari genggaman. Kemudian ia menarik ujung payung bening milik Pagi.

Angan masih bisa melihat wajah Pagi dari balik payung bening itu meski titik-titik hujan masa lalu sedikit mengaburkannya.

Namun, itu cukup buat Angan.

Itu cukup.

Sebab ketika ia mengecup payung itu, seolah di kening Pagi, ia tak perlu menjelaskan apa-apa lagi.

Tentang Angan Senja yang tak pernah berhenti menanti Senyum Pagi.

Novel ini mungkin akan menjadi salah satu novel Fahd Pahdepie yang paling berbeda.

Dalam novel ini, Fahd Pahdepie memosisikan diri sebagai seorang pencerita (storyteller) seutuhnya tanpa pretensi untuk membawa pesan moral apa pun.

Ia percaya sebuah cerita akan memiliki hikmah dan kebaikannya sendiri-sendiri.

Melalui novel ini, mungkin Fahd Pahdepie juga seperti memancangkan sebuah bendera bahwa ia akan menulis tema-tema romance semacam ini di masa depan.(Zuq/M-2)

____________________________________

Judul : Angan Senja Senyum Pagi

Penulis : Fahd Pahdepie

Penerbit: BUKIT

Terbit : Maret 2017

Tebal : 360 Halaman

Komentar