Jendela Buku

Persaudaraan Agama-Agama

Sabtu, 18 March 2017 02:15 WIB Penulis: Waryono Abdul Ghafur

Al-Mizan

DI antara agama-agama yang ada di dunia, Yahudi, Nasrani, dan Islam memiliki penganut paling banyak dan paling sering terlibat konflik dalam sejarah.

Padahal, pembawa tiga agama tersebut bermuara pada satu figur, yakni Ibrahim.

Karena kesamaan itulah, penganut ketiga agama tersebut berebut klaim sebagai ahli waris millah Ibrahim.

Millah Ibrahim (Abrahamic Religion) di sini bermakna kepercayaan dan praktik hidup yang dijalankan Ibrahim.

Millah Ibrahim di satu sisi bersifat terbuka atas berbagai keyakinan dan praktik keagamaan yang selaras dengan pengertian tersebut meski secara genealogis tidak bermuara pada Ibrahim.

Di sisi lain, ia bersifat tertutup atas iman dan praktik keagamaan yang tidak selaras meski masih memiliki hubungan genetis dengan Ibrahim.

Jadi, persaudaraan agama-agama terjalin bukan karena hubungan genetis, melainkan karena hubungan imani dan syar'i.

Millah Ibrahim dalam pengertian tersebut dapat dijadikan paradigma untuk memahami ayat-ayat tertentu Alquran.

Ayat-ayat Alquran mesti diingat, merupakan satu-kesatuan utuh yang tidak boleh dipahami secara parsial (juz'iyyah).

Di samping itu, kita juga mesti memahami Alquran secara kontekstual dengan menelusuri latar historis ayat sambil menyelisik ideal moralnya.(Zuq/M-2)

_____________________________

Judul : Persaudaraan Agama-Agama Millah Ibrahim dalam Tafsir Al-

Mizan

Penulis : Waryono Abdul Ghafur

Penerbit: Al-Mizan

Terbit : 2017

Tebal : 292 halaman

Komentar