Surat Dari Seberang

Kampung, “Criminal Saints” dan Tanda Salib

Sabtu, 18 March 2017 09:00 WIB Penulis: Milto Seran, dari Moscow, Rusia

Foto: Milto Seran

“Kowé kira, kalo sudah pake pakean Eropa,
bersama orang Eropa, bisa sedikit bicara Belanda
lantas jadi Eropa? Tetap monyet!”
__Pramoedya A. Toer

AKHIR September 2016. Di Wekeke, sebuah kampung sunyi di batas Malaka dan TTU, di Timor yang gersang. Di situ saya duduk dan menulis hal-hal ringan tentang perjalanan, tentang pesan sahabat-sahabat yang pernah saya jumpai di kota-kota yang saya datangi atau juga kampung-kampung yang telah membesarkanku.

Di halaman-halaman rumah sejumlah anak bermain perang-perangan. Di dekat rumah, tepatnya di bawah pohon asam beberapa orang dewasa tidur beralaskan kardus bekas. Tiga sepeda motor diparkir di dekat mereka. Matahari siang itu begitu menyengat. Sering anak-anak meminta air minum pada ibu-ibu mereka. Sedihnya sumber air dari pipa tidak ada. Penduduk Wekeke menimba air di kali, menaikkan ke atas jok belakang sepeda motor lalu melarikannya dengan enteng. Selebihnya ibu-ibu menimba air dengan ember atau jeriken, menjunjungnya dan berjalan lebih dari dua kilometer menuju kampung.

Seorang ibu mulai curhat, “Di musim hujan rasanya sengsara. Air bersih tak ada. Di kali itu yang kami lihat cuma air berwarna cokelat. Kalau di kampung juga hujan, kami masih bisa hidup dari air hujan. Susahnya, di kampung tidak hujan, dan kali terlihat kotor sepanjang minggu. Mau ambil air bersih dari mana? Sedih juga karena kami tidak bisa menyiapkan sarapan, makan siang atau malam. Kami sanggup menahan lapar, tapi bagaimana anak-anak?”

“Saya dengar-dengar pemerintah punya bantuan mobil tanki untuk mendatangkan air bersih. Harap di Wekeke ini segera ada bantuan seperti itu.”

“Ehhhh mana pemerintah mau peduli sama kami? Justru mobil tanki dikasih ke tempat-tempat yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah air bersih.”

“Mungkin di sana mereka butuh mobilnya, bukan tanki airnya.”

“Mungkin saja. Orang-orang sekarang ‘kan sudah beda. Ke mana saja maunya numpang mobil.”

Wekeke seperti itu. Jauh dari keramaian. Jauh dari layanan air bersih dan listrik negara. Akses jalan raya dari Biudukfoho ke kampung yang jumlah penduduknya tak lebih dari limaratus jiwa ini sangat mencemaskan. Tak beraspal. Mesti melewati kali tanpa jembatan. Jika hujan turun, arus transportasi lumpuh total.

Tahun 1980-an, di banyak kampung di Timor, saat mobil apapun masuk kampung, anak-anak mengejar mobil, hendak menyentuh bagian belakang, ingin bergantung pada badan mobil yang sedang berlalu dengan kecepatan di bawah 40 km/jam karena kondisi jalan yang lekuk. Sebuah tindakan riskan, tapi menunjukkan mimpi besar meninggalkan sesuatu yang lama menuju hal yang tak biasa. Kenyataan lama ini masih terlihat jelas di Wekeke hari ini.

Umumnya di Timor di kampung-kampung seperti ini orang-orang dewasa duduk dan bercerita dari pagi hingga siang. Menurut bahasa setempat, “Ibu-ibu atau gadis-gadis mencari kutu rambut.” Sedangkan bapa-bapa duduk melingkar di bawah pohon besar dan bercerita tentang banyak hal, mulai dari Ahok dan lika-liku politiknya di Ibu Kota, Ronaldo di Real Madrid hingga alkohol di pesta-pesta di kampung tetangga.

Saya duduk di depan rumah, bercerita dengan beberapa orang tua perihal rasa senang datang ke tempat ini. Juga mengapa saya tak bisa tinggal berlama-lama dengan mereka? Tapi ada hal yang mengganggu. Dalam batinku ada perasaan kurang percaya diri lantaran sudah sejauh ini banyak orang dengan latar pendidikan seperti saya hanyalah “tukang jalan-jalan”.

Kepada orang-orang di kampung ini saya bercerita tentang perjalanan ke Russia lewat Abu Dhabi atau Qatar, atau Hong Kong atau Turki atau Cina dan masih banyak rute lain yang bisa ditempuh. Kadang mereka yang mendengarnya cuma bisa diam. Tak paham. Di mata mereka tampak jelas ketakpahaman. Tapi ada beberapa yang mengangguk-angguk, seakan mereka tahu baik tentang Abu Dhabi atau Qatar.

* * *

Di dunia ini ada berbagai keyakinan. Ada yang percaya pada takdir. Ada pula yang tak percaya pada takdir. Susahnya, ada yang hidup begitu saja, seakan tak ada pegangan hidup. “Tinggal menunggu ajal menjemput.” Itu sangat berbahaya. Sebab tipe yang terakhir ini mudah digiring menuju jurang: kalau bukan jurang “fatalisme” (kelompok yang percaya pada takdir), yahhh jurang “pemiskinan” oleh para penguasa, mereka yang memegang kendali kebijakan-kebijakan untuk Kebaikan Publik.

Tentang hal inilah saya teringat Abu Dhabi untuk kesekian kalinya. Di Abu Dhabi yang jauh dari Wekeke, saya menunggu flight ke Jakarta. Tepatnya di Terminal tiga dekat gate enam. Saat turun dari pesawat rute Moscow – Abu Dhabi,saya berjalan di dekat seorang penumpang lain berkulit putiha la Eropa. Beberapa kali dia melihat ke arah saya. Kemudian saya balik melihatnya, tapi dia malah mengalihkan pandangan ke objek lain.Dia memalingkan wajah seolah-olah tidak melakukan kontak dengan saya sebelumnya. Dia melihat lagi ke arah saya untuk ke sekian kalinya. Ada hal yang mengganggunya. Sepertinya dia sudah tak sanggup menahan beban kuriositas di kepalanya. Dia bertanya tentang buku di tangan saya.

“Minta maaf, buku apa itu?”

“Buku sastra. Kumpulan puisi dan biografi penulisnya, Aleksander Bashlachyov.”

“Ohh kamu bicara dalam Bahasa Russia ya?”

“Iya. Tapi saya masih terus belajar Bahasa Russia. Makanya saya suka literatur. Di situ kita tak hanya belajar bahasa Russia, tapi juga banyak hal lain tentang Russia. Budaya, kebijaksanaan, filosofi, dan lain-lain.”

“Saya dua tahun di Russia. Pernah belajar Bahasa Russia. Tapi saya angkat tangan, memutuskan berhenti.”

Buku di tangan, sesuatu yang terasa biasa di kereta-kereta bawah tanah di Moscow. Tapi di perjalanan, buku adalah alasan memulai obrolan, saling menyapa, berkenalan, hingga menikmati hotdog, soft drink, pizza dan menyentil hal-hal serius di seputar terminal tiga, Abu Dhabi International Airport.

Erik Saether, pria yang menjadi teman bicara dalam perjalanan ini mulai menyinggung masalah korupsi di negara-negara Afrika, masalah yang juga sedang diperangi di Indonesia, tapi belum tuntas juga hingga detik ini. Di Afrika, di kampung-kampung kemiskinan adalah masalah yang sudah akrab. Saking akrabnya dengan persoalan, orang tidak sanggup lagi melihat itu sebagai masalah hidup. Orang menerimanya sebagai bagian dari hidup yang mesti dijalani tanpa banyak membuang energi untuk memikirkan jalan keluarnya.

Erik sendiri adalah mahasiswa asal Afrika Selatan yang baru saja menyelesaikan studi magisternya di bidang ekonomi di Novosibirsk, Russia. Erik mau pulang ke Afrika Selatan. Selain studinya telah usai, dia sudah tak sanggup menahan dingin di wilayah Novosibirsk sana.

Tak lama juga dialog itu. Memang begitulah perjalanan. Sesering itu saya bertemu orang baru di terminal, di stasiun kereta, di underground metro, di dalam bus atau mungkin saja di pinggir jalan dan obrolan pun mengalir.

Tak lama berdiskusi, saya dan Erik segera berpisah. Dia melanjutkan perjalanan ke Cape Town, sedangkan saya menunggu beberapa jam lagi untuk perjalanan ke tanah air. Tapi “Criminal Saints”, terminologi yang dia gunakan untuk menyebut “para koruptor yang beramal” terus mengganggu akal sehat saya. Koruptor-koruptor memang pandai mengelabui kesadaran publik. Setelah menggelapkan uang rakyat, mereka muncul di tempat-tempat ibadah dan dengan begitu santunnya menunjukkan amal, memberi sumbangan ini itu. “Begitu sederhana kita menjadi orang baik sambil memelihara kejahatan lain,” katanya.

Erik benar. Pilihan menjadi orang baik, bahkan menjadi orang kudus sekalipun, kadang dilihat sebagai perjuangan seumur hidup membungkus kejahatan, kelemahan atau sisi gelap dalam diri sendiri. Sebab tak satupun manusia di dunia ini hidup dan mati tanpa dosa. “Criminal Saints” memang sedang mewarnai hari-hari hidup kita. Toh itu tak berarti tak ada orang baik di luar sana. Sebab ada keyakinan, setiap orang dilahirkan baik adanya. Masyarakat dan lingkunganlah yang menodai manusia yang terlahir mulanya “bersih”.

Kami berpisah di Abu Dhabi. Erik sudah terbang ke Afrika Selatan. Saya pun sudah di seat Etihad Airways yang siap terbang ke Jakarta. Di dalam pesawat, saya duduk di samping seorang pria berbadan tinggi. Berkulit gelap. Saat memasuki pesawat, dia menenteng gitar di tangan kiri dan ransel di tangan kanan. Dalam hati saya bergumam, “Rupanya orang ini musisi.” Ehhh tak dinyana, dia malah mengisi seat di samping saya.

Karena tak cukup banyak tidur malam, saya begitu mudah menutup mata dan nyenyak. Saat pesawat sudah di ketinggian puluhan ribu kaki, saya terjaga, membuka mata, mengeluarkan headset dan coba menikmati musik. Tutup mata lagi. Susah memang kalau tidur di pesawat. Tak lama kemudian pramugari-pramugarinan ayu itu mendekat dan membagikan sarapan sesuai permintaan penumpang. Saya minta “Ayam balado” dan kopi dengan sedikit gula. Begitu halnya si pria berkulit gelap tadi. Acara sarapan pun dimulai.

Sebelumnya, pria di sampingku ini menutup mata, membuat tanda salib dan berdoa begitu khusyuk. Saya pun segera membuat tanda salib dan berdoa. Melihat ke arah saya sambil menikmati makanan, pria ini membuka percakapan.

“Adik dari mana?”

“Dari Moscow ke Jakarta.”

“Maksud saya asalnya dari mana?”

“Ohhh saya orang Timor.”

“Ahhh ternyata adik ini orang Timor.”

“Adik bikin apa saja di Moscow?”

“Jalan-jalan saja.”

“Sudah lama di sana?”

“Sudah dua tahun.”

“Kok jalan-jalannya sampai dua tahun?”

“Iya sambil belajar Bahasa Russia yang ruwet.”

“Wahhh tapi…”

“Tapi itulah jalan-jalan. Hehehe, dua tahun tidak terasa.”

“Ehhh maksud saya di Moscow kamu tinggal di mana? Selain belajar Bahasa kamu bikin apa? Memangnya 24 jam belajar Bahasa?”

“Hehehehe, kami tinggal di Gereja sama teman-teman.”

Pria ini terkejut mendengar kata Gereja.

“Ahhhh di Gereja? Kamu……??? Kamu itu ya……????”

“Iya benar. Benar sekali saya itu…..”

“Wahhh saya juga itu dia…..”

Di situlah letak “tanda salib” yang juga tanda pengenal. Tanda yang menunjuk pada iman, pada kesamaan dan juga persekutuan.

Pria itu lalu memperkenalkan diri sebagai seorang padre dari Ambon. Dia baru pulang dari Eropa, berziarah ke tempat-tempat suci di Prancis, Spanyol, Italia dan Portugal bersama rombongan dari Jakarta dan Surabaya. Kami mengakhiri sarapan, membuat tanda salib lagi dan bercerita lebih jauh. Dia mengenal baik beberapa teman kami yang berkarya di Ambon. Tapi yang paling utama adalah dia sungguh bahagia, menikmati perjalanan ke beberapa negara di Eropa.

“Kita perlu bahagia. Makanya saya selalu bawa gitar. Selain bernyanyi untuk diri sendiri, kita juga perlu menghibur dan membahagiakan orang lain. Begitulah hidup adik,” katanya diikuti senyum lebar.

“Sekarang saya paham kenapa abang bawa gitar. Abang tahu?”

“Apa coba…”

“Abang kan orang Ambon, hehehe”

“Haha…begitulah Ambon. Kalau tidak bernyanyi, itu bukan Ambon.” Si padre ini pun menambahkan, “Adik, di negeri mana saja di planet ini, jika ada orang Ambon, di situ ada kemerduan. Di situ hidup terasa lebih nikmat. Sebab Ambon selalu manis.”

Sampai di situ saya cuma tersenyum. Sebab segala yang terkatakan tak selamanya terpahami. Lalu saya begitu saja mengantuk. Tertidur tanpa pamit. Mungkin karena saya amat lelah. Perjalanan ini menguras energi.

Saat terbangun, saya lihat si padre sudah melengkung, terlelap dan sesekali mendengkur. Mungkin dia sedang bermimpi, menyanyikan lagu-lagu Ambon yang syahdu. Dalam hati, “Ehhh betapa saya sedikit tidak santun. Tidur begitu saja tanpa pamit pada si padre yang usianya menjelang senja ini.” Beginilah hidup, “Sekalipun kamu pernah tinggal di negara lain, kamu tetap Timor”.

* * *

Di Wekeke, di Timor yang gersang, di keluh ibu-ibu yang merindukan air bersih untuk anak-anak, di situ hidup terasa sungguh tak adil. Minggu lalu saya menikmati segala kemewahan di Moscow, minum kopi di Abu Dhabi, naik pesawat dan turun di Jakarta, ketemu orang baru serta diundang ke tempat-tempat yang sungguh papan atas. Tapi hari ini bersama sahabat-sahabat dan sanak-kerabatku di Wekeke kami dilanda berbagai krisis. Itulah hidup. “Sekalipun kamu pernah tinggal di negara lain, kamu tetap Timor”. Atau Pramoedya Ananta Toer dengan sinis tingkat tinggi pernah bilang, “Kowé kira, kalo sudah pake pakean Eropa, bersama orang Eropa, bisa sedikit bicara Belanda lantas jadi Eropa? Tetap monyet!

Komentar