Otomotif

Mobil Perdesaan Butuh Aturan

Kamis, 16 March 2017 03:11 WIB Penulis: Ant/S-2

ANTARA/Aguk Sudarmojo

KONSEP dan peta jalan pengembangan mobil perdesaan tengah dimatangkan jajaran kementerian terkait, terutama Kementerian Perindustrian lewat kerja sama dengan Institut Otomotif Indonesia (IOI).

Namun, peraturan pengembangan mobil perdesaan tersebut belum jelas.

Karena itu, IOI mengharapkan ketentuan pengembangan mobil perdesaan berupa peraturan presiden (perpres) agar menjadi program nasional dan mendapat dukungan semua pihak terkait.

"Kami telah bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi), menjelaskan mobil perdesaan ini pada 5 Januari 2017," kata Presiden IOI, I Made Dana Tangkas, di sela-sela pembukaan Expo Industri Kreatif Mobil dan Motor Seni, di Denpasar, Bali, Kamis (9/3).

Dana mengutarakan IOI serius menggarap konsep mobil khusus perdesaan itu.

Hal itu dinilainya penting karena pengembangan mobil perdesaan sangat strategis, tidak hanya bagi penguatan industri otomotif nasional serta industri pendukung seperti komponen, tetapi juga untuk mendukung pemerataan ekonomi di desa-desa.

"Mobil perdesaan ini dikembangkan untuk mendukung pengembangan ekonomi di desa yang berbasis pertanian, peternakan, dan lain-lain," katanya.

Mobil yang dirancang berkapasitas mesin di bawah 1.000 cc dengan torsi yang besar akan menjadi alat angkut komoditas yang efisien untuk membantu para petani.

Selain itu, lanjut dia, teknologi mobil perdesaan yang sederhana akan membuka kesempatan pengembangan bengkel-bengkel di desa yang bisa menyerap tenaga kerja terutama dari SMK.

"Potensi mobil perdesaan ini sangat besar karena ada sekitar 47 ribu desa di Indonesia," ujar Dana.

Saat ini Kemenperin yang bekerja sama dengan IOI tengah mengembangkan prototipe baru mobil perdesaan, salah satunya dengan ajang lomba desain mobil perdesaan yang diikuti sejumlah perguruan tinggi.

Ada lima nominator dari lomba desain mobil desa itu, antara lain Institut Teknologi Sepuluh November(ITS), Universitas Diponegoro, Universitas Telkom, dan Universitas Negeri Semarang.

"Kami targetkan setidaknya Agustus 2017 sudah ada prototipe ke-3 mobil perdesaan," kata Dana Tangkas.

Karena itu, ia berharap ada konsorsium pengusaha nasional yang mengembangkan dan memproduksi mobil tersebut.

Di sisi lain, Dirjen Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan kelak produksi kendaraan perdesaan itu bisa dilakukan siapa saja yang memenuhi persyaratan.

Dalam menanggapi pertanyaan apakah pemegang merek (prinsipal) mobil dunia yang sudah menanamkan investasi di Indonesia dibolehkan atau dilarang ikut pengembangan mobil perdesaan, Suryawirawan mengatakan,

"Jangan buat aturan mengenai larangan-larangan, nanti kalau yang dilarang marah, repot kita."

Komentar