Surat Dari Seberang

Di VokzalYaroslavsky - Moscow

Rabu, 15 March 2017 09:00 WIB Penulis: Milto Seran dari Moscow, Rusia

Stasiun Kereta Yaroslavsky, Moscow---Foto: Milto Seran

Jenis ini seperti Sabda Tuhan,
“Hanya bisa diusir dengan doa dan matiraga.”__

Di dalam kereta dari Yaroslavsky ke Moscow, seorang penumpang dengan susah payah berjuang memahami Bahasa Russia. Saat memasuki kereta, dia bicara dalam Bahasa Inggris. Bertanya pada orang-orang tentang kompartemen dan seat yang segera diisinya. Tapi tak satupun menjawab. Dia berbalik kepada petugas, tapi petugas malah bicara tentang hal lain, memintanya segera duduk di tempatnya sesuai tiket di tangan. Dia menunduk merenungi dua koper yang berat. Sesekali dia bicara sendirian. “So very tired!” Di wajahnya tampak jelas. Dia begitu letih.

Susah benar kalau kamu di negeri asing dan tak seorangpun memahamimu. Pemuda itu bertanya lagi tentang di mana dia bisa meletakkan dua kopernya yang besar dan berat ditambah lagi satu tas. Petugas memintanya untuk duduk. Barang-barang bawaan sendiri sudah berat, dia malah dibebani lagi masalah bahasa. Petugas di kereta terus bicara dalam Bahasa Russia yang sama sekali tidak dipahaminya.

Sangat kebetulan di dalam kereta hari itu saya duduk berhadapan dengannya. Saat dia hendak mengamankan kedua koper yang berat itu, saya bertanya,apa dia butuh bantuan. Dia bilang, “Tidak. Tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja.” Dia duduk, lalu bertanya tentang asalku dan sudah berapa lama saya tinggal di Moscow.

“Apakah kamu orang India? Sudah berapa lama kamu tinggal di sini di Moscow?”

“Saya orang Indonesia. Baru tiga bulan saya pindah ke Moscow. Tapi sudah tiga tahun saya tinggal di Russia.”

“Ohh Indonesia.Kamu belajar di Universitas?”

“Dua tahun belajar bahasa dan sedikit sastra Russia di Universitas. Tapi sekarang saya tinggal dengan teman-teman di Gereja.”

“Di Gereja?”

“Iya di Gereja.”

“Saya suka baca Kitab Suci.”

Diam sejenak sambil melepas jacket di badan, dia menambahkan,“Ayat Kitab Suci yang paling berkesan adalah ayat yang demikian, Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.

Saya tersenyum saat dia melanjutkan, “Jika semua orang di dunia ini berpikir seperti itu, dan melakukannya, sungguh kita hidup dalam damai. Omong-omong kamu di Indonesia punya bahasa sendiri?”

“Iya Bahasa Nasional kami - Bahasa Indonesia. Tapi kamu tahu, Indonesia terdiri dari 17.000 pulau. Di hampir setiap pulau orang bicara dalam bahasa-bahasa daerah dan suku mereka masing-masing. Ehhh tapi kamu bicara dalam bahasa apa saja?”

“Bahasa Italia, Bahasa Prancis, Bahasa Jerman, Bahasa Inggris, Bahasa Arab tentu saja, dan Bahasa Ibu, Bahasa Armenia.”

“Tidak terlalu mengherankan. Belum lama ini saya menghadiri World Youth Day di Krakow. Di sana saya bertemu banyak orang muda dari berbagai negara. Salah satunya Annie Manukyan dari Yerevan, Armenia. Dia menguasai beberapa bahasa asing. Di antaranya Russia, Polandia, Inggris, dan Bahasa Armenia. Kamu orang Armenia sepertinya terlahir sebagai polygot.”

Pemuda Lebanon berdarah Armenia ini tersenyum dan “terima kasih,” imbuhnya, “Syukur kamu bicara Bahasa Inggris, teman, sehingga kita bisa bercerita di sini.”

Tak banyak bercerita, pemuda yang letih ini memperkenalkan diri lebih lanjut sambil menyodorkan kartu nama. Dia berasal dari Lebanon. Namanya Armen A. Arabian. Dia menetap di Lebanon dan mengurus perusahaannya di bidang fashion di Arakaz Street di Beirut. Pagi tadi dia tiba di Moscow untuk pertama kali. Kami lalu bercerita tentang Lebanon, juga tentang Armenia, negeri kelahirannya. Kami sama-sama menyinggung Gibran.

“Kahlil Gibran sangat terkenal. Sewaktu di SMA saya membaca Sayap-sayap Patah, Senyum dan Air Mata, juga Surat-surat Gibran kepada May Ziade. Waktu itu di antara teman-teman SMA, Gibran sangat dikagumi. Sampai-sampai hampir setiap siswa menyimpan satu judul karya Gibran.”

“Benar Gibran sangat dikenal luas. Tapi saya lebih suka karyanya Sang Nabi.”

Pemuda Lebanon ini kelelahan. Dia merebahkan diri di tempat tidur dan segera nyenyak. Saya memilih tidak tidur, sebab perjalanan ini sangat singkat. Jarak Yaroslavl – Moscow cuma 281 km.

Antara Stasiun Kereta Kazansky dan Yaroslavsky, Moscow---Foto: Milto Seran

Hari itu 1 Maret 2017. Hari Rabu Abu, awal masa puasa untuk semua orang Katolik. Pertemuan dengan Armen yang datang dari Lebanon memicu ingatan saya tentang Gibran hingga surat-surat cintanya kepada May Ziade. Kemudian saya teringat satu kisah inspiratif dari Gibran tentang pencuri buah melon. Kisah yang sangat singkat. Diberinya judul “Pertobatan”.

On a moonless night, a man entered into his neighbour's garden and stole the largest melon he could find and brought it home.He opened it and found it still unripe.Then behold a marvel!The man's conscience woke and smote him with remorse; and he repented having stolen the melon.

Pertobatan bermula dari terang kesadaran. Pertobatan dimulai dari hal ikhwal menyesali segala yang menyesatkan yang telah terjadi, dan kita ingin kembali pada kehidupan yang normal. Sebab kita tahu biar hidup tak berkecukupan, tindakan yang normal lebih membahagiakan daripada bergelimang harta, tapi itu tak halal.

Dengan ditandai Abu pada dahi, hari ini kami memulai masa puasa, jalan pulang menuju KEBAIKAN abadi. “Jalan pulang” kepada sesuatu yang baik, sesuatu yang memberi kenyamanan. Entah tempat, entah situasi, entah rumah, entah kekasih.

Saat turun dari kereta, saya membantu Armen membawa salah satu kopernya. Hujan membasahi Moscow. Orang-orang di stasiun kereta selalu padat. Armen menyampaikan terima kasih dan kami berpisah di situ. Dia berpesan,

“Jangan lupa kontak saya ya. Kamu sudah punya nomor telepon dan alamat saya. Mungkin saja kita bertemu lagi. Saya masih dua minggu lagi di Moscow.”

“Baik, sahabat. Take good care!Semoga kita bertemu lagi.”

Hari sudah senja. Saya ingin ngopi. Hujan turun lagi. Orang-orang di jalan mengeluarkan payung dan melindungi diri dari gerimis. Syukur, jacket musim dingin saya anti air. Meski diguyur hujan, rasanya tetap nyaman, tetap hangat. Saya lalu memasuki kafe, karena mau ngopi sambil bercerita dengan orang-orang di dekat saya.

Di sini kopi dan musik bertemu, lalu muncullah ingatan tentang rumah-rumah penduduk yang atapnya masih menanggung beban salju. Dalam perjalanan pulang ke Moscow tadi, rumah-rumah itu kabur di balik kabut tebal yang sudah turun. Saat kereta melaju menuju Moscow, rupanya karena dingin masih menggamit, hampir-hampir tak kelihatan orang di jalan-jalan. Seakan kampung-kampung itu tak berpenghuni.

Setelah ngopi saya berjalan ke sudut tempat orang-orang merokok. Di situ beberapa pria mengelilingi semacam asbak rokok berukuran besar. Mereka menikmati rokok masing-masing.Saya pun mengambil sebungkus rokok dari ransel hitamku dan mengeluarkan satu batang.

Dingin masih sengit. Jalan dan lorong-lorong basah. Di beberapa titik ada genangan air. Rasanya perlu menghangatkan diri. Di sudut itu saya mulai membakar rokok, mengisapnya, mencoba melawan dingin.

Tiba-tiba ada tanya untukku, “Ehhh apakah kamu merokok?”

“Iya…tapi sebenarnya sudah lima tahun saya tidak merokok.”

“Saya justru sebaliknya. Sudah lima tahun merokok.”

“Omong-omong kamu dari mana?”

“Saya? Orang Marocco. Sudah dua tahun belajar di fakultas kedokteran.”

“Oh begitu. Tapi sudah lima tahun kamu merokok.”

“Iya sudah lima tahun. Saya selesaikan pendidikan menengah di Paris. Sejak itu saya merokok.”

“Oh… kamu pernah tinggal di Paris.Hebat! Tapi kamu ‘kan mahasiswi di fakultas kedokteran. Harusnya kamu tahu risiko merokok.”

“Iya. Umur saya 18. Masih belia. Saya mau berhenti merokok.”

“Oh My... Kamu sudah merokok saat usiamu 13 tahun.”

Gadis perokok dari Marocco ingin melepas rokok. Tapi hujan dan dingin sungguh terlalu. Kenapa keduanya begitu saja jadi alasan merokok? Mungkin rokok adalah ilham di bawah langit nan suram.

“Sebaiknya kita selesaikan sebatang lagi,” katanya begitu enteng.

Asap mengepul,berlalu dihembus angin. Itulah Black Menthol yang kubawa dari tanah air. Itulah rokok pertama yang kubakar di Moscow di antara Vokzal Kazansky dan Yaroslavsky. Itulah 2017, setelah lima tahun tak merokok. Dan itulah Timor di Moscow. “Makan memang, bung. Lu mati son bawa apa-apa aaa...”Jenis ini seperti Sabda Tuhan, “Hanya bisa diusir dengan doa dan matiraga.”

Komentar