Kesehatan

Rawat Luka Kronis Hindari Amputasi

Rabu, 15 March 2017 07:00 WIB Penulis: Eni Kartinah

Thinkstock

LUKA yang berlangsung berbulan-bulan, bahkan menahun, tentu menurunkan kualitas hidup penderita. Tidak hanya menimbulkan nyeri fisik, luka kronis juga menyebabkan gangguan psike, termasuk depresi, baik karena berkurangnya produktivitas maupun minder ketika luka menimbulkan penampilan dan aroma yang tak elok. Terlebih bila luka tersebut sampai pada kondisi yang mengharuskan penderita menjalani amputasi untuk mencegah meluasnya infeksi. Seperti yang kerap terjadi pada kasus kaki diabetik (luka kronis pada kaki penderita diabetes). Tentu hal itu menjadi dilema. "Sejatinya, dengan penanganan yang benar sedari awal, kondisi tersebut dapat dihindari," ujar Prof Gregory Schultz, pendiri Institute for Wound Research, di University of Florida, Amerika. Ia hadir di Jakarta sebagai pembicara pada seminar kedokteran Indonesia Wound Summit 2.0, Surviving the Shidt From Volume to Value of Wound Care Quality yang diselenggarakan PT Kalbe Farma, Tbk, Sabtu (11/3).

Ia menjelaskan luka kronis perlu penanganan khusus. Pada luka kronis umumnya terdapat lapisan biofilm, serupa selaput tipis transparan yang terbentuk dari koloni berbagai jenis bakteri. Penggunaan antibiotik biasa tidak akan mampu menembus lapisan biofilm tersebut. Hal itulah yang menyulitkan pengobatan luka kronis. Akibatnya, infeksi terus berlanjut dan bertambah parah. "Diperlukan perawatan yang benar, mencakup pemakaian modern dressing (pembalut luka modern). Sayangnya pengetahuan masyarakat dan tenaga medis akan hal ini masih minim. Hal ini tidak lepas dari pandangan luka bukan masalah serius. Permasalahan seperti ini terjadi hampir di seluruh dunia," ujarnya.

Amputasi, lanjut pakar biokimia itu, kerap kali tidak menyelesaikan masalah. Tercatat, angka kematian pasien kaki diabetik dalam lima tahun sesudah tindakan amputasi mencapai 47%, hampir setengahnya. Hal itu menunjukkan perawatan luka secara benar dan komprehensif semestinya menjadi prioritas. Pada kesempatan sama, dokter spesialis luka Adisaputra Ramadhinara mengungkapkan hal senada. Ia menyebut minimnya pengetahuan masyarakat kadang membuat mereka pasrah ketika dihadapkan pada 'keharusan' amputasi. "Mereka ikut saja apa kata dokter. Padahal, dengan perawatan luka modern amputasi kerap kali bisa dicegah," katanya. Ia menjelaskan saat ini tersedia beragam pilihan modern dressing atau pembalut luka modern. Pembalut tersebut memiliki kandungan antiseptik yang mampu mengatasi beragam kuman penyebab infeksi pada luka. "Sering kali antibiotik tidak bisa mengatasi luka kronis karena antibiotik dibuat spesifik untuk golongan bakteri tertentu. Padahal, pada kasus luka kronis umumnya terdapat lapisan biofilm yang terdiri atas beragam jenis bakteri. Diperlukan antiseptik yang bisa menyerang kumpulan beragam jenis bakteri itu melalui berbagai mekanisme," terang dokter yang tengah menjalani studi pascasarjana di bidang penyembuhan luka dan perbaikan jaringan di Cardiff University, Inggris, itu.

Penyembuhan luka, lanjut Adi, juga memerlukan lingkungan yang mendukung. Antara lain, kelembapan yang cukup, tidak berlebihan, tidak juga kekeringan. "Jaringan luka dan sekitarnya tidak boleh kering. Ini berbeda dengan cara penanganan luka cara lama. Nah, modern dressing dirancang untuk menjaga kelembapan agar cukup. Modern dressing juga bisa menyerap cairan berlebih," terangnya. Membalut luka kronis dengan kasa steril biasa tidak disarankan karena kasa dapat ditembus bakteri. "Berdasarkan penelitian, bakteri dapat menembus hingga 64 lapisan kasa. Jadi kalau mau pakai kasa harus 65 lapis. Tentu tidak efektif."

Kaki diabetik
Pada kesempatan itu, Adi juga menekankan pentingnya kerja tim dokter multidisiplin ilmu dalam menangani luka kronis. Kerap kali luka kronis terjadi sebagai komplikasi dari penyakit tertentu, misalnya, pada kasus kaki diabetik. "Penanganan kaki diabetik jelas memerlukan dokter ahli endokrinologi untuk pengelolaan kadar gula darahnya, dokter saraf untuk mengatasi gangguan neurologinya, lalu dokter bedah vaskular jika ada sumbatan pada pembuluh darah di kaki, juga nutrisionis karena penyembuhan luka juga memerlukan gizi bagus. Intinya, penanganan harus dilakukan secara terpadu agar hasilnya optimal," jelas Adi.

Terkait dengan kaki diabetik, ia mengingatkan 85% kasus kaki diabetik yang diamputasi berawal dari luka kecil sederhana yang tidak ditangani dengan benar. "Jadi, perawatan yang benar memang sangat penting. Jangan sepelekan luka, sekecil apa pun, terlebih luka pada kaki penderita diabetes," pesannya. Sementara itu, Marketing Director of PT Kalbe Farma Tbk, Johannes Suthya, mengatakan, pihaknya mengangkat topik perawatan luka pada seminar kedokteran tersebut untuk meningkatkan pengetahuan para dokter. "Di Indonesia, soal perawatan luka kerap terabaikan. Umumnya, teknik perawatan luka masih primitif. Diharapkan, kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para dokter dalam merawat luka," ujarnya pada seminar yang diikuti 150 dokter spesialis bedah serta spesialis ortopedi dan traumatologi itu. (H-2)

Komentar